Ansgarius

Sore itu Antra memandang langit yang berwarna merah yang dipadu dengan burung-burung beterbangan, membuat keindahan langit itu menjadi sempurna. Tapi suasana langit yang cerah itu tak sama dengan suasana hatinya yang sedang mendung. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, dan dia tahu persis apa itu. Tapi baginya tak ada gunanya menyesali apa yang terjadi di masa lalu, dia hanya bisa terus melanjutkan hidupnya saja, dengan membuat masa lalu sebagai pengalaman. Puas memandangi langit sore itu dia pergi mengunjungi restoran tempat dia biasa menikmati makan malam, maklum dia adalah seorang pemuda yang meraih kesuksesan di usia yang cukup muda, dua puluh lima tahu. Tapi kesuksesan itu tak diimbangi dengan kehidupan cintanya, kini saat usianya mendekati empat puluh tahun dia masih hidup sendiri. Sudah banyak teman-temannya yang menjodohkan dia, tapi semuanya, dengan sopan, ditolaknya. Dia selalu mengatakan bahwa dia ingin memantapkan karirnya dulu sebelum menikah. Tapi itu semua tentu hanya omong kosong. Karirnya sudah cukup, lebih dari cukup bahkan, untuk membina suatu rumah tangga.



Antra adalah orang tertutup yang tidak suka mengumbar rahasia pada orang lain, selain itu dia pintar menyimpan rahasia, karena itulah dia selalu menjadi tempat bagi teman-temannya mengatakan semua unek-unek mereka. Tapi Antra tidak mempunyai tempat untuk menyatakan semua yang tersimpan dalam hatinya. Apa yang sedang dialaminya, apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini tdiak ada yang mengetahuinya, dan dia pintar menyembunyikan semua itu. Dia adalah seorang aktor hebat yang mampu memainkan peran bahagia di saat dia sedang mengalami derita terburuk sekalipun. Walaupun dia adalah orang tertutup bukan berarti dia mempunyai sedikit teman, sebaliknya dia mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan, kalangan kelas tinggi maupun kelas bawah. Dia memang bukan orang yang senang berbicara, dia selalu merasa canggung mengobrol dengan orang lain, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya, tapi itu semua tertutupi dengan kelebihannya yang lain, salah satu kelebihan yang menjadikan dia mempunyai banyak teman.

Dia seorang pendengar yang baik, walaupun dia tidak suka membuka pembicaraan, orang yang berbicara dengannya pasti melihat sesuatu darinya yang selalu membuat mereka selalu merasa nyaman untuk berbicara panjang lebar. Dan bila itu terjadi Antra yang tertutup akan memainkan perannya sebagai seorang konsultan, yang selalu berbