Ansgarius

Sore itu Antra memandang langit yang berwarna merah yang dipadu dengan burung-burung beterbangan, membuat keindahan langit itu menjadi sempurna. Tapi suasana langit yang cerah itu tak sama dengan suasana hatinya yang sedang mendung. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, dan dia tahu persis apa itu. Tapi baginya tak ada gunanya menyesali apa yang terjadi di masa lalu, dia hanya bisa terus melanjutkan hidupnya saja, dengan membuat masa lalu sebagai pengalaman. Puas memandangi langit sore itu dia pergi mengunjungi restoran tempat dia biasa menikmati makan malam, maklum dia adalah seorang pemuda yang meraih kesuksesan di usia yang cukup muda, dua puluh lima tahu. Tapi kesuksesan itu tak diimbangi dengan kehidupan cintanya, kini saat usianya mendekati empat puluh tahun dia masih hidup sendiri. Sudah banyak teman-temannya yang menjodohkan dia, tapi semuanya, dengan sopan, ditolaknya. Dia selalu mengatakan bahwa dia ingin memantapkan karirnya dulu sebelum menikah. Tapi itu semua tentu hanya omong kosong. Karirnya sudah cukup, lebih dari cukup bahkan, untuk membina suatu rumah tangga.



Antra adalah orang tertutup yang tidak suka mengumbar rahasia pada orang lain, selain itu dia pintar menyimpan rahasia, karena itulah dia selalu menjadi tempat bagi teman-temannya mengatakan semua unek-unek mereka. Tapi Antra tidak mempunyai tempat untuk menyatakan semua yang tersimpan dalam hatinya. Apa yang sedang dialaminya, apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini tdiak ada yang mengetahuinya, dan dia pintar menyembunyikan semua itu. Dia adalah seorang aktor hebat yang mampu memainkan peran bahagia di saat dia sedang mengalami derita terburuk sekalipun. Walaupun dia adalah orang tertutup bukan berarti dia mempunyai sedikit teman, sebaliknya dia mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan, kalangan kelas tinggi maupun kelas bawah. Dia memang bukan orang yang senang berbicara, dia selalu merasa canggung mengobrol dengan orang lain, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya, tapi itu semua tertutupi dengan kelebihannya yang lain, salah satu kelebihan yang menjadikan dia mempunyai banyak teman.

Dia seorang pendengar yang baik, walaupun dia tidak suka membuka pembicaraan, orang yang berbicara dengannya pasti melihat sesuatu darinya yang selalu membuat mereka selalu merasa nyaman untuk berbicara panjang lebar. Dan bila itu terjadi Antra yang tertutup akan memainkan perannya sebagai seorang konsultan, yang selalu berbicara di saat yang tepat dan membuat lawan bicaranya semakin nyaman dengannya, bahkan sampai membuka rahasia. Itulah kelebihan Antra. Tapi dibalik semua itu dia mempunyai kelemahan, dia memang dengan mudah membuat orang lain nyaman, tapi dia sendiri tidak mempunyai tempat yang nyaman, kecuali dirinya sendiri, untuk membuka rahasia. Itulah kenapa banyak temannya, bahkan semuanya, tidak mengetahui siapa Antra sebenarnya.

Di dalam restoran Antra mulai memesan makanan seperti yang biasa dia pesan di hari-hari sebelumnya, dan itu tidak pernah membuatnya bosan. Setelah puas menikmati makanan itu Antra pergi ke suatu tempat dimana dia bisa menikmati suasana malam, suatu tempat yang bisa membangkitkan kenangan lama yang indah tapi menyakitkan. Mobilnya melaju dengan pelan, baginya tak ada gunanya tergesa-gesa. Sesampainya di taman itu dia duduk, dan matanya mulai mengembara ke berbagi sudut taman itu berharap akan menemukan sesuatu yang dia cari. “Semua ini sia-sia,” pikirnya, “aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Lagipula pertemuan itu hanya kebetulan saja.”

Di taman itu dia hanya duduk, udara dingin yang menusuk tak dapat mengganggunya. Di taman itu, lima tahun yang lalu, Antra bertemu dengan seorang wanita cantik berwajah sendu, tapi wajahnya yang sendu itu membuatnya terlihat makin cantik.

“Maaf, bolehkah saya duduk di sini?”

Antra yang sedang melamun terkejut dan tanpa berkata apa-apa dia menyilakan wanita itu duduk. Wanita itu mempunyai wajah sendu yang sama dengan wanita yang ditemuinya lima tahun yang lalu, hanya memang dia tidak secantik wanita yang ditemuinya lima tahun lalu, tapi Antra tahu wanita ini mempunyai daya pikat lain yang membuat setiap pria bisa bertekuk lutut kepadanya. Seperti biasa Antra tak berani membuka suatu pembicaraan, dia hanya menunggu wanita itu yang memulainya. Antra takut bila ia mengajak wanita itu bicara dia hanya akan mengusik perenungan wanita itu. Antra menunggu wanita itu cukup dengan perenungannya dan memulai berbicara dengannya, Antra yakin akan hal itu. Dia sudah sering mengalami hal seperti ini, termasuk dengan wanita lima tahun yang lalu.

Setelah cukup lama diam, akhirnya wanita itu berpaling kepadanya dan mulai mengajaknya bicara, ”udara malam ini dingin, ya?”

Dan kini Antra memainkan perannya. “Ya, begitulah.”

“Manusia memang aneh, tidak pernah puas akan sesuatu, dan selalu mengeluhkan sesuatu. Setiap panas menyengat, mereka mengeluh. Saat dingin pun sama.”

“Itu memang sifat dasar manusia yang tak terbantahkan. Tapi saya yakin manusia yang mampu berpikir jernih akan menganggap panas, dingin, atau hujan sama saja. Semua ada manfaatnya, tidak bagi diri sendiri tapi bagi orang lain.”

“Ya, anda benar. Tapi jarang ada orang seperti itu, anda termasuk orang yang langka bila anda berpikir seperti itu.”

“Ya, bila anda mengatakan itu saya serasa menjadi orang tua yang sudah mengalami banyak pengalaman tentang kehidupan.”

Wanita berwajah sendu itu tersenyum kecil, “Setiap orang yang melihat anda tak akan pernah menganggap anda tua.”

“Ya, karena saya memang masih muda,” balas Antra dengan sedikit tersenyum.

“Nama saya Rina,” wanita itu mengenalkan dirinya.

“Antra,” jawabnya sembari mengulurkan tangannya.

“Sedang apa anda di sini? Apakah istri anda tidak mencari anda?” tanya wanita itu.

“Saya suka ke tempat ini, menikmati malam gelap ditemani sang bulan. Lagipula saya belum mempunyai istri, entah kenapa saya lebih suka hidup sendiri.”

“Yah memang lebih baik hidup sendiri daripada hidup berkeluarga tetapi sama sekali tidak bisa memahami satu sama lain,” kata wanita itu, saat mengatakan hal itu wajahnya terlihat sedih.

“Maaf kalau saya berlaku lancang, apakah ada yang mengganggu pikiran anda?”

“Tak apa, memang setiap orang yang melihat saya pasti akan berpikiran sama seperti anda,” kata wanita itu. “Mungkin saya bisa bercerita kepada anda, saya tahu anda adalah orang baik. Saya tak tahu harus bercerita kepada siapa, saya bukan orang yang mempunyai banyak teman. Setelah saya melihat anda saya tahu anda adalah orang yang tepat untuk mengeluarkan semua hal yang sudah saya alami. Dan saya akan tenang mengakhiri semua ini. Saya harap anda tidak keberatan.”

“Silakan, saya sama sekali tidak keberatan. Yah, tidak baik bagi seseorang memendam sesuatu selamanya. Saya akan membantu semampu saya,” kata Antra yang lupa bahwa dia sendiri adalah seseorang yang selalu memendam semuanya sendirian.

“Anda memang orang baik. Dan entah kenapa saya merasa nyaman duduk di sini dan berbicara dengan anda, padahal saya bukan orang yang mudah bergaul dan berbicara panjang lebar dengan seseorang apalagi orang yang baru saya kenal.”
Antra hanya mengangguk, mengerti.

“Saya seorang single parent, suami saya meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan saya dan anak semata wayang kami yang masih berusia lima tahun. Sepeninggal suami saya, saya bekerja untuk menghidupi keluarga saya. Saya terlalu mencintai suami saya, banyak pria yang melamar saya tapi semua saya tolak. Cukup anak saya yang menjadi kebahagiaan saya, hati saya serasa sudah beku untuk menerima pria lain menggantikan suami saya. Tapi kelihatannya saya memang harus mengalami takdir yang sangat buruk, satu minggu yang lalu anak saya meninggal karena penyakit, dan kini saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Semua yang membuat saya bahagia dan menikmati kehidupan sudah tidak ada. Mungkin saya hanya bisa menyusul mereka dan berbahagia bersama mereka di alam sana. Saya merasa hidup saya di dunia ini sudah tak ada berguna.” Wanita itu terdiam setelah menceritakan hal yang mengganjal hatinya. Seakan setelah mengatakan ini dia sudah siap mengakhiri hidupnya.

Antra diam sebentar, hal ini sama dengan apa yang dialaminya lima tahun yang lalu, pertemuannya dengan wanita cantik berwajah sendu yang merasa hidupnya sudah tak berarti karena dia menjadi korban kebejatan beberapa pemuda yang memperkosanya bergiliran. Antra sendiri tak tahu apakah wanita lima tahun lalu itu masih hidup atau tidak. Antra sudah berusaha sebaik mungkin waktu itu, dan keputusan akhir tetap barada di tangan wanita itu sendiri. Dan kini dia menghadapi wanita cantik berwajah sendu lain dengan problema yang berbeda. Memang dalam kehidupan manusia, terdapat berbagai macam masalah.

“Anda cantik dan masih muda,” kata Antra dengan lembut, “saya tahu cinta anda yang dalam kepada suami dan anak anda adalah suatu bukti kesetiaan anda yang luar biasa. Mungkin anda berpikir bahwa kehidupan anda sekarang tidak ada gunanya, saya tak akan mengatakan apakah suami dan anak anda senang apabila anda mengakhiri hidup anda sekarang. Tidak, saya tak mengatakan demikian. Saya hanya akan mencoba mengajak anda berpikir ke depan, jauh ke depan. Lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan lima puluh tahun mendatang. Saya adalah orang yang mempercayai takdir, seperti pertemuan kita sekarang, bagi saya ini merupakan takdir. Tapi saya tidak percaya bahwa orang bunuh diri adalah takdir, bunuh diri adalah keinginan orang itu sendiri, yang bagi saya malah merusak lingkaran takdir. Pernahkah anda berpikir lima tahun yang akan datang anda sebenarnya bisa menyelamatkan nyawa seorang anak kecil yang akan tenggelam di pantai, tapi karena anda sudah mengakhiri hidup anda sekarang, rencana besar yang sudah disusun oleh Yang Maha Kuasa untuk setiap pemeran dalam panggung yang besar ini berantakan. Mungkin anak itu tidak akan bisa terselamatkan, karena aktor yang seharusnya menolongnya tidak ada. Karena setiap pertemuan antar manusia adalah takdir yang sudah dirancang dengan begitu indah dan sempurna. Bunuh diri hanya akan membuat skenario yang sudah disusun berantakan.”

Setelah mengatakan itu Antra diam, membiarkan wanita itu berpikir. Antra tak bisa memaksa wanita itu untuk tidak melakukan hal konyol itu. Paksaan hanya akan menimbulkan kesan yang tidak mengenakkan. Dia lebih menyukai pendekatan yang lembut, membiarkan wanita itu berpikir ke depan.

“Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak. Tapi terima kasih anda sudah meluangkan waktu anda bagi saya.” Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya, berpamitan dengan Antra.

“Apakah anda tidak ingin mengetahui apa yang akan terjadi pada hidup anda esok? Saya selalu ingin mengetahuinya,” kata Antra sembari menyambut uluran tangan wanita itu dengan tersenyum.

Wanita itu tersenyum dan pergi meninggalkan Antra.

“Ah, satu lagi drama kehidupan manusia,” gumam Antra.

Ketika Antra bersiap meninggalkan taman itu terdengar suara wanita yang memanggilnya. Antra menoleh, dia melihat seorang wanita berlari ke arahnya dan langsung menjabat tangannya. Dari belakang wanita itu terlihat sosok pemuda tampan yang tersenyum sopan kepadanya dan Antra membalas senyuman itu.

“Ternyata anda masih senang menikmati malam ini, beruntung saya bisa bertemu anda lagi. Anda tentu masih ingat dengan saya, bukan?” tanya wanita itu.

“Tentu, saya tidak akan pernah melupakan setiap orang yang pernah saya temui,” balas Antra. “Bagaimana kabarmu sekarang, Gita?”

“Baik. Oh, kenalkan Andre tunangan saya, minggu depan kami akan menikah. Saya akan sangat bahagia bila anda mau hadir ke pesta pernikahan kami.”

“Tentu saya pasti datang, ini kartu nama saya,” kata Antra dengan memberikan kartu namanya.

“Saya pasti mengirimkan undangan pernikahan kami. Awas kalau tidak datang!” ancamnya dengan senyum menggoda. “Baiklah kami permisi dulu.”

Antra mengangguk. Samar-samar dia masih mendengar pria itu bertanya kepada wanita itu: “Siapa dia?”

“Malaikat penyelamat.”

Antra tersenyum dan meninggalkan taman itu.

Selengkapnya...

Ansgarius

Dapat aaward lagi padahal akhir-akhir ini jarang online tapi masih ada yang berbaik hati memberikan saya award untuk itu saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih bagi yang sudah memberikan award kepada saya.. Dan inilah awardnya


award yang saya dapat dari sastra radio:
award2



Award yang saya dapat dari rum@h_go3n:

award1

award yang saya dapat dari Sang cerpenis bercerita:

Photobucket

Photobucket

Sekali lagi terima kasih.. Saya tidak bisa berkata-kata lagi...

Selengkapnya...

Label: 6 komentar | edit post
Ansgarius

Photobucket


Darmono duduk di kursi rotannya. Dia kini hanya tinggal menunggu sang malaikat maut datang menjemputnya. sudah cukup lama dia tinggal di dunia ini. Dan dia sudah terlalu bosan. Istrinya sudah lama mendahuluinya apalagi teman-teman seperjuangannya, anaknya pun kini sudah menjadi Jendral besar di Angkatan Darat. Anaknya selalu mengajaknya untuk ikut tinggal bersamanya tapi Darmono menolak. Dia ingin tinggal di gubuk ini dan nantinya mati di gubuk ini pula. Gubuk ini penuh dengan kenangan, mulai dari menjadi markas gerilyawan, hidupnya yang penuh cinta bersama istrinya, hingga kelahiran anak satu-satunya. Dia tak mau meninggalkan atau merombak gubuk ini.


Gubuknya pun sama sekali tak teraliri aliran listrik. Dia tetap ingin mempertahankan gubuk ini seperti apa adanya, memang gubuk ini pernah ia tinggalkan sewaktu dia sudah mendapat kehidupan yang lebih layak. Tapi dia tak mau mengusik gubuk ini sedikit pun. Istri dan anaknya yang ingin menjual atau membuatnya lebih baik dia bentak-bentak.

“Tak tahukah kalian gubuk itu adalah sejarah! Gubuk itu adalah markas gerilyawan yang menjadi tumbal kemerdekaan, di gubuk itu semua kenangan tersimpan! Aku menikah denganmu dan merajut rumah tangga di gubuk itu. Kamu, Ri! Kamu lahir di sana. Tak pernah sedikit pun aku mau merombak apalagi menjual gubuk kenangan itu. Lebih baik menjual rumah ini dari pada gubuk itu. Suatu saat aku ingin menempati gubuk itu lagi dan mati di sana. Sama seperti rekan seperjuanganku yang dulu gugur dengan kebanggaan di gubuk itu.”

Dan bila Darmono sudah mengamuk seperti itu tak ada yang berani menentangnya. Sifatnya yang keras itu masih tersimpan dalam tubuhnya yang kini telah renta. Semenjak saat itu tak ada lagi yang berani membicarakan gubuk itu. Gubuk itu diserahkan kepada seseorang untuk merawatnya, tanpa boleh ada yang berubah. Bila ada yang berubah maka penjaga itu akan merasakan kemarahan sang veteran perang kemerdekaan.

Orang pasti akan mencibir bila melihat gubuk itu. Tapi para tetangga yang tahu benar siapa pemilik gubuk itu tak berani mencibir, bahkan para tetangga itu hormat dengan Darmono. Di usianya yang sudah sangat lanjut Darmono masih ikut meronda walaupun hanya sebentar. Orang-orang di sekitarnya sangat suka cerita tentang perjuangan yang terjadi di wilayah mereka itu. Darmono pun tak bersifat sombong, walaupun anaknya Jendral dia tak pernah menggunakan nama anaknya untuk membuatnya dihormati. Apalah artinya kehormatan? Dia pun menolak piagam yang diberikan atasnya oleh pemerintah. Dia melakukan perjuangan bukan untuk piagam atau uang tunjangan. Dia masih mampu membiayai hidupnya sendiri, dia berjuang untuk harga diri bangsa yang sudah lama diinjak-injak. Sama seperti rekan seperjuangannya yang mati dan tergeletak begitu saja tapi bangga dan bahagia, karena mereka mati dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Dia akan merekomendasikan teman seperjuangannya yang lebih membutuhkan uang itu.
Darmono berdiri, dia berjalan keluar menuju teras gubuknya. Lembayun senja menghiasi langit, menentramkan hati siapa saja yang melihatnya. Darmono kemudian duduk di lincak bambu. Lincak bambu itu bukanlah lincak bambu yang dulu, karena lincak bambu yang dulu sudah keropos dan memang perlu diganti, tapi Darmono tetap menggantinya dengan lincak bambu yang dibuat sangat mirip. Di lincak bambu itu seorang sahabatnya meninggal. Sampai sekarang dia masih ingat kata-kata terakhir sahabatnya. ‘Lanjutkan perjuangan!’

Darmono menunggu teman-temannya datang dan berbincang-bincang mengenai masa lalu. Ya, di gubuk itu para veteran perang berkumpul. Sejak Darmono menempati gubuk itu dia memanggil teman-temannya yang juga diberi umur panjang sama seperti dirinya. Satu per satu datanglah rekan-rekannya ke gubuk itu. Darmono berdiri dan menyalami mereka yang datang.

“Aneh ya, To! Kok bisa kita hidup sampai sekarang, apa saat ini kita menghadapi karma?” tanya Darmono kepada Karto.

“Hus, Dar, kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Gusti memberi kita umur panjang harusnya disyukuri kok malah dianggap sebagai karma,” jawab Karto.

“Iya, Dar. Harusnya kita mensyukuri hidup. Lagipula, Dar, bukannya juga sudah hidup enak. Kok seperti orang yang susah,” sahut Tomo.

“Kadang aku seperti merasa seperti kena karma. Aku harus melihat bangsa yang dulu di perjuangkan oleh teman-teman kita kini seolah kembali ke masa lalu. Apakah keadaan seperti ini to yang dulu kita harapkan?” tanya Darmono lagi.

“Kadang aku juga merasa seperti itu. Dulu bangsa kita dijajah jelas dan kasat mata oleh Belanda, Jepang. Tapi kini kelihatannya penjajahan itu tetap ada tapi seperti hantu, tidak nampak. Dulu Bung Karno, Bung Hatta, dr. Sutomo, dan cendikiawan lain berjuang karena melihat sesamanya, orang-orang bumiputera kelas rendah, yang dipaksa menjadi budak di negeri mereka sendiri. Mereka berjuang mengangkat harkat dan martabat bumiputera, kalau dipikir-pikir dulu bisa saja para cendikiawan itu berpikir, ‘biarlah saja apa urusan kita, yang penting hidup kita makmur.’ Tapi itu tak terjadi. Mereka ikhlas membela bangsa. Dan kini kulihat semangat itu sudah tak ada, banyak yang tek peduli lagi dengan sesama anak-anak ibu pertiwi.”

“Yah, itu benar, Mo. Kita pun sekarang tetap menjadi bangsa budak, hanya sekarang istilahnya ganti,” sahut Karto. “Dan saat ini harga diri kita diinjak-injak pun kita diam saja.”

“Yah, aku masih ingat dulu pernah ada kapal Amerika melewati perairan kita, dan dengan tegas Bung Karno mengusir dengan mengancam akan menghancurkan kapal itu bila tak keluar dari perairan kita. Akhirnya kapal Amerika itu pun pergi begitu saja. Aku dulu berpikir apakah kapal kita saat itu mampu? Haha.. ” tawa renyah keluar dari mantan pejuang itu.

“Tidak masalah mampu apa tidak yang penting kita kan menjaga wibawa. Lha wong, wilayah kita kok ada kapal perang masuk begitu saja. Kalaupun waktu itu kita perang lagi dan kalah tak masalah yang penting kan harga diri bangsa bisa kita pertahankan. Kita kan bukan bangsa pengecut.”

“Yah, itu dulu,” sahut Karto.

“Apakah sia-sia darah dan jasad teman-teman kita yang sudah menyatu dengan tanah ini?” tanya Darmono lagi.

“Tidak, Dar. Aku tak pernah berpikiran seperti itu lagi. Tapi dulu aku pernah berpikiran sama sepertimu. Apakah perjuanganku dan semua rekan sia-sia? Tapi setelah melihat tawa anak-anak sekolah dan gemuk-gemuknya mereka sekarang aku tak merasa perjuangan kita sia-sia. Bangsa ini masih memerlukan waktu untuk berkembang dan menyadari apa arti kemerdekaan sesungguhnya. Biarlah nantinya perjuangan kita dilupakan, karena bukankah kita memang masa lalu? Tapi setidaknya aku dapat melihat anak-anak itu tersenyum bahagia, aku sudah puas. Merekalah yang dulu kita perjuangkan.”

Kata-kata Tomo itu pun dibenarkan oleh mereka bertiga. Mungkin masa mereka memang sudah berakhir, tongkat estafet itu sudah diserahkan pada pelari selanjutnya. Kini mereka hanya bisa melihat bagaimana pelari-pelari setelah mereka berjuang. Apakah mereka akan teringgal atau menjadi yang terdepan, para pejuang itu hanya bisa memberi semangat dari belakang. Sadar tugasnya sudah selesai, hanya petuah yang bisa mereka berikan.

Gelap malam mulai datang, para pejuang itu kembali lagi ke gubuk-gubuk mereka. Apabila dulu mereka berharap bermimpi tentang kemerdekaan bila mereka tidur, kini mereka berharap bermimpi bangsa ini tetap berdaulat, jaya, dan menjadi bangsa yang mempunyai harga diri.

NB: fto ini saya lupa ambil dari mana bila saya tidak mencantumkan alamat link yang sudah pernah mengupload foto ini saya mohon maaf.

Selengkapnya...

Ansgarius

Wah senengnya ada yang kasih award ke blog saya yang masih baru ini.. Award ini saya dapat dari Bayu The Maniac. Thanks banget pokoknya deh.. Saya jadi semangat nge-Blog…

therachmat.blogspot.com
therachmat.blogspot.com



Script gambar award bisa diambil disini ...
Award ini gue kasih kepada :
1. http://ini-bisnis-koe.blogspot.com
2. http://buitenzblog.blogspot.com
3. http://coretange.blogspot.com
4. http://curahan-pena.blogspot.com
5. http://cerpenochan.blogspot.com
6. http://just-fatamorgana.blogspot.com

Karena sama seperti sang pembuat award yang membuat repot saya maka saya juga pengen buat yang nerima award ini repot, saya kasih PR ...
Nih dia PR nya ..
1. Posting award ini di blog kamu dan buat link dari siapa kamu menerima award ini.
2. Berikan award ini kepada teman-teman kamu. Kasih ke manusia aja. Jangan ke hewan atau tumbuhan. Catet tuh.
3. Jangan lupa koment ke sini sob dan bilang kalo saya itu orangnya baik banget mau bagi-bagi award. Hehe…
Selengkapnya...

Ansgarius

Langit hari ini benar-benar tak bersahabat, gelap tertutup awan hitam bercampur dengan kilat yang menyambar-nyambar disertai suara menggelegar bak meriam perang. Air yang turun dengan deras dan hawa dingin yang menusuk melengkapi suasana suram ini. Aku tak dapat merubah keinginan langit, seandainya aku bisa, aku akan membuat sore ini secerah mungkin. Melukisnya dengan warna merah yang indah dan burung-burung yang terbang bergerombol pulang ke sarangnya. Bila aku mampu aku akan membuat sore ini menjadi sempurna, karena hari ini aku akan bertemu dengan seseorang yang berharga bagiku. Seorang wanita yang sudah lama tak kutemui.

Sepeda motorku melaju menyusuri jalanan yang basah oleh hujan, menerabas tiang-tiang langit yang seolah berusaha menghalangiku. Tapi aku tak peduli, biarpun langit tak mengijinkan aku akan tetap menemuinya.

Di tempat itu, tempat kenangan itu, aku akan menemuinya. Saat aku masuki tempat itu kulihat dia sudah ada di sana, duduk di tempat yang dulu sering kami gunakan untuk berbagi cerita. Cerita yang sebenarnya lebih sering keluar dari bibirnya yang tipis dan merah. Bibir yang menggoda setiap kaum adam untuk melumatnya.


Tempat ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, tak banyak berubah. Hanya mungkin cat yang sekarang berubah menjadi lebih terang dibanding dulu. Warung makan yang tak terlalu mewah tapi bersih, luas dan rapi yang berada tepat di samping SMA kami dulu. Apakah bibi warung ini masih ingat denganku? Mungkin ingat, mungkin tidak, tapi itu bukan hal yang penting bagiku. Bagiku yang penting sekarang adalah menemui wanitaku yang sudah lama kurindukan.

Aku tersenyum kepadanya saat aku duduk di depannya, dia membalas senyumanku. Senyum yang sama seperti dulu, tapi entah kenapa ada yang hilang dari senyum itu.

“Maaf, sudah lama?” kataku membuka pembicaraan.

“Baru, maaf aku memanggilmu secara mendadak.”

“Tak apa. Aku malah senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapan ini jujur dari hatiku, tanpa maksud berbasa-basi.

“Kau masih saja baik, Antra,” katanya sembari tersenyum, senyum yang hampa.

“Dan kau masih saja cantik, Kirana,” godaku.

Kirana memang masih terlihat cantik, rambut panjangnya yang indah masih terpelihara dengan baik, hanya dibalik wajah cantiknya sekarang tersimpan kesedihan.

“Aku mau minta tolong, Antra. Dan aku tidak tahu siapa lagi yang harus kumintai tolong selain kamu.”

“Minta tolong apa?” tanyaku heran.

“Maaf, aku tak bisa menceritakan padamu sekarang,” ucapnya sembari menundukan wajah.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Kirana? Kata ibumu kau pergi dari rumah tanpa kabar sejak dua tahun yang lalu. Lalu kau tinggal dimana sekarang? Apakah kau sekarang sudah menikah?” Entah kenapa pertanyaan yang selama ini meraung-raung di otakku kini terlontar begitu saja dari mulutku tanpa bisa terkontrol.

Kulihat Kirana tersenyum, senyuman yang sama. “Tidak Antra aku belum menikah.”

“Lalu kenapa kau pergi dari rumahmu bagitu saja? Orang tuamu cemas, Kirana. Pulanglah.”

“Aku tak bisa, Antra. Aku tak mampu menghadapi orang tuaku. Aku ingin menanggung beban ini sendiri.”

“Beban? Beban apa, Kirana?” Segala pikiran buruk memenuhi otakku tapi aku tak mampu mengucapkannya. Kepalaku terasa pening dan bibirku beku. Dingin yang merasuk semakin menusuk sampai ke otakku.

“Tidak, Kirana. Kau tak boleh menanggung beban itu sendirian. Aku..aku bisa mendampingimu. Aku mencintaimu, sejak dulu aku mencintaimu. Pulanglah bersamaku.” Aku tak percaya aku bisa mengucapkan kata-kata keramat itu. Sejak dulu aku tak pernah bisa mengucapkan kata-kata itu, tapi kata-kata itu kini terlontar begitu saja dari mulutku.

Kirana tersenyum melihatku, kali ini senyum itu sama seperti senyumnya dulu. Senyum yang membuatnya menjadi seperti bidadari. “Maaf, Antra, aku tak bisa.”
Kami diam sebentar sebelum akhirnya dia melanjutkan kata-katanya lagi, “Aku menyukaimu, Antra, tapi aku tak pantas untukmu. Aku bukan Kirana yang dulu lagi. Aku sudah cela.”

“Tidak, Kirana. Kau tidak bercela sedikitpun bagiku. Bagiku kau masih Kirana yang dulu.”

“Kau baik, Antra. Dan pria sebaik kau pantas mendapat wanita yang lebih baik dariku.”
“Tapi aku tak mau wanita lain.”

“Terima kasih atas perhatianmu, Antra,” sahutnya, “aku tahu kau jujur mengatakan itu, tapi sekarang aku hanya mau kau menolongku. Dan berjanjilah kau tak akan menolak permintaanku padamu.”

“Tapi…”

“Antra.”

Aku diam, mataku memandang lekat mata Kirana yang indah. Mata itu akhirnya meluluhkan hatiku, “baiklah. Aku berjanji.” Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari mulutku.

Lagi-lagi senyuman itu tersungging dari bibir Kirana. Senyuman bidadari yang membuatku jatuh cinta kepadanya. “Aku tahu kau selalu menepati janjimu.”

Percakapan kami tak berlangsung lama. Setelah itu kami berpisah, dia tak mau kuantar pulang. Dia memberikan kecupan salam perpisahan di pipiku dan berjalan menjauh. Dan aku hanya mampu memandangnya berjalan dalam rintikan hujan yang masih saja turun.

**************

Sudah dua bulan sejak saat itu, kupikir Kirana hanya memberi ujian padaku. apakah aku tetap menerima dan membantunya walaupun aku tahu kejadian yang telah menimpanya. Tapi untuk apa dia melakukan itu? Aku masih terbayang-bayang wajahnya dan kenangan lama kami waktu masih duduk di bangku SMA. Tiba-tiba bel pintu membuyarkan semua lamunanku, dengan langkah gontai aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ketika aku membuka pintu tampak seorang wanita tua membawa seorang bayi dan tas bayi.

“Apakah tuan Antra Samudra tinggal di sini?” tanya wanita itu, dan otakku mulai berpikir, apakah aku mengenal wanita ini? Seingatku tidak.

“Ya, saya sendiri. Maaf anda siapa dan ada keperluan apa?”

“Saya disuruh mengantar bayi ini kepada anda,” kata wanita itu.

Tanpa berpikir apa-apa aku menerima bayi itu dan tasnya, sepertinya hatiku yang mengerakkanku menerima bayi ini. Entah kenapa.

“Dan ini suratnya,” kata wanita itu sembari menyerahkan surat itu kepadaku. Kubaca surat itu. Kepada Antra yang baik. Dari Kirana Candrasasi.

“Dimana wanita ini?” kataku.

“Dia berpesan supaya saya tak memberitahukan kepada tuan, dia bilang harap tuan mengerti.”

Kemudian aku memberi wanita itu tip yang cukup besar. Setelah dia pergi aku mulai masuk menidurkan bayi itu di tempat tidurku. Kupandang wajah tak berdosa bayi itu yang masih tertidur lelap. Dengan sedikit berdebar aku membuka surat yang dikirimkan Kirana untukku. Tulisannya tidak berubah sama sekali.

Antra yang baik, aku tahu kau akan heran kenapa ada seseorang mengirim bayi ini kepadamu. Bayi ini adalah anakku, anak hasil hubunganku dengan pria itu. Mungkin aku harus menceritakan kepadamu, aku mengenal seorang pria dua tahun lalu dan terbuai semua keindahan yang dia miliki, yang membuatku melakukan tindakan bodoh tanpa berpikir panjang. Mungkin, bila dulu kau dan aku tak berpisah aku tak akan seperti ini.

Antra yang baik, aku menagih janjimu dan aku tahu kau akan menepati janjimu, kau memang orang yang tak pernah ingkar janji, karena itulah aku tak khawatir memintamu merawat anakku. Antra yang baik rawatlah anakku seperti anakmu sendiri, aku tahu hal ini pasti akan merepotkanmu, tapi aku tahu kau sudah terbiasa dengan anak kecil. Apakah kau masih sering berkunjung ke panti asuhan? Tentulah kau masih. Aku tahu kau begitu menyukai anak kecil, aku masih ingat ketika kau mengajakku ke panti asuhan kau mengatakan bahwa anak-anak kecil itu seperti Adam dan Hawa yang masih murni dan tak mempunyai dosa. Mereka begitu polos dan menyenangkan, karena alasan itulah aku memintamu mengasuh anakku. Bukan keinginannku untuk membuangnya, aku sendiri tak tega harus berpisah dengannya, bagaimanapun juga dia adalah darah dagingku. Tapi aku harus pergi jauh, tak bisa kupingkiri hati ini sakit. Aku munafik bila aku mengatakan aku tak apa. Aku hanya ingin pergi jauh meninggalkan tempat ini, menghilangkan semua kesedihan dan aku tak bisa membawa anakku tercinta bersamaku.

Antra yang baik. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk merawat anak ini. Aku yakin anak ini akan menjadi anak yang baik bila kau rawat. Semoga dia tidak menjadi pria dewasa yang suka mempermainkan hati wanita seperti ayahnya, tapi seperti kau yang selalu tahu perasaan wanita dan menghormati wanita.
Antra, bila anak ini sudah dewasa jangan mengatakan apapun tentang orang tua kandungnya, karanglah cerita tentang orangtuanya. Aku tak mau dia nantinya akan menanggung malu atas dosa yang telah diperbuat orang tuanya, yang tak ada sangkut pautnya dengan anak ini.

Sekali lagi maafkan aku Antra, aku tak bisa hidup bersamamu. Aku tak pantas untuk orang sebaik kau, aku kotor dan kau bersih. Antra yang baik, aku mohon dengan sangat rawatlah anak ini, anggaplah anakmu sendiri. Dan bila nanti kau menikah katakanlah pada istrimu bahwa anak ini adalah anak angkat, anak dari saudaramu yang meninggal atau tak mampu membiayai hidup anak ini.

Satu pesanku Antra yang baik, carilah pendamping hidup dan kau akan merasa lebih baik. Aku yakin wanita di luar menunngu pria sepertimu yang mempunyai kesetiaan dan rasa menyayangi yang mereka idam-idamkan. Menikahlah.

Dari lubuk hatiku yang terdalam aku berterima kasih padamu Antra. Aku tak tahu harus dengan apa aku membalas kebaikanmu. Semoga Tuhan Yang Maha Tahu memberimu pahala yang berlimpah di surga. Selamat tinggal Antra, jaga dirimu baik-baik.


Salam sayang,


Kirana Candrasasi

Kirana, aku selalu menepati janjiku. Aku akan merawat anakmu seperti anakku sendiri. Tapi aku tak bisa tak menceritakanmu pada anak ini, suatu saat akan kuceritakan betapa cantik ibunya, betapa baik, dan betapa tegarnya dia. Dan mungkin aku sulit menerima nasihatmu untuk menikah, aku akan mencurahkan seluruh hidupku untuk anak ini. Anak dari seseorang yang aku cintai, yang telah memenuhi setiap ruang di hatiku, yang membuat aku tak bisa mencintai wanita lain. Kirana bila itu keputusanmu, aku akan menghargainya. Dan kuharap kau tak berbuat bodoh yang kedua kalinya. Semoga kau hanya pergi untuk menenangkan dan menata kembali hatimu yang hancur. Dan saat kita bertemu kembali, kau akan bangga melihat betapa hebatnya putramu dan putramu pun akan bangga melihat betapa cantik dan baik ibunya. Kami akan selalu menunggumu, Kirana. Menunggu kau benar-benar pulih. Semoga kau tak berbuat hal bodoh.


Surakarta, 29 Mei 2009

Selengkapnya...

Ansgarius

Kira, dimana kau sekarang? Aku sudah lelah mencarimu. Kira dimana kau? Apakah begitu marah kau padaku, hingga kau tak mau lagi bertemu denganku ? Kira aku rindu kepadamu, setiap detik wajahmu selalu datang menghantui pikiranku, oh Kira dimana kau? Kira.. Kira…

Akhirnya kini aku benar-benar lepas darimu Antra, walaupun otakku masih saja mengingat wajahmu yang bagaikan malaikat, tapi hatiku selalu mengingatkan kelakuanmu yang bagai iblis…

Kira aku sudah mencarimu dimana-mana, sudah kukorbankan segala milikku hanya untuk mencarimu Kira, maukah kau kembali ke sisiku lagi? Aku selalu ingin bersamamu Kira, hanya kaulah wanita yang sempurna di mataku, tak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu Kira, tak ada! Tidak seorang pun! Oh Kira kembalilah kepadaku….


Antra selama ini aku sudah cukup bersabar dengan perlakuanmu, aku selalu berharap kau bisa mengubah kelakuanmu, tapi harapan itu hanya menjadi harapan kosong semata. Antra maaf aku tak bisa kembali lagi ke sisimu…

Oh Kira apa salahku sehingga kau meninggalkanku? Apakah yang telah kuperbuat sehingga kau pergi jauh dari sisiku? Berapa jauh lagi sampai aku bisa menemukanmu? Setiap jalan yang kulalui aku meneriakkan namamu, setiap orang yang kutemui kuperlihatkan fotomu. Tapi apa hasilnya? Nol besar! Kau masih tak kutemukan Kira. Kira kenapa kau menyiksaku seperti ini? Apakah masih kurang perhatianku kepadamu? Apakah kurang rasa cintaku? Oh Kira.. Apa kau pernah melihatku berselingkuh dengan wanita lain? Apakah kau meragukan cintaku? Kira jangan sekali-kali meragukan kesetiaanku padamu. Tak ada satupun wanita di dunia ini yang seperti dirimu Kira. Kau wanita cantik dan penyabar, sosok wanita yang selalu kuimpikan, sosok wanita yang mirip dengan almarhumah ibuku. Oh Kira…

Antra dulu aku mencintaimu hingga kini pun aku masih mencintaimu, tapi aku harus pergi dari sisimu. Aku cinta padamu tapi aku takut pada sifat iblismu. Maafkan aku, Antra…

Kira berapa lama lagi aku harus menunggumu? Aku sudah rindu padamu, wanita yang ada di sini tak ada yang sebanding denganmu, kaulah yang terbaik, Kira….

Antra kau tahu aku tak bisa lagi di sisimu, aku tahu kau begitu setia padaku, tak pernah kuragukan kesetiaanmu padaku, Antra. Tapi aku benar-benar tak sanggup hidup bersamamu walaupun aku mencintaimu. Antra kuharap kau tak mencariku…

Kira malam datang. Kau tahu aku selalu benci malam, aku selalu benci kegelapan. Seterang apapun bintang dan bulan, seterang apapun lampu jalan yang menerangi malam, bagiku malam selalu gelap dan menakutkan, Kira. Kira aku menggigil ketakutan, kemarilah Kira, dekap aku. Aku takut Kira.

Antra, malam datang, aku tak tahu bagaimana keadaanmu di sana. Aku tahu kau takut dengan malam, tapi aku berbeda denganmu Antra, aku selalu menyukai malam. Bulan dan bintang yang bertebaran di langit seakan menjadi suatu petunjuk akan sesuatu harapan, bahwa segelap apapun langit masih ada cahaya yang menerangi, bahkan menjadi petunjuk arah. Begitu juga bagi manusia, segelap apapun keadaan manusia pasti ada seseorang yang akan menerangi dan kadang memberikan jalan keluar segala masalah yang menjadikan manusia gelap. Kau adalah gelap itu, Antra. Kau adalah malam, walaupun kau tak pernah menyukai malam. Tapi aku bukan bintang dan bulan yang bisa menerangimu, kau tertutup awan hitam yang selalu enggan memancarkan sinar sang bintang. Kau adalah malam yang pekat, Antra.

Kira, kakiku sudah lelah melangkah mencarimu. Berapa jauh lagi aku harus melangkah Kira? Kira sekarang aku kembali ke tempat kita bertemu dulu, tapi kau tak ada juga di sini. Kemana lagi aku harus mencarimu, Kira? Kira tak ingatkah kau akan masa indah kita dulu? Kita seperti sepasang merpati yang selalu setia dengan pasangannya. Kau selalu membacakan puisi-puisi yang indah untukku, Kira dan aku selalu memberikan kecupan manis setelah kau selesai membacakan puisi untukku. Kira tak ingatkah kau masa-masa itu?

Antra aku selalu ingat sosokmu saat kita masih muda. Waktu itu aku selalu menganggap kau adalah malaikat yang turun ke bumi. Kau begitu misterius, dan selalu menyembunyikan masa lalumu. Seakan kau benar-benar malaikat yang terbuang ke bumi, yang tak mau menceritakan kenapa Tuhan mengirimmu ke bumi, aku selalu berpikir apakah Tuhan memang begitu Maha Agung yang mengetahui bahwa hambanya ini membutuhkan cinta sehingga dia mengirim malaikat untukku. Tapi aku salah. Kau memang malaikat, tapi malaikat yang terbuang dari surga karena mempunyai sifat yang menakutkan di balik wajah yang rupawan. Malaikat terbuang yang mempunyai dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Apakah kepribadianmu yang menarik dan menyenangkan hanya untuk menjebak korbanmu saja?

Masih ingatkah saat kau memimpikan rumah idaman kita yang kelak akan diisi dengan anak-anak kita, Kira? Kita membangun rumah ini persis dengan impianmu bukan, Kira? Bukankah ini rumah yang selalu kau idam-idamkan, Kira? Tapi kenapa kau tak betah tinggal di rumah idamanmu ini? Kenapa kau pergi?

Antra kau membangun rumah yang indah untukku, untuk keluarga kita nantinya. Rumah yang kau buat sama dengan impian kita saat kita masih muda. Rumah yang tidak terlalu besar dengan pekarangan yang luas, yang berisi dengan pohon dan buah, supaya kita bisa dengan mudah menikmati buah-buahan yang segar hasil kerja keras kita. Oh Antra rumah itu sangat indah. Tapi aku tak bisa tinggal di rumah itu denganmu. Kau telah membuat rumah itu mencekam dengan adanya dirimu yang lain di rumah itu. Antra seandainya sosok iblismu tak ada dalam dirimu, aku yakin kita akan hidup bahagia di rumah itu, Antra. Aku yakin…

Kira aku melangkah menuju rumah kita, berharap kau ada di rumah, menantiku dengan senyuman, pelukan, dan ciuman yang hangat dari bibirmu yang merah.

Maafkan aku Antra aku akan pergi jauh dan aku tak sempat berpamitan kepadamu. Bagaimanapun kau adalah pria yang kucintai, sampai sekarang pun aku tak bisa lepas dari sosok malaikatmu. Antra aku rindu padamu, tapi aku tak bisa lagi bertemu denganmu. Hatiku masih menolakmu. Tapi hati ini juga sakit bila memikirkanmu. Selamat tinggal Antra…

“Dokter pasien di kamar 18 bunuh diri.”
“Siapa? Kalau begitu lekas hubungi keluarganya!”
“Kirana, Dok. Setahu saya dia tak punya keluarga lain selain suaminya yang entah berada di mana, dok.”
“Ah, si cantik Kirana. Baiklah, urus saja pemakamannya.”

Kiraaaa….. Aku berteriak di rumah kita kau tak menjawab. Kucari kemanapun di setiap sudut rumah kita, kau tak kutemukan juga, Kira. Dimana sebenarnya kau? Kenapa tega kau meninggalkanku sendirian di sini. Di rumah yang kubangun untukmu. Kira tak kau hargaikah kerja kerasku selama ini? Kubangun rumah ini untukmu, tapi, kau tak ada di sini. Percuma Kira, percuma. Seindah apapun rumah ini, semegah apapun rumah ini semuanya hampa tanpa kehadiranmu, Kira. Bukan kau yang menjadi pelengkap rumah ini, Kira. Tapi, rumah inilah yang menjadi pelengkap keindahanmu. Kira kembalilah!

“Dokter, ada pasien baru.”
“Siapa? Gila karena apalagi? Ah, di negeri ini memang sudah terlalu banyak orang gila! Bisa-bisa dokter yang mengurusi orang gila nanti juga gila!”
“Namanya Antra, dok! Di jalan dia memukuli wanita tanpa alasan. Para tetangganya yang membawanya kemari, dok.”
“Lalu keluarganya?”
“Tidak Tahu, dok. Kata tetangganya dia hanya mempunyai seorang istri yang tidak pernah keluar rumah, sehingga para tetangga pun tak tahu siapa istrinya, dok.”
“Baiklah coba suruh orang atau polisi periksa rumahnya. Jangan-jangan istrinya dia bunuh di rumah. Orang gila sekarang memang beraneka ragam.”
“Baik, dok!”

Kira mereka membawaku ke tempat yang sama sekali asing bagiku. Aku diberi pakaian putih-putih. Kira semua orang yang berada di tempat ini aneh, mereka berlaku sesuka hati mereka. Mereka semua berbicara tak karuan. Oh Kira kemarilah, selamatkan aku dari tempat ini. Kira aku kesepian. Aku takut berada di tempat ini. Setiap hari mereka memberiku obat yang tak kutahu untuk apa itu. Kira, mereka tak mengijinkan aku keluar dari tempat ini untuk bertemu denganmu. Mereka bilang kau ada di sini, jadi aku tak perlu mencrimu kemana-mana lagi. Benarkah yang mereka kataka, Kira? Benarkah kau berada di sini? Kalau benar mengapa kita berada di sini? Apakah mereka juga memaksamu? Oh, Kira aku kesepian.

“Dokter, pasien yang baru masuk memukul setiap wanita yang ada di rumah sakit.”
“Ah, pasien baru itu memang punya kecenderungan melakukan tindakan kekerasan. Segera masukkan ke kamar yang baru saja ditinggalkan si cantik Kirana.”

Kira.. Ternyata kau benar-benar berada di sini, ternyata apa yang mereka katakan benar. Sudah lama aku mencarimu, aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu, Kira. Oh, Kira kemarilah datang padaku. Mari kemarilah, aku akan menceritakan padamu masa lalu yang selalu kusembunyikan, yang tak pernah kukatakan pada siapapun, kini akan kuceritakan padamu. Karena kau, Kira, wanita yang paling kucintai di dunia ini. Kemarilah, Kira duduklah di sebelahku.

Kira, kau tahu, ibuku adalah wanita yang cantik, sangat cantik. Seperti kau Kira, ya seperti kau. Sifatnya pun mirip denganmu, baik, selalu melindungiku dan menemaniku kemanapun aku pergi. Setiap aku ingin tidur, ibu bersenandung untukku, mencium keningku dan mengucapkan selamat malam untukku. Kira tak ada wanita lain secantik dan sebaik ibuku seumur hidupku, sampai aku menemukanmu. aku selalu merasa kau adalah ibuku yang turun lagi ke bumi untuk menemaniku. Kau tahu Kira, dulu ayahku adalah orang yang sangat jahat. Dia suka sekali memukulku, dan ibulah yang selalu membelaku, hingga ibu pun sering mendapat pukulan dari ayahku. Kira, ibuku meninggal di pangkuanku, dengan senyuman yang indah dari bibirnya yang merah karena darah. Oh, Kira saat itulah ibuku terlihat sangat cantik di mataku, di mata seorang anak yang berumur sembilan tahun. Ayahku, Kira, bersedih ketika melihat ibuku. Itulah pertama kali aku melihat ayahku menangis. Ayahku menangis dan ia menjatuhkan pemukul baseball yang digunakan memukul ibuku, kemudian Kira, ayah mengambil tubuh ibu dari pangkuanku. Tentu aku tak mau melaepaskan ibuku, aku tak mau ibuku direbut dari pangkuanku, tapi ayah tak peduli, dia mendorongku, mengangkat tubuh ibu, dan menguburkannya di halaman belakang. Setelah itu ayah pergi Kira, pergi jauh meninggalkanku sendiri. Aku tak menangis, Kira, tidak! Aku kuat, itulah yang selalu ibu katakan kepadaku, Kira. Aku tak pernah menangis ketika ayah memukulku, dan ibu bangga padaku karena itu. Kira, ibuku baik bukan?
Kenapa kau diam saja, Kira? Oh kau memang pendengar yang baik Kira. Kau selalu mendengarkan keluh kesahku. Setelah itu Kira, aku tinggal bersama bibiku. Kira dia seperti ayahku, dia suka memukulku. Pikirku semua wanita seperti ibuku, Kira, ternyata tidak. Tentu saja, kecuali kau Kira, hanya kau wanita yang mirip ibuku.
Ah, kenapa Kira? Kenapa aku selalu memukulimu? Kenapa aku melakukan tindakan yang sama seperti ayah dan bibiku? Kapan, Kira? Kapan? Aku tak ingat pernah memukulmu. Ah, aku tahu,Kira, itu pasti bukan aku. Itu pasti ayahku, aku tak pernah memukul seorang wanita, Kira. Akhirnya aku tahu dimana ayah pergi, dia tidak pergi kemana-mana. Ayah tak pergi jauh, dia berda di dlaam diriku, menyiksamu sama seperti ketika ayah menyiksa ibu. Oh, Kira maaafkan aku, kau tahu aku tak akan pernah memukulmu. Percayalah itu bukan aku, Kira. Percayakah kau padaku, Kira? Tentu saja kau pasti percaya padaku, Kira.
Apa, Kira? Kau ingin aku ikut kau? Kemana Kira? Ke tempat yang indah? Aku bisa bertemu ibuku di sana? Tentu, tentu aku mau Kira. Asalkan aku bisa bersamamu dan ibu aku mau. Baik Kira, tunggu aku Kira. Oh, Kira bahagianya aku bisa bertemu denganmu lagi, Kira. Kau tahu Kira hanya kau dan ibuku lah wanita yang paling kucintai di dunia ini. Aku akan senang bisa bersama denganmu selamanya…

“Dokter, pasien baru itu juga bunuh diri!”
“Pasien baru yang mana? Rumah Sakit ini penuh dengan orang jiwa baru, yang mana?”
“Itu, dok, pasien yang suka memukuli wanita, yang baru saja di pindah ke kamar 18.”
“Kamar itu lagi? Siapa namanya?”
“Antra, dok.”
“Oh, ya. Antra. Lalu bagaimana tentang penyeldikan di rumahnya? Apakah mereka menemukan istrinya di sana?”
“Mmm.. itu anu, dok.”
“Anu apa? Kalau bicara yang jelas!”
“Istrinya tidak ditemukan di rumahnya, dok.”
“Lalu maksud kamu dia sudah minggat dari rumah itu? Ya wajar kalau suaminya seperti itu.”
“Istrinya dulu pasien sini, dok.”
“Ha? Istrinya orang gila? Wah klop, orang gila menikah dengan orang gila. Lalu siapa istrinya? Memang sekarang dia sudah waras? Kok pakai kata-kata dulu.”
“Iya dok, dulu. Sekarang dia sudah meninggal. Istrinya dulu kemari atas inisiatif sendiri dan minta kamar khusus dan akhirnya bunuh diri di kamar itu, dok. Di kamar 18. Sama seperti kamar yang diempati pasien itu.”
“Ah, si cantik yang malang. Kirana.”

Selengkapnya...

Ansgarius

Aku merasa kacau hari ini, pikiranku mampet, ide-ide tak keluar dari otakku, aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Berjalan tanpa tahu arah yang kutuju, hanya mengikuti kemana kakiku akan melangkah. Aku keluar dari halaman rumahku menuju jalan raya yang sama sekali tak ramah, berjalan melewati pengemis yang meminta-minta belas kasihan orang lain dengan wajah memelas. Ah, itu hanya pura-pura, pikirku. Memang sekarang mengemis menjadi lahan pekerjaan yang menggiurkan, kita tidak perlu bersusah payah berusaha, hanya meminta belas kasihan orang dan bakat akting, dan kalau perlu luka palsu, bisa mendapat seratus ribu per harinya. Menggiurkan, bukan? Resikonya hanya bermandikan panas sang surya yang kian hari kian angkuh memperlihatkan kekuatannya. Para pengemis itu, bisa jadi di kampung halamannya adalah orang kaya dengan rumah mewah dari hasil mengemis di kota besar ini, membuat para tetangganya iri, dan ikut-ikutan seperti pendahulunya yang sudah sukses di kota. Mengemis, dan jadilah kampung halaman itu kampung pengemis. Bisa jadi.


Aku melewati pengemis itu tanpa memberikan sepeser uang pun padanya. Aku naik ke atas jembatan penyeberangan dimana banyak pengemis mencari penghasilan di situ, kuacuhkan mereka. Aku berhenti di jembatan penyeberangan, tak kugubris setiap pengemis yang memohon belas kasihan kepadaku. Dari jembatan penyeberangan ini aku melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi seolah menantang langit, dimana orang berdasi berduyun-duyun masuk ke gedung itu, bekerja dengan otak. Berbeda dengan para pekerja lapangan yang bekerja dengan otot, sangat berbeda pula dengan pengemis yang mengandalkan tampang memelas mereka. Siapa yang lebih baik? Aku tidak bisa menentukan. Jalanan penuh dengan mobil mewah, dan sepeda motor, membuat kemacetan bukan lagi menjadi sesuatu yang spektakuler, tak perlu penanganan khusus, kemacetan hal yang lumrah dari kota yang mempunyai banyak penduduk. Di jalanan yang sudah tergilas roda berbagai macam kendaraan itu tampak pula petugas kebersihan sibuk menyapu, membersihkan jalan dari sampah yang dibuang seenaknya oleh para pengguna jalan. Mungkin, para petugas kebersihan itulah pekerja terbaik. Bekerja bukan hanya demi diri sendiri tapi juga demi orang lain, pekerjaan yang dianggap rendah tapi mulia.
Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah seberang jalan, di sana kulihat para pemulung menambang. Menambang sesuatu yang berharga. Bukan emas, bukan berlian, hanya sampah yang bisa didaur ulang. Mereka seringkali dianggap seperti orang kusta jaman dulu. Diasingkan. Tidak diijinkan memasuki suatu wilayah, komplek yang bertuliskan “PEMULUNG DILARANG MASUK.” Orang-orang komplek takut barang mereka akan dicuri para pemulung. Bukan salah pemulung mencuri barang-barang di rumah mewah, toh hanya sandal atau tanaman mahal, yang sekiranya bisa masuk ke dalam karung. Orang-orang kaya bisa mengeluarkan banyak uang untuk hal yang tak perlu, membeli tanaman berjuta-juta, sedangkan bagi pemulung? Bersyukur mereka bisa makan hari ini, tanpa perlu berpikir anak mereka bisa sekolah atau tidak. Yang penting bisa cari uang untuk makan, itu sudah cukup.
Benarkah menjadi manusia itu enak? Lebih enak dari binatang? Bukankah binatang tak perlu membayar untuk makan, tak perlu membayar untuk minum, tak perlu membayar untuk buang air. Binatang tak perlu mengeluarkan sepeser uang pun untuk membeli sesuatu yang tidak bisa mengenyangkan mereka. Para binatang tak perlu menjatuhkan harga diri mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka, apalagi menikam teman bahkan saudara. Kalau Manusia? Jangan tanya.
Kakiku masih belum merasa lelah untuk berjalan, aku meneruskan perjalanku. Iring-iringan mobil polisi dengan sirene yang menderu-deru menggusur setiap pengguna jalan yang lain. Orang besar mau lewat, orang kecil minggat! Pedagang besar mau pakai lahan, pedagang kecil buang! Siapa sekarang yang berkuasa di negeri ini? Dulu penjajah, sekarang? Perbudakan, kerja rodi, romusha sekarang pun masih ada hanya berganti nama saja, sedikit diperhalus. Aku berhenti sebentar hanya untuk melihat siapa orang besar yang akan lewat. Bukan untuk mengagumi, hanya kalau beruntung bisa menikmati wajah yang puas dengan kekuasaan di balik mobil mewah, dan kawalan polisi bertampang kejam, seakan siap menghajar siapapun yang menghalangi jalan si wajah puas dan berkuasa. Mereka tak peduli walau si penghambat adalah sopir becak yang sedang membawa istrinya ke bidan untuk kelahiran anak pertamanya. Ironi memang.
Sudah puas aku melihat iring-iringan itu, sayang aku tak bisa melihat wajah sang kuasa. Dia tertutup rapat di balik kaca hitam, mungkin terlalu malu akan dirinya sendiri sehingga tidak mau memperlihatkan mukanya di jalanan. Sang surya mulai condong ke arah barat, sinarnya mulai tertutup gedung-gedung tinggi. Sang surya merasa sudah puas membakar kulit manusia hari ini, tapi sang surya masih berbaik hati. Dia meninggalkan kenang-kenangan berupa langit yang berwarna kemerahan, warna yang indah. Manusia masih diberi kesempatan menyaksikan warna yang indah sebelum kegelapan menggantikan terang.
Aku melanjutkan perjalananku, aku masih ingin meneruskan perjalananku. Mencari inspirasi, mencari sesuatu yang hilang dalam diriku. Dadaku sesak ketika kegelapan bersiap-siap menguasai negeri ini, aku perlu berhenti. Kali ini aku lelah. Aku melihat taman kota yang indah di depan sana, aku memutuskan berjalan menuju ke taman kota itu. Aku tak tahu ada taman kota seindah ini di kota yang penuh dengan gedung tinggi ini. Ah, kapan taman ini dibangun? Benarkah pemerintah membangun taman ini? Kalau taman di sekitar apartemen mewah wajar, tapi di sini? Tak ada bangunan yang menghalangi. Semua penuh dengan pepohonan yang tinggi dan alami, taman bunga, air mancur dengan air yang keluar dari panah cinta malaikat cupid. Ah, indah sekali taman ini, kenapa aku baru tahu sekarang?
Aku duduk di bangku taman kota itu. Melihat sekeliling, banyak anak-anak bermain di taman pasir berusaha membentuk kastil, calon insinyur muda, kataku dalam hati. Di sisi lain nampak seorang pria kurus namun menggunakan pakaian yang sangat indah dengan wajah yang merona terang, kemudian wanita berpakaian sederhana yang membuatnya tampak bersahaja sedang melihat anaknya bermain pasir. Ah, indah sekali taman ini. Entah kenapa aku mulai membayangkan kehidupan masa laluku, suasana tempat ini seakan mengajakku kembali ke masa lalu. Waktu itu aku hanyalah penulis miskin yang hanya hidup dari tulisan yang tak pernah best seller. Aku tidak pintar berdagang, aku tidak menguasai manajemen, aku tidak tahu banyak tentang mesin, aku hanya bisa berimajinasi, karena itulah alasanku menjadi penulis lepas, hanya bisa berimajinasi. Menuangkan semua imajinasiku ke dalam tulisan dan menjualnya.
Saat aku membayangkan masa lalu seorang tua dengan pakaian yang sangat sederhana menghampiriku, dia duduk di sebelahku.
“Boleh saya duduk di sini?” katanya meminta ijin untuk duduk di sebelahku, dan kujawab hanya dengan anggukan kepala.
Kupandangi orang tua itu sebentar, wajahnya cerah dan bercahaya. Benar-benar orang tua yang kharismatik, sulit untuk menemukan seseorang seperti dia. Kulihat orang itu menerawang jauh, dengan kedua tangannya menggenggam erat tongkat pemandunya yang masih berdiri tegak di depannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum.
“Bagaimana kabarmu hari ini, anak muda?” tanya orang tua itu kepadaku.
“Baik, cuma sedikit lelah,” kataku yang langsung mengalihkan pandanganku ke orang-orang di sekelilingku lagi .
“Ah, ya. Itu terlihat dari wajahmu, anak muda. Indah bukan tempat ini?”
“Ya, saya baru tahu ada tempat seperti ini di kota,” kataku yang masih tetap tak melihat orang itu, masih mengagumi keindahan taman kota yang seperti surga.
“Yah, hanya sedikit orang yang tahu tempat ini,” jawabnya singkat.
“Sudah berapa lama taman ini dibangun?” tanyaku yang kini melihat kembali wajah terang dan menyejukkan siapapun yang melihatnya itu.
“Sudah lama.”
“Aneh. Kenapa saya sama sekali tak pernah tahu tempat ini.”
“Memang aneh, tapi tak seaneh dengan hidup yang kamu jalani. Semua yang menyangkut tentang kehidupan dan segala aspek yang ada di dalamnya itu aneh, bila kamu memikirkan dengan otak. Semua itu tidak akan menjadi aneh bila kau memikirkannya dengan hati. Otak terbatas kapasitasnya, tapi hati tak terbatas.”
Orang tua itu berkata sesuatu yang membuatku bingung. Tapi aku tak menyanggahnya, aku masih merasa sungkan.
“Bagaimana perasaan hatimu sekarang, anak muda?” tanyanya lagi.
“Biasa. Tidak ada yang istimewa.”
“Benarkah demikian? Raut mukamu tak mengatakan hal itu. Kamu tidak hanya kelelahan anak muda, kamu sepertinya mempunyai masalah berat. Ceritakanlah pada orang tua ini.”
Aku diam sebentar. Memang aku mempunyai banyak masalah hari ini, tapi siapa orang tua ini? Apakah dia bisa kupercaya? Aku baru saja kenal dia, tapi entah kenapa rasanya aku ingin menceritakan semua pengalaman hidupku kepadanya.
“Ya, anda benar. Saat ini saya tidak hanya lelah fisik, tapi juga pikiran. Terlalu banyak masalah yang menumpuk di pikiran saya.”
“Masalah seperti apa?” tanyanya seperti menginterogasiku.
“Saya merasa melupakan sesuatu, entah apa itu saya tidak tahu. Hidup saya sekarang sudah bahagia, saya sekarang sudah bisa membeli apapun yang saya miliki. Saya tak pernah kurang apapun, tapi saya selalu merasa saya melupakan sesuatu.”
“Benarkah, kamu sudah sangat bahagia?”
“Saya sangat bahagia, tidak tahukah anda? Apakah kebahagiaan saya tidak dapat anda lihat dari wajah saya?”
“Maaf, saya kurang bisa melihat kebahagiaan dari wajah seseorang. Saya hanya bisa melihat kebahagiaan dari hati seseorang, karena wajah bisa menipu sedang hati tidak.”
“Anda gila, mana bisa anda melihat hati saya. Perasaan dalam hati seseorang itu tak dapat ditebak.”
Orang itu hanya tersenyum kecil yang kuanggap sebagai senyum sinis.
“Kalau begitu saya tanya pada anda, apakah anda bahagia?” tanyaku balik.
“Saya bisa saja mengklaim demikian, tapi saya ingin mendengar pendapatmu terhadap saya. Nilailah saya, apakah saya bahagia atau tidak.”
Saya melihat orang itu secara menyeluruh, dari pakaiannya yang sama sekali jauh dari mewah, rambutnya pendek dan disisir kebelakang, dan wajahnya dengan senyum yang bisa menawan banyak wanita.
“Seperti kata anda tadi, wajah bisa menipu. Senyum anda saya tidak yakin adalah senyum yang tulus dari seorang yang bahagia. Melihat pakaian anda saya rasa anda selalu dalam keadaan susah.”
“Anak muda, kamu benar bila saya terlihat susah, bila melihat dari apa yang saya kenakan. Tapi apakah kamu bisa tahu suasana hati saya sekarang?”
“Bagaimana saya bisa menilai hati anda? Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu?” Orang tua ini aneh, tapi entah kenapa saya tidak bisa marah kepadanya.
“Benar katamu, anak muda, dalamnya hati siapa tahu. Bahkan kita sendiri pun tak tahu dalamnya hati kita sendiri. Kita selalu terlena dengan apa yang bisa menyenangkan jasmani kita, walaupun kesenangan itu bersifat semu. Kebahagiaan yang kita dapat membuat kita melupakan semuanya, orang-orang di sekitar kita, masa lalu kita, bahkan diri kia sendiri. Bukankah kamu juga demikian, anak muda?”
“Apa maksud anda. Anda pikir saya tak bahagia sepenuhnya?”
“Hanya kamu yang tahu.” Jawab orang tua itu singkat.
“Baiklah, saya akan bercerita siapa saya. Saya adalah orang yang sudah berkecukupan. Saya seorang penulis, saya bahagia menjadi penulis. Saya bisa mengatur kehidupan tokoh ciptaan saya sesuka hati. Saya bisa menjadi tuhan dengan mengatur kehidupan setiap tokoh, menggariskan takdir tokoh itu. Bila saya tidak suka seseorang, saya bisa membuat orang itu menjadi tokoh saya. Saya bisa membuat kehidupannya merana, mati dengan sangat sadis. Bila saya suka pada wanita, saya ciptakan tokoh yang mirip dengannya, saya bisa menjadi pemeran tokoh dalam tulisan saya sendiri, saya bisa mencumbu wanita itu habis-habisan. Bila saya tidak suka pada pemerintahan saya akan sindir habis-habisan dalam tulisan saya. Sekarang demokrasi, saya bisa bebas melukiskan apapun. Dan saya sangat bahagia apabila tulisan saya dijadikan film, saya bisa melihat tokoh ciptaan saya melalui layar kaca, seperti Tuhan melihat kehidupan yang diciptakannya. Saya benar-benar menjadi tuhan. Dulu saya penulis miskin, sekarang saya mempunyai segala-galanya. Tulisan saya laris manis di pasar, tulisan saya sekarang disukai banyak orang.” Aku diam sebentar melihatnya masih tersenyum, senyum yang benar-benar menghangatkan.
“Anak muda, memang kamu sekarang sukses, kamu bisa menggariskan takdir tokoh-tokohmu, tapi apakah kamu benar-benar bahagia? Bukankah tadi kamu mengatakan bahwa kamu merasa kehilangan sesuatu anak muda? Kamu kehilangan apa anak muda?”
Benar kata orang tua itu, aku merasa kehilangan sesuatu. Aku masih belum tahu kehilangan apa.
“Anak muda, apakah kamu sudah beristri? Kamu punya teman?”
Aku tahu sekarang. Aku kehilangan istriku, anak-anakku, dan teman-temanku.
“Saya tahu sekarang, saya kehilangan istri, anak, dan teman-teman saya,” kataku dengan menunduk, sama seperti anak kecil yang ketahuan bersalah oleh ayahnya.
“Kenapa kamu bisa kehilangan mereka?”
“Saya terlalu serakah, saya terlena seorang wanita muda yang ternyata hanya mengencani saya sebagai penulis terkenal. Bukan saya seutuhnya. Saya tega meninggalkan istri dan anak hanya karena wanita jalang. Kenapa saya bisa melupakan mereka?” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingat masa laluku yang hilang. Mereka yang sebenarnya kucari selama ini, bukan ide atau apapun. “Dulu mereka yang menjadi pemompa semangat saya, hingga saya menjadi terkenal. Saya juga meninggalkan teman-teman saya. Saya terlalu sibuk mengurusi tokoh saya, terbuai dalam imajinasi hingga melupakan kehidupan nyata. Bahagia karena bisa menjadi tuhan dalam kehidupan semu. Dari mereka sebenarnya ide saya tercipta, tapi saya melupakan mereka semua.”
Suara alam mulai memenuhi gendang telingaku, suara yang indah, suara yang menenangkan hati.
“Anak muda, hidupmu bukan untuk dirimu sendiri. Tuhan Sang Pencipta alam dan segala isinya tidak menciptakan manusia untuk dirinya sendiri. Tuhan mengirimkan manusia ke bumi untuk orang lain,” kata-kata orang tua itu semakin dalam menusuk. Membuatku merasa bersalah. ”Kamu salah bila kau merasa bisa menjadi tuhan. Tuhan menciptakan manusia sesuai citranya. Tuhan memang menggariskan takdir setiap manusia, tapi Tuhan tidak menciptakan manusia yang tidak bisa berkehendak sendiri. Apakah manusia akan menjalani takdirnya atau melenceng jauh dari takdir, manusia yang menentukan sendiri. Itulah alasan mengapa manusia mempunyai pikiran dan hati. Tuhan tidak pernah menggariskan manusia mati bunuh diri atau overdosis, itu adalah keinginan manusia itu sendiri. Tuhan tak pernah menggariskan manusia berbuat jahat dengan mencuri, memperkosa, atau membunuh, itu adalah buah pikiran mereka sendiri. Kau tentu tak bisa membuat hal seperti itu dalam tulisanmu, bukan? Kau hanya bisa membuat mereka bertindak sesuai kehendakmu, tapi Tuhan membuat ciptaannya mandiri. Sama seperti orang tua yang akan melepas anaknya ketika dia sudah dewasa. Apakah anak itu akan durhaka atau berbakti pada orang tuanya, anak itu sendiri yang menentukan. Tokohmu tak akan bisa berkehendak sendiri dan menentangmu, bukan? Kenapa kau bisa terlena dengan tokoh imajinasimu itu, hingga melupakan kehidupan nyatamu?”
Aku diam, menangis. Semua masa lalu berputar dalam ingatanku.
“Anda benar, anda membuka mata saya yang telah lama buta. Selama ini saya hanya manusia bodoh yang bergelut dengan imajinasi dan melupakan dunia nyata. Melupakan diri saya sendiri, melupakan orang terdekat saya. Oh, Tuhan, maafkan hambamu ini.”
Aku masih menangis, mengingat semua kebodohanku itu.
“Sudahlah anakku,” katanya, kemudian dia pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku masih tak beranjak dari taman itu, aku masih menangis ketika seorang anak kecil datang menghampiriku.
“Paman kenapa menangis?” tanya anak kecil itu dengan polosnya.
“Tidak apa-apa, dik. Lho kok sendirian mana ibumu?”
“Semua orang di taman ini saudaraku, paman juga saudaraku. Semua ibuku, semua ayahku, semua kakakku, semua adikku,” kata-katanya membuatku bingung. “Paman tidak boleh menangis, di tempat ini semua orang bahagia. Tidak ada yang sedih.”
“Ah, kamu benar. Paman tidak boleh menangis, paman akan memulai sesuatu yang baru. Kenapa adik malam-malam masih di sini? Nanti diculik, lho?” Anak kecil ini mengingatkanku pada anakku, yang hanya kuberi harta bukan cinta.
“Hihi..paman lucu, di taman ini tak ada siang, tak ada malam. Semua tergantung suasana hati paman. Paman bersedih taman ini akan menjadi gelap, paman senang taman ini akan terang benderang. Paman juga tak perlu takut. Tidak ada penjahat di taman ini, semua orang baik,” kata-kata anak ini semakin membuatku bingung, dan kulihat sekelilingku cahaya sudah memenuhi taman ini. Aneh, bukankah tadi masih malam, waktu aku berbicara dengan orang tua itu? Kenapa sekarang sudah siang kembali? Apakah aku berbicara terlalu lama?
“Aduh, dik, kelihatannya paman terlalu lama di sini. Paman harus pulang dulu.”
“Paman mau pulang? Pulang kemana? Di sini tempat paman yang baru.”
“Apa maksud adik?” Ini semua membuatku bingung, lalu selembar koran jatuh di bawah kakiku. Aku ambil koran itu, berita di koran itu mengatakan seorang penulis terkenal terkena serangan jantung. Warga segera membawanya ke rumah sakit. Penulis itu bernama Antra Samudra. Itu aku, aku masih sehat di sini kenapa dikabarkan terkena serangan jantung. Kubaca tanggal koran itu, 03 januari 2009, itu satu hari setelah aku pergi keluar rumah, dan pergi ke taman ini. Sebenarnya dimana aku sekarang? Aku merasa kepalaku berat, pusing, dan akhirnya tak sadarkan diri. Perlahan-lahan kesadaranku pulih, tapi semua putih. Mataku hanya bisa menangkap warna putih. Samar-samar aku mendengar tangisan, dan aku kenal suara-suara itu. Suara itu tak asing lagi bagiku, tapi kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku, kenapa ini? Dan kenapa sekarang semuanya serba putih? Sebenarnya dimana aku sekarang?

Surakarta, 5 Januari 2009


Selengkapnya...

Ansgarius

Setelah memacu mobilnya selama dua jam akhirnya dia sampai juga di tempat yang ia tuju. Yorke Ville. Yorke Ville adalah desa para peternak, khusunya sapi, karena memang Yorke Ville adalah padang rumput yang cukup subur. Aturan pemerintah mengenai wilayah harus mempunyai keunggulan absolute juga merupakan salah satu hal kenapa Yorke Ville mengkhusukan diri sebagai desa peternak sapi. Walaupun berlabel desa tapi kehidupan rakyat di Yorke Ville cukup makmur dengan fasilitas yang tak beda jauh dengan kota. Hanya bedanya di Yorke Ville rumah-rumah cukup sederhana paling tinggi hanya mempunyai dua lantai, dan pertokoan dibuat sesederhana mungkin. Walikota Yorke Ville pun telah membuat desa ini menjadi desa wisata di mana pada bulan tertentu, khusunya liburan sekolah, desa ini banyak dikunjungi untuk mengenal lebih jauh tentang alam dan ternak sapi. Hal ini cukup sukses dengan mulai banyaknya motel yang ada di Yorke Ville yang oleh walikota dipusatkan di daerah tertentu agar tidak terlalu mengganggu kegiatan para peternak dan secara otomatis menata ruang wilayah Yorke Ville menjadi lebih baik dan rapi.


Segera setelah sampai di Yorke Ville Antra langsung mencari motel yang dimaksudkanoleh informannya. White Cow. Setelah menemukan motel itu dia segera memarkir mobilnya di tempat parkir. Motel White Cow cukup luas dengan desain bergaya pedesaan asli. Di atas pintu masuk tampak gambar sapi yang sedang tersenyum dan tulisan selamat datang di atas gambar sapi itu.
Antra segera melangkah menuju meja resepsionis. Seorang Pria berjambang tebal dan berambut coklat dengan tatapan yang ramah menyunggingkan senyum sembari menawarkan kamar yang kosong untuknya.
“Kamar 24 kosong?” tanya Antra pada penjaga motel itu.
Kemudian sang penjaga membuka-buka buku tamu dan melihat apakah kamar yang dipesan Antra sudah mengisi. Setelah dia melihat tak ada yang mengisi Antra segera memesan kamar itu dan penjaga itu memberikan kunci kamar padanya.
“Berapa lama anda akan tinggal?” tanya sang penjaga yang sedang mencatat data-data Antra di buku tamunya.
“Aku tak tahu pasti,” jawab Antra. Saat Antra menjawab itu matanya melihat nama Arnie Bringham di kamar nomor 23. Kliennya.
“Kalau begitu nanti kami akan memberikan penagihan sewa kamar di saat anda akan meninggalkan motel ini. Sebagai jaminan anda diwajibkan membayar sejumlah uang sewa selama sebulan, yang nanti bila uang tersebut berlebih karena anda meninggalkan sebelum jangka waktu yang ditentukan uang anda akan kembalikan.”
Antra mengangguk kemudian membayar sejumlah uang yang diminta sang penjaga. Penjaga kemudian menyimpan uang tersebut beserta kartu identitas Antra dan meletakkannya di dalam box.
“Baiklah, selamat menikmati Yorke Ville. Apabila anda butuh guide kami siap menyediakannya untuk anda.”
“Saya rasa tidak perlu,” kata Antra yang kemudian menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya Antra membuka buku yang berisi tentang informasi gadis yang kali ini menjadi kliennya.
Arnie Bringham, putri tunggal keluarga Bringham. Ayahnya adalah seorang anggota Dewan Rakyat Mortpory yang sudah lama berkecimpung di dunia politik. Bakat Arnie sedikit berbeda dengan ayahnya walaupun dia juga seorang aktifis di kampusnya dulu. Dia gadis yang cukup mandiri dan suka pada kehidupan alam bebas. Cukup dijauhi kaum pria karena sifatnya yang keras dan tak mau kalah dari pria. Diperkirakan meninggalkan rumah karena perbedaan pendapat dengan ayahnya. Arnie juga terlalu didikte oleh kedua orang tuanya hingga akhirnya dia memiih melarikan diri dan hidup sendiri.
Antra memandang catatan itu, catatan itu tak berarti sebelum dia bertemu dengan Arnie sendiri. Catatan itu hanya gambaran secara umum bukan secara sifat. Antra lebih suka pendekatan dengan mempelajari sifat manusia karena itu akan membuatnya lebih bisa mengenal dan tahu kelebihan dan kelemahan kliennya. Antra mendesah kemudian dia menjatuhkan dirinya ke ranjang. Hari ini dia ingin beristirahat dan besok dia akan mulai bekerja.


Selengkapnya...

Label: 2 komentar | edit post
Ansgarius

Di dalam kamarnya Endruw nampak masih saja terbuai dalam alam mimpinya. Dengkurannya sangat keras mengalahkan alarm hp yang ia setel di jam enam. Dia adalah salah satu dari sekian banyak cowok yang susah bangun di pagi hari.
Sementara itu di dapur Ibu Endruw tengah asyik menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dia dibantu pembantu yang sudah lama ikut keluarga itu.
“Bi, Angga sudah bangun?” tanya Ibu Endruw kepada pembantunya.
“Waduh tidak tahu, Bu. Coba saya lihat dulu,” kata Bibi yang kemudian keluar dari dapur menuju kamar Endruw dan melihat Endruw yang posisinya sekarang sudah jauh dari kasur. Ini anak memang kalau tidur suka melancong kemana-mana.
“Waduh, ni anak jam segini masih belum bangun. Tidak sekolah apa, ya?” gumam Bibi.
Kemudian Pembantu Endruw ini mulai menggoyang-goyang tubuh anak majikannya, “Angga, bangun. Sekolah apa tidak?”



Endruw yang mempunyai badan gede dan kulit setebal badak tentu tak mempan bila dibangunkan dengan cara seperti itu. Dia cuma menggeliat, merubah posisi tidurnya. Sang Bibi berhubung sudah lama ikut keluarga ini tahu persis bagaimana membangunkan Endruw. Dia mengambil batu bata dan memukulkannya ke kepala Endruw.. hehehe bercanda, masak seekstrim itu, nggak mungkin banget, ya. Yang benar Bibi itu mengambil segelas air, mula-mula dia memercikan sedikit demi sedikit, berhubung tidak mempan juga dia langsung mengguyur anak majikannya dengan segelas air.


“Hwa..hwa. tolong aku tenggelam.. tolong..” kata Endruw begitu terbangun. Setelah dia sadar dia melihat pembantunya membawa gelas sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Ah, bibi ini apa-apaan, sih! Lagi enak-enak surfing jadi tenggelam, deh,” kata Endruw protes.

“Kamu itu sekolah, nggak? Lihat sekarang sudah jam berapa?”

Endruw yang masih malas mulai melihat jam dinding di kamarnya yang menunjuk pukul tujuh kurang dua puluh menit. Sontak dia kaget dan mengambil baju seragamnya. “Aduh, Bi. Kenapa nggak dibangunin dari tadi, sih?”

“Lho, kok nyalahin Bibi? Bibi sudah berusaha sekuat tenaga bangunin kamu. Kamunya aja yang tidur kaya kebo,” protes pembantunya.

Hubungan keluarga ini dengan pembantunya memang cukup erat. Mereka sama sekali tak merendahkan pembantu-pembantu mereka. Malah keluarga ini menganggap bahwa pembantu adalah saudara. Maka jangan heran bila melihat hubungan pembantu dan majikan di rumah ini seperti tak ada.

Endruw sudah tak lagi menanggapi pembantunya. Dia dengan terburu-buru menuju kamar mandi dan hanya menyiram tubuhnya seadanya. Tidak sampai sepuluh menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan merapikan rambutnya dengan gel menatanya lancip-lancip, yang kata orang model spike. Sebenarnya rambut model seperti ini cukup menyusahkan. Contohnya ketika dia di bus ada ada anak kecil yang membawa balon, ketika balon itu meletus sontak anak itu dan orang-orang di bus menuduh dia pelakunya, dan yang lebih parah lagi ibu-ibu hamil langsung membentak dia: “Huss..huss.. Sana jauh-jauh! Jangan dekat-dekat nanti kandungan saya meletus!” Nah repot, kan? Tapi yang namanya Endruw tentu cuek-cuek aja. Dan dia berambut seperti ini bukan hanya karena tren, lho. Jangan salah dia ini benar-benar punker. Dia fans berat Ramones, Sex Pistols,
Rancid, Lars and the bastard, dll.

Dia kemudian memasukkan buku-buku ke tas sekolahnya yang kecil dan bersiap berangkat ke sekolahnya. Dengan cepat dia mengambil sepotong roti dan langsung melahapnya sambil memakai sepatu. Ibunya yang melihat anak keduanya yang sedang terburu-buru ini hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu nggak makan dulu, Ngga?” tanya ibunya.

“Nggak sempat, Bu,” kata Endruw langsung ngacir.

Walaupun punker dia ini tetap anak yang baik hati dan tidak sombong, hehe.. walaupun kadang brutal. Endruw yang melihat temannya naik motor segera memanggilnya, “Mas Ambar!”

Sang pengemudi yang mendengar namanya dipanggil berhenti dan menoleh pada Endruw.

“Kamu, Ngga. Mau bonceng?” Nama Endruw atau kependekan gENDRUWo memang hanya terkenal dalam lingkup teman-teman sekolahnya saja.

“Iya, mas. Sampai halte bus dekat stasiun saja,”

“Ayo, naik!”

Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, maklum jalanan ramai karena banyak anak sekolah dan orang-orang yang bekerja berlalu lalang di jalan itu. Setelah sampai di halte dan menemukan bus yang akan membawanya ke sekolah, Endruw masih harus menghadapi cobaan, yang tak lain dan tak bukan adalah berdesak-desakan engan penumpang lain. Bila ada yang cantik tentu tak masalah, malah akan menyenangkan hatinya. Tapi yang berdesakan dengannya adalah ibu-ibu yang mau ke pasar, anak sekolah yang seperti dirinya, bapak-bapak, pokoknya sama sekali jauh dari kesan nyaman, deh!

Endruw yang kesal dengan situasi ini mulai berpikir, seandainya dia punya motor sendiri tentulah keadaannya tak seperti ini. Endruw mulai melamun, dia membayangkan angina yang menyambar-nyambar pipinya ketika dia mengendarai motornya, membayangkan dia menggoda cewek yang satu sekolah dengannya dan mengajaknya membonceng motornya. Oh, keadaan ini pasti menyenangkan. Begitu sudah sadar dari lamunannya dia kaget karena sekolahnya sudah terlewat, dengan berteriak dia menyuruh pak sopir berhenti. Beruntunglah sekolahnya tak terlalu terlewat jauh.

Suasana SMAN GI (Sekolah Menengah Anak Gila) tampak sepi, tentulah sepi karena para siswa sudah duduk manis di bangku masing-masing dan mendapatkan pelajaran dari pahlawan tanpa tanda jasa. Endruw dengan mengendap-endap, melihat-lihat, dan mengamati situasi, apakah gerbang yang akan dilaluinya aman dari guru yang selalu ditempatkan untuk berjaga di gerbang untuk menghukum anak-anak yang terlambat.

“Kelihatannya aman, nih,” gumam Endruw. “Enaknya langsung ke kantin aja.”

Endruw memang beruntung guru yang jaga sudah tidak ada. Mungkin karena sudah terlalu siang jadi sang guru mengangap sudah tidak ada siswa yang masuk. Tapi sayang sekali pilihannya untuk menuju ke kantin adalah kesalahan. Sang guru ternyata berada di kantin untuk sarapan. Endruw dengan santainya menuju kantin, tapi kemudian matanya melihat guru sedang asyik menikmati makanan dari Ibu kantin. Dengan terburu-buru dia segera berbalik arah, tapi sayang mata sang guru seperti mata elang yang melihat calon mangsanya. Dengan logat Jawa yang kental dia memanggil Endruw, “Bocah, ke sini! Kamu, jam segini baru datang. Kamu niat sekolah, ora?”

“Aduh maaf, Pak. Tadi macet,” Endruw mencoba membela diri.

“Macet, piye? Ndak ada Solo kok macet.”

“Maksudnya bus yang saya tumpangi macet, Pak.”

“Bus kan ndak cuma satu, to? Kamu kan masih bisa naik bus lain.”

“Nah, itu masalahnya, Pak! Ketika saya naik bus yang lain ternyata saya salah jurusan, Pak. Jadinya saya telat, deh.”

“Kamu itu kalau ngapusi pintar sekali, ya! Sudah ikut bapak ke ruang BP dulu!”

Endruw akhirnya pasrah dan ikut ke ruang BP mencatat buku keterlambatan yang sudah banyak terisi namanya dan menjalankan hukuman, menyapu halaman dekat gerbang masuk sekolah.
***

Saat istirahat Endruw termenung saja di kantin. Tampak tak bersemangat. Teman-temannya yang melihatnya heran, biasanya cowok ini merupakan salah satu cowok yang aktif.

“Kenapa tuh si Endruw?” tanya Antra kepada Aldi yang duduk di sebelahnya.
Antra kemudian menengok ke arah Endruw yang duduk manis sendirian.

“Nggak tahu. Ada gusuran kali. Maklum sekarang banyak makhluk halus diusir dan dimasukkan botol. Dia mungkin sudah mendapat surat penggusuran jadi bingung mau tinggal dimana lagi,” jawab Aldi ngaco.

“Ah, kamu bisanya ngomong nggak jelas. Udah ke sana aja, yuk.”
Antra dan Aldi pun mendatangi temannya yang sedang cemberut.

“Kenapa kamu, Ndruw? Kok kelihatannya gelap banget,” tanya Antra.

“Iya, kena pemadaman bergilir, ya? Kasihan banget,” sahut Aldi.

Endruw mendesah panjang sebelum menjawab pertanyaan temannya, “Begini, pren. Aku susah kalau ke sekolah naik bus terus. Setiap hari desak-desakan, kalau bangun telat lebih repot lagi.”

“Wah, kamu salah, pren. Kamu nggak tahu nikmatnya desak-desakan. Apalagi kalau ada cewek… beee…” sahut Aldi semangat.

“Ya, boro-boro ada cewek. Adanya cuma nenek-nenek peyot,” kata Endruw lemas.

“Oh iya, aku lupa rumahmu sudah bukan Indonesia lagi. hehe… Di sana juga tidak ada cewek manis lagi,” Antra ikut menimpali.

Endruw sama sekali tak berniat menanggapi gurauan kedua temannya. Dia kemudian segera menuju kelasnya. Antra dan Aldi bengong melihat sikap temannya yang aneh.

Seusai sekolah pun Endruw tidak nongkrong bersama teman-temannya, dia langsung pulang ke rumah. Dia sudah mempersiapkan mental untuk meminta ijin diperbolehkan untuk membawa motor ke sekolah.

Sampai di rumah dia segera menemui ibunya.
“Bu, besok motornya saya bawa ke sekolah, ya?” Endruw langsung to the point.

“Memang kenapa?”

“Ya, saya kalau naik bus telat terus.”

“Kan kalau telat kamu sendiri yang salah. Kok nyalahin bus?”

“Tapi kan kalau naik motor kan lebih cepat. Tidak perlu berdesak-desakan. Boleh ya, bu?” Antra merajuk.

Sang Ibu yang melihat anaknya tampak kasihan dan akhirnya dengan tersenyum penuh perhatian dia berkata kepada anaknya, “ya, sudah besok kamu bawa saja motornya.”

“Makasih, Ibu memang paling baik,” kata Endruw yang langsung memeluk Ibunya yang kaget dan hampir jatuh.

Keesokan harinya dengan menyanyikan lagu ‘Time Bomb’nya Rancid Endruw memacu sepeda motornya ke sekolah. Begitu sampai di sekolah, teman-teman sekelasnya heran. Sang raja telat akhirnya bisa masuk sebelum bel masuk berbunyi dan ini merupakan rekor.

“Tumben kamu nggak terlambat? Wah harus banyakin doa, nih” kata Aldi.

“Sekali-kali disiplin. Emangnya kenapa banyakin doa segala?” tanya Endruw heran.

“Dunia mau kiamat. Gara-gara kamu udah nggak terlambat lagi. Ini bahaya, harus diperhatikan seksama. Teman, demi manusia lain lebih baik besok kamu terlambat lagi,” kata Aldi sembari menepuk-nepuk pundak Endruw.

“Sialan!”

Endruw bahagia hari ini. Dia sengaja menyembunyikan pada teman-temannya kalau hari ini dia membawa sepeda motor sendiri, hal itu dilakukannya karena khusus satu hari ini dia ingin menikmati motornya sendirian tanpa ada yang membonceng. Oleh karena itu ketika pulang dia ikut teman-temannya berjalan ke luar sekolah, ngobrol-ngobrol dan nongkrong di bengkel tambal ban, yang juga merupakan markas mereka, yang letaknya dekat dengan sekolah mereka, dengan santai. Ketika teman-temannya memutuskan untuk pulang dan naik bus, Endruw pun dengan ringannya naik bus gara-gara percakapan mereka yang menarik. Saat teman-temannya sudah turun dan hanya tinggal Endruw sendiri dia merasa ada yang salah tapi tidak tahu apa itu. Memang dasar pelupa dia tetap tenang dan masih bersiul-siul kecil saat bus sudah hampir sampai daerahnya. Endruw kemudian mendengar percakapan dua orang yang duduk di sebelah tempatnya berdiri membicarakan sesuatu.

“Katanya kamu beli motor baru?” kata salah seorang diantara mereka.

“Iya, tapi belum bisa dipakai belum ada Nopolnya,” sahut yang seorang lagi.

Endruw yang mendengar percakapan itu tiba-tiba ingatannya kembali ke pagi tadi ketika dia berangkat sekolah dengan membawa motor yang sudah diimpikannya, saat sadar Endruw lalu berteriak yang membuat terkejut para penumpang bus, plus kernet, bahkan sang sopir mengehentikan mendadak mobilnya saking kerasnya suara Endruw. Endruw berteriak, “MOTORKU KETINGGALAAAN!!!”

Selengkapnya...

Ansgarius

Di sebuah rumah yang cukup besar, tampak beberapa orang dengan serius membicarakan sesuatu, mereka berjumlah lima orang dan hanya satu orang yang duduk di sofa bermotif kulit harimau. Empat orang lainnya berbadan besar dan tegap menghadapnya dengan berdiri.
“Kalian sudah tahu tugas kalian?” kata orang yang duduk sambil meneguk minuman.
“Sudah, Bos. Percayakan saja pada kami. Dia akan lama di rumah sakit,” kata salah seorang yang berdiri.
“Ingat jangan sampai membunuhnya, dunia jadi tidak menarik kalau dia tidak ada. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, karena mempermalukanku kemarin,” kata orang yang duduk dengan senyum licik.
“Lalu kapan kami bisa mulai?”
“Terserah kalian, bagiku yang penting pekerjaan kalian berjalan dengan baik. Tak usah tergesa-gesa.”
“Baiklah, kalau begitu kami permisi.”
Pria yang duduk di sofa hanya melambaikan tangannya menandakan dia menyuruh mereka berempat pergi.
“Rasakan Antra, kali ini apa yang akan kau lakukan,” kata orang itu sambil tersenyum licik.




****

Antra memandangi dirinya sendiri di cermin, dia menggunakan jel dan menyisir rambutnya rapi ke belakang. Dia kemudian menepuk-nepuk ringan lengan jas hitam yang dipakainya. Setelah dirasa cukup Antra keluar dari rumahnya menuju mobilnya yang berada di luar apartemennya.
Antra sudah bersiap-siap mengendarai mobilnya ketika empat orang yang berbadan tegap mendatanginya.
“Maaf saya tak punya urusan dengan kalian kali ini, lain kali saja.”
“Memangnya siapa kamu! Hei, dengar bocah, kamu itu mangsa, dan kami adalah pemburu jadi kamu tak berhak memerintah kami pergi.”
“Ya, memang susah bernegosiasi dengan kalian. Orang yang bisa diajak bernegosiasi hanyalah orang yang punya otak, dan saya rasa kalian tak punya bagian itu.”
“Dasar bocah! Anak-anak! Beri pelajaran bocah kurang ajar ini.”
“Hei, jangan terburu-buru. Di sini banyak orang, kalian bisa langsung masuk penjara jika ada yang melapor, dan perlu kalian tahu hubunganku dengan tetangga-tetangga cukup baik, kalau mereka tahu aku dipukuli di tengah jalan, mereka akan segera melapor polisi dan dapat dipastikan kalian akan masuk penjara. Aku yakin Soll tak akan terlalu ambil pusing dengan kalian masuk penjara, dia bisa dengan mudah cari pengganti.”
Sesaat mereka berempat sedikit ragu-ragu.
“Dia hanya menggertak! Jangan takut! Habisi saja bocah sialan ini!” kata seseorang yang berbadan kekar dan mengenakan kacamata hitam, rupanya dialah yang menjadi pimpinan mereka berempat. Antra jadi tahu siapa yang lebih baik dihancurkan lebih dahulu. Prinsip lama, hancurkan sang jendral maka tentara itu akan kocar-kacir.
Sesaat sebelum mereka berempat menyerang Antra, Antra sudah mendekati sang jendral mereka. Dengan tenang dia memelintir tangan orang itu ke belakang, kemudian menendang kaki orang itu sampai orang itu berlutut dan merintih kesakitan. Antra melihat ketiga orang lainnya terkejut dan bersiap menyerangnya.
“Eit, kalian mau tangan bos kalian patah?” kata Antra begitu melihat ke tiga orang itu bersiap menyerangnya. “Hentikan mereka kalau tanganmu tak mau kupatahkan,” katanya lagi pada pria berbadan kekar yang masih merintih kesakitan itu.
“Akh..” orang yang dipelintir tangannya itu berteriak semakin kencang. “Baik…baik… kalian berhenti.. Akh..”
Ketiga orang akhirnya tidak jadi menyerang Antra. Dan melihat hal itu Antra tersenyum puas.
“Sudah kukatakan aku tak mau bermain-main dengan kalian. Katakan pada Soll lain kali saja kalau balas dendam. Saat ini aku sedang ada pekerjaan. Dan kalau kirim orang pilih yang sedikit pintar,” kata Antra yang kemudian melepaskan pria kekar yang masih memegangi tangannya yang sakit.
Antra kemudian berjalan masuk ke dalam mobil dengan tersenyum puas. Seolah dengan berbuat hal itu dia sudah mengerjai temannya lagi. Hubungan Soll dan Antra memang aneh. Mereka adalah teman sejak masa kecil yang selalu bersaing dengan tidak sehat. Selalu saja ada cara untuk menang walaupun cara-cara itu adalah cara yang licik. Hubungan yang seperti tetap berlanjut sampai sekarang walaupun mereka berbeda bidang pekerjaan. Antra memilih menjadi seorang negosiator karena hal itu lebih menarik hatinya dan sesuai dengan kemampuannya yang pandai sekali bermain dengan kata-kata. Sejak masa SMP hingga kuliah dia dijuluki sebagai Don Juan karena kemampuannya itu. Hal inilah yang juga membuat Soll temannya kesal karena selalu kalah dalam kompetisi mengencani wanita.
Sedangkan Soll adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia mempunyai beberapa perusahaan yang bonafide hingga membuatnya menjadi salah satu dari sepuluh orang terkaya di Mortpory, sebuah negeri kecil tapi terkenal cukup maju dan kaya.
Mereka berdua selalu berselisih dalam hal yang sepele, tapi yang mengagumkan adalah persahabatan mereka abadi. Mereka, apalagi Soll, sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam bercanda, seperti kali ini Soll mengirim tukang pukul untuk membalas perbuatan Antra yang kerap kali membuat Soll marah. Tapi mereka juga punya aturan, bila teman mereka dalam kesulitan mereka tak segan membantu. Atau seperti pada saat ini dimana Antra mendapat tugas maka Soll akan menarik diri untuk tidak bermain-main dulu dengan temannya. Bahkan mereka juga tak segan saling bertukar cerita tentang masalah yang mereka hadapi. Mereka sudah lama bermain dengan cara seperti ini hanya untuk bercanda, hal yang tak wajar dilakukan oleh orang lain. Tapi hal inilah yang mendidik mereka untuk bersifat profesinal walaupun kadang menggunakan cara yang licik.
Handphone Antra berbunyi saat dia menyusuri jalan di Hall City. Dia memasangkan earphonenya dan mendengar suara Soll.
“Kawan, pekerjaan apa kali ini? Kau curang saat aku mau membalasmu kau pura-pura ada pekerjaan.”
“Tidak, kawan. Kau tahu aku selalu fair tentang masalah ini. Aku baru saja mendapat pekerjaan dari salah seorang pejabat. Biasa, masalah anak yang kabur karena tak betah dengan kekangan orang tua,” kata Antra yang pandangannya masih tetap fokus di depan.
“Bagus kalau begitu. Pastinya pekerjaan ini mudah bagimu, bukan? Dan cepat selesai tentunya?”
“Yah, mungkin. Tapi bila kulihat dari watak gadis ini kelihatannya akan sulit.”
“Ah, gadis? Muda? Cantik? Pastinya begitu, kan?” kata suara di telepon itu tampak senang. “Aku sedang lowong, tak banyak pekerjaan. Biarkan aku menemanimu, okay?”
“Ah, maaf kali ini tak bisa, kawan. Kau tahu kelihatannya gadis ini tak cocok dengan kita berdua.”
“Jangan egois, kawan! Kau mau bermain-main sendiran?”
“Tidak, kawan. Tapi melihat dari raut mukanya saja aku bisa tahu dia gadis yang tak mudah ditaklukan.”
“Apakah kira-kira sama seperti Jenny?” Jenny adalah salah satu gadis yang tak bisa dikencani oleh kedua orang itu sewaktu SMA.
“Yah, kukira sama seperti itulah.”
“Ah, kalau begitu silakan saja berburu sendiri, kawan! Semoga berhasil.”
“Yup!”
Kemudian handphone itu dimatikan. Setelah cukup lama berjalan akhirnya mobil Antra berhenti di suatu café yang tak terlalu ramai. Dark Café. Di dalam café itu tampak gelap seperti suasana malam walaupun hari masih siang. Café itu tak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang sedang duduk di depan bartender dan sebagian lagi bermain di meja bilyard. Antra berjalan di sebuah meja yang sudah terisi oleh seorang pria yang bermuka kalem, yang sama sekali tak cocok dengan suasana di ruangan itu. Antra kemudian duduk di depan pria itu.
“Bagaimana?” tanyanya pada pria itu.
“Gadis itu saat ini ada di losmen kecil di Yorke Vill. Nama losmennya, White Cow. Di kamar 23,” jawab pria itu yang ternyata adalah salah seorang informan.
“Keadaannya?”
“Gadis itu sama sekali tak terlihat seperti gadis yang bermasalah. Orang-orang di sekitanrnya mengatakan dia gadis yang cukup ceria dan sering sekali membantu orang-orang di sana yang rata-rata peternak. Seetelah mendengar penuturan mereka, aku rasa hal ini akan cukup berat bagimu. Gadis itu pergi karena merasa lebih senang hidup di luar seperti itu daripada di rumahnya sendiri.”
Antra mendesah dan berkata: “Yah, aku tahu itu. Memang susah membujuk orang yang sudah menemukan dunia yang cocok dengan dirinya untuk memintanya kembali ke dunia yang selama ini dianggapnya hanya sebagai fatamorgana.”
“Tapi kali ini kau meminta bayaran yang sangat besar, bukan? Klienmu kali ini bukan orang biasa.”
“Tentu, ini bagianmu,” kata Antra yang meyodorkan amplop yang gemuk.
Pria itu mengintip amplopnya dan tersenyum senang.
“Yah, dengan begini, kau gagal pun sudah bukan lagi urusanku,” kata pria itu.
Pria itu kemudian berdiri dan hendak pergi, sebelum itu dia sempat berkata: “Kapan saja aku siap membantu.”
Antra hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Dia meneguk dengan cepat minuman yang ada di depannya. Kemudian setelah meletakkan beberapa lembar uang dia pergi meninggalkan café itu sambil melambaikan tangan kepada bartender yang membalas lambaian tangannya.
Antra segera menuju ke Yorke Ville yang letaknya sekitar dua jam perjalanan dari Hull City. Laju mobilnya dia percepat karena dia tak ingin mebuang-buang waktunya untuk urusan sepele seperti ini. Sebenarnya dia menginginkan tantangan yang besar ketika membuka usaha biro jasa ini. Tapi yang di dapatnya hanya persoalan-persoalan kecil dan tak ada tantangan, walaupun bayaran yang didapatnya sangat besaar dia masih kurang puas.

Selengkapnya...

Ansgarius

Antra sedang duduk di ruang kantornya, tempatnya menerima klien. Dia sedang asyik berkutat dengan komputer ketika seseorang mengetuk pintu kantornya.
“Masuk,” katanya singkat mempersilakan seseorang yang berada di luar pintu itu untuk masuk.
Ketika pintu dibuka tampaklah seorang wanita separuh baya, yang tak dapat diragukan lagi seorang yang cukup terhormat dan kaya. Hal itu dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Tapi kenapa wanita ini mendatangi kantornya dia masih belum tahu pasti. Antra tahu persis siapa wanita ini. Wanita itu dengan sedikit ragu-ragu duduk di bangku yang sudah disediakan. Antra memandang sebentar monitornya dan segera mengalihkan perhatian sepenuhnya ke wanita itu.
“Apa keperluan anda, Nyonya? Tak biasanya seorang wanita datang kemari jika tak ada keperluan yang rahasia dan mendesak. Apakah ini berhubungan dengan putri anda?”
Wanita itu sedikit terkejut dengan pernyataan Antra.
“Bagaimana anda bisa tahu kalau saya datang kemari karena mencari anak saya yang lari dari rumah?”
“Bukankah sebelumnya saya sudah bilang pada anda, jarang ada seorang wanita datang kemari kecuali urusan yang dirahasiakan, dan mendesak sehingga tak perlu pesuruh untuk datang kemari. Bagi seorang wanita kalau tidak anak, suami atau selingkuhan yang perlu mereka bicarakan dengan saya. Kecemasan di wajah anda bukan kecemasan wajah seorang istri yang memikirkan suami atau selingkuhan, tapi lebih kepada kecemasan yang tulus kepada sang buah hati. Saya sudah cukup berpengalaman untuk tahu hal ini.”




Wanita itu terlihat tak terlalu tertarik mendengarkan penjelasan Antra, kemudian dia membuka tas, mengambil foto, kertas dan kartu nama kemudian menyerahkannya kepada Antra.
“Itu kartu nama, foto anak saya dan surat yang ia tinggalkan di meja rias kamarnya . Dia pergi dari rumah sejak dua hari yang lalu. Suami saya tak ambil pusing dengan masalah ini, dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. ‘Jangan terlalu dipikirkan dia pasti nanti pulang sendiri, namanya juga anak muda,’ itulah yang selalu dikatakan suami saya. Selama dua hari ini saya sudah mencari anak itu kemana-mana, sudah saya hubungi saudara dan teman-temannya tetap tak ada yang tahu. Akhirnya saya tahu kantor ini dari seorang teman, yang katanya anda cukup bisa diandalkan.”
Antra tersenyum kecil mendengar kata ‘cukup bisa diandalkan’, baginya kata-kata itu kurang memuaskan hatinya, dan ia tahu wanita yang di depannya ini tak akan peduli dengan itu.
“Lima puluh juta.”
Wanita itu sedikit heran dengan perkataan Antra.
“Maksud anda?”
“Lima puluh juta, itu harga yang saya tawarkan kepada anda untuk mencari anak anda yang hilang dan mau kembali ke rumah anda,” kata Antra dengan tetap tenang. Baginya proses tawar menawar harga juga merupakan negosiasi, dan dia tak mau gagal pada proses awal dan sederhana ini.
“Apakah harus semahal itu?”
“Ah, ini saya masih pasang harga promosi untuk anda, Nyonya. Saya tahu pasti, ini tak akan mahal bagi anda. Anda sudah pernah menggunakan jasa detektif dan itu tidak terlalu banyak berguna, bukan? Karena putri anda tetap tak mau pulang atau sudah pulang tapi pergi lagi.”
“Ya, saya pernah menggunakan biro detektif, dan seperti yang anda katakan dia pulang karena dipaksa kemudian pergi lagi. Karena itulah saya merasa memerlukan jasa anda. Baiklah, berapapun biaya yang anda minta asalkan anak saya betah di rumah, saya akan bayar.”
“Tapi putri anda betah di rumah atau tidak itu juga tergantung dengan orang tuanya apakah mau menuruti permintaan putrinya atau tidak,” kata Antra masih dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat.
“Maksud anda?”
“Ini adalah proses negosiasi. Dan untuk kasus ini satu sisi pasti mengharapkan keuntungan juga. Win-win solution, anda pasti tahu istilah itu, bukan? Bukan pihak orang tua saja yang untung tapi juga pihak anak. Jadi, apa yang nantinya diusulkan oleh anak anda harus anda turuti.”
Wanita itu masih agak ragu, sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju.
“Baiklah selanjutnya serahkan pada saya, saya pasti berusaha membawa anak anda pada anda.”
Wanita mengangguk dan segera keluar dari kantor Antra. Setelah wanita itu keluar Antra memandangi foto yang diberikan padanya. Seorang gadis yang cantik dengan rambut panjang dan bibir tipis yang indah. Hanya dengan melihat wajahnya saja Antra tahu kalau gadis yang di dalam foto ini adalah tipe gadis pemberontak dan cerdas, dan dengan jujur mengakui tipe seperti inilah yang sangat dijauhi olehnya. Tipe manusia yang mempunyai sifat yang sama dengannya.
“Bakal repot, nih,” kata Antra sambil menggaruk-garuk kepalanya, setelah itu dia mengambil handphone dan menghubungi beberapa nomor informannya.
Selengkapnya...

Label: 3 komentar | edit post
Ansgarius

Hari minggu adalah hari untuk berhibernasi bagi siapa saja apalagi bagi anak sekolah, tapi lain dengan pemuda yang satu ini. Pemuda dengan rambut kriting dan tampang seram ini tampak terburu-buru. Suara rantai dari sepeda motornya terdengar jelas creek..creek…creek.. sang pemuda sama sekali tak peduli. Dan kita tunggu sebentar lagi akan ada kejadian yang sudah pasti kita duga, mari kita sama-sama hitung mundur 3…2…1 dan….

“Anjriiiit! Pake lepas nih rantai sialan. Nggak tahu apa lagi terburu-buru. Wah motor sialan nggak bisa diajak kompromi!” umpat Endruw sambil mengutak-atik rantai sepeda motornya. Jangan salah sangka, lho, Endruw bukan nama aslinya, itu nama panggilan dari teman-temannya, jangan anggap juga namanya keren kalau tahu kepanjangannya. Jauh dari keren deh, malah serem! Mau tahu? Endruw tuh singkatan dari gENDRUWo, nggak keren kan? Hihihi…

Malang benar nasib sepeda motor Endruw. Seandainya motor itu bisa bicara pasti dia sudah membalas dengan makian yang lebih mantap..”Jangan salahin saya, bung! Kamu sendiri nggak pernah merawatku dengan baik!” Sayang motor itu nggak bisa ngomong dan pasrah menerima umpatan majikannya.



Setelah selesai memasang kembali rantainya, Endruw kembali menggeber Fu**in motorcyclenya, menuju rumah Aldi.

Sesampainya di rumah Aldi, Endruw mengetuk pintu. Tak lama kemudian Mamanya Aldi keluar.

“Oh, nak Angga (nama asli Endruw). Aldinya masih tidur, sebentar saya bangunin dulu,” kata Mama Aldi.

“Nih anak sableng apa ya? Janjian jam delapan, sekarang masih molor!” umpat Endruw dalam hati. Saat itu jarum pendek jam dinding di rumah Aldi menunjuk pukul sembilan lebih dan jarum panjang menunjuk pukul sepuluh. Siapa yang sableng nih?
Mama Aldi masuk kamar anaknya dan mencoba membangunkan anak tercintanya.

“Al..Al.. bangun dicariin Angga, tuh!” kata Mama Aldi sambil menggoyang-goyang tubuh anaknya.

“Hmm…” Aldi tak bergeming.

“Al.. Bangun, dicariin Angga,” kata Mamanya lagi.

“Angga siapa?” kata Aldi.

“Itu Angga,”

“Mama ngibul, ah!” wah nih anak parah, masak mamanya sendiri dikatain ngibul, bisa-bisa jadi Malin Kundang dia.

Akhirnya Mamanya mengibarkan bendera putih alias menyerah, kemudian Mama Aldi menyuruh Endruw masuk dan membangunkan sendiri temannya itu.
Endruw segera masuk kamar Aldi, melihat temannya yang masih lelap itu dia segera mengambil bantal dan membekap muka Aldi. Terang Aldi gelapapan.

“Apa-apaan sih?” umpat Aldi yang masih megap-megap.

“Apa-apaan…apa-apaan! Udah jam berapa, nih?” kata Endruw sambil menunjuk-nunjuk pergelangan tangannya yang tak ada jamnya.

“Mana kutahu, di kamarku nggak ada jam,” kata Aldi santai, merasa tak bersalah.

“Dah hampir jam sepuluh, tolol!”

“Hah! Kamu juga salah! Kenapa baru datang jam segini?” ujar Aldi yang memang berbakat ngeles.

“Udah nggak usah cerewet. Sana buruan mandi!”

“Ya, bentar,”

Aldi kemudian mengambil pakaian dan menuju kamar mandi. Selesai mandi mereka berdua minta ijin dan segera cabut, menuju tempat yang sudah disepakati rekan-rekan lainnya.
Aldi yang membonceng Endruw berkata pada temannya: “Ndruw, nih motor aman nggak? Kok kelihatannya parah gini?”

“Cerewet! Yang penting bisa jalan,” kata Endruw yang masih fokus dengan jalan di depannya. Sementara di belakang mulut Aldi komat-kamit membaca doa supaya selamat sampai tujuan.

Akhirnya doa Aldi terkabul, mereka berdua tiba dengan selamat di tempat yang sudah disepakati, di sana Roni sudah menunggu.

“Gimana sih, Bro! Nggak bisa lebih lama lagi?” kata Roni, yang berbadan besar dan berkulit gelap.

“Sori, Ron. Aldi nih, tadi dijemput masih molor,” kata Endruw dengan tampang tak berdosa.

“Wah, nggak bisa begitu, dong! Kamu sendiri datang ke rumahku jam berapa?” sahut Aldi membela diri.

“Ah, sudah! Sini kunci motornya kupinjam bentar, sekalian STNK.”

“Anak-anak belum datang?” tanya Endruw sembari menyerahkan kunci dan STNK.

“Bentar lagi mungkin,”

“Nah, anak-anak yang lain aja belum datang,” kata Aldi lagi. Dia memang nggak mau disalahkan.

“Anak-anak janjiannya kan jam sebelas, tolol! Kalian langsung masuk aja, main-main dulu,” kata Roni sembari mempersilakan mereka masuk. “Kayak biasa aja, ambil sendiri.”

Mereka memang biasa bermain band di rumah Roni yang kebetulan mempunyai peralatan band komplit. Terang aja komplit, dia buka usaha studio musik, sih!

“Aku cabut dulu, dah ditungguin lama.”

Roni segera menggeber motor Endruw menuju rumah ceweknya.

***

Rika, cewek baru Roni, sedang menunggu di depan rumahnya dengan muka mendongkol. Maklum, janjian sedari jam sembilan tadi, sampai jam sebelas lebih dikit kekasih tercintanya belum datang juga. Saat akan memasuki rumahnya tiba-tiba ada suara motor masuk ke halaman rumahnya. Saat menoleh dia melihat pangerannya datang, tapi pangeran itu tidak datang dengan kuda putih yang gagah dan indah tapi dengan motor model baru tapi kelihatan butut dan jauh dari kesan indah.

“Kamu gimana, sih! Sekarang sudah jam berapa coba?” maki Rika.

“Aduh, maaf, sayang. Yang punya motor tadi datangnya terlambat. Maaf ya, sayang,” rengek Roni sembari berlutut, memohon ampunan.

Melihat pengorbanan kekasihnya yang sampai rela meminjam motor butut entah dari museum mana, hanya untuk mengantarnya membeli buku membuatnya terharu dan melupakan kemarahannya.

“Baiklah, kali ini kumaafkan! Awas kalau terulang lagi!” ancam Rika.

“Terima kasih, sayang,” ucap Roni sembari berkaca-kaca terharu. Duh sampai segitunya, hehe…

Akhirnya mereka berdua memacu sepeda motor Endruw dengan hati berbunga-bunga. Kadang Roni sedikit menggoda pacarnya dan mereka berdua tertawa-tawa. Ah, memang nikmat bila dua anak manusia sedang dimabuk asmara.. tapi akankah kegembiraan ini akan berlangsung lama? Kita lihat saja nanti. Sekarang kita fokus dulu kepada anak-anak yang sedang berjingkrak-jingkrak ria di studio musik Roni. Di sana kini sudah berkumpul lima orang pemuda. Siapa saja mereka? Mari kita lihat lebih dekat. Selain Endruw dan Aldi ada tiga orang pendatang baru, yang pertama orangnya kecil agak gemuk dan berambut agak panjang, maklum anak SMA jadi nggak boleh terlalu panjang, nama si kecil ini Antra. Yang kedua adalah Anton, pemuda jangkung berkaca mata yang sedang memegang gitar, nama akrabnya London, kenapa London? Karena pernah suatu ketika dia memakai pakaian yang niatnya sih gaul tapi malah teman-temannya menganggapnya mirip Gay London. Selain itu, dia juga digosipkan pemilik AIG, tapi bukan AIG sponsor MU itu lho, tapi Anton Indo Gay hihihi.. lanjut, ada satu makhluk lagi yang perlu kita bahas, Fani, dia adalah salah satu teman yang sering dikunjungi rumahnya. Karena apa? Karena di komputernya tersimpan “gituan” yang bujubuneng… seabrek deh!

Suara cempreng Fani, plus betotan bass amburadul dari Antra, plus genjrengan gitar kacau dari Anton London dan Aldi, plus lagi gebukan drum yang liar dari Endruw membuat BYOB dari SOAD yang seharusnya nge-rock abis berubah menjadi nge-roll perut yang mendengarkan musik mereka. Tapi mereka tak peduli, mereka hanya ingin berhead-bang ria. Setelah puas akhirnya mereka berhenti sejenak, keringat mengucur membasahi sekujur tubuh mereka. Mereka berlima duduk-duduk di dalam studio itu dan minum untuk menghilangkan dahaga yang melanda.

“Eh, Ndruw. Motor kamu mana?” tanya Antra sambil mengelap keringat di dahinya.

“Dipinjam Roni, katanya buat nganter Rika beli buku,” jawab Endruw.

“Heh, serius? Roni gila juga mau pinjam motormu. Resikonya gede lho! Apalagi buat pacaran, wah nggak habis pikir,” sahut Anton London.

“Nggak tahu tuh, anak! Yang bisa dipinjam juga cuma motorku, motor kalian kan nggak bisa tadi.”

“Iya juga, sih. Emang tadi Roni jalan jam berapa?” tanya Antra lagi.

“Janjian sih jam sembilan tapi..”

“Kamu datangnya jam sebelas?” sahut Antra cepat.

“Hehehe..”

“Sudahlah paling juga cuma rantai lepas,” kata Endruw yang seolah tak mau ambil pusing.

“Yah kalau cuma lepas! Kalau mogok, terus bengkel jauh, dah gitu mendung gini, hujan turun deras. Dan aku yakin di jok kamu nggak ada jas hujan. Kalau hal ini sampai terjadi, wah, aku nggak bisa bayangin,” kata Aldi. “Tapi buat kamu kelihatannya ada manfaatnya, Ndruw.”

“Apa?” tanya Endruw penasaran.

“Motor kamu akhirnya ada yang menservis haha..”

Akhirnya tawa meledak di ruangan studio itu. Mereka bisa membicarakan nasib Roni sesuka hati, tapi bagaimana dengan nasib Roni sesungguhnya? Mari kita lihat. Roni baru menempuh setengah perjalanan menuju toko buku, tampak masih asyik bermesraan dengan kekasihnya tanpa menyadari bencana yang akan menimpa mereka.
“Lambat banget sih jalannya, Say? Nggak bisa lebih cepat? Keburu hujan, nih!” kata Rika.

“Oh, bisa, kok. Kukira kamu mau menikmati perjalanan kita berdua ini, Sayang,” jawab Roni yang sebenarnya takut untuk menggeber motor Endruw karena rem depan blong, rem belakang terlalu dalam. Dan Roni tahu Endruw kebanyakan lebih sering pakai sistem engine break. Tapi masak dia juga mau pakai cara yang sama dengan teman sablengnya itu.

“Ya, sudah cepat dikit, dong,” kata Rika dengan nada sedikit memerintah.

Akhirnya Roni membulatkan tekad untuk mempercepat laju motornya. Sementara hujan mulai turun sedikit demi sedikit.

“Ok!”

Saat bersiap menaikkan kecepatan tiba-tiba…. belp..belp..belp… motor itu sama sekali tak bertenaga dan mogok dengan sukses.

“Kenapa lagi?” tanya Rika setelah turun dari motor.

“Nggak tahu nih, mungkin bensinnya habis,” jawab Roni yang kemudian membuka jok sepeda motor dan melihat tangki bensin yang ternyata masih penuh.

“Masih penuh gitu!” kata Rika yang sudah mulai jengkel.

“Mmm. Mungkin busi,” kata Roni yang sudah mulai panik dan berkeringat dingin. Dia mencari pembuka busi di jok itu dan hasilnya nihil. Dia tambah panik ketika melihat juga tidak ada jas hujan di sana, padahal hujan sudah mulai turun.

“Jas hujannya nggak ada juga!” sahut Rika yang juga melihat kejanggalan itu. “Ya sudah aku pulang saja naik taksi! Beli bukunya batal!”

“Tapi say…”

“Tapi apa? Pinjam motor sih sah-sah aja, tapi lihat juga motornya dong!” kata Rika yang mulai mencari-cari taksi.

“Tapi..”

“Tapi apa lagi?”

“Tapi uangku kelihatannya nggak cukup buat servis nih motor nanti,” kata Roni memelas.

Rika memandang sebal pada cowoknya, tapi akhirnya dia luluh juga dengan pandangan mata Roni yang seperti Sinchan kalau memelas.

“Nih,” kata Rika memberi selembar seratus ribu. “Tapi besok balikin!”

Akhirnya Roni hanya melihat kekasihnya pergi meninggalkannya dengan taksi pilihan hatinya, hujan pun turun dengan deras mengguyur seluruh tubuhnya yang semakin menambah derita yang dialaminya. Saat melihat motor di depannya Roni hanya bisa berteriak:
“MOTOR SIALAAAAAN!!!!!!”


Nb: cerita ini adalah modifikasi dari cerita yang didasarkan dari pengakuan R yang dengan apes meminjam fu**in motorcyclenya Ap aka S dari negara gawok untuk pacaran, yang akhirnya si R dengan rela harus berjalan-jalan ria sambil menuntun sepeda motor S.

Selengkapnya...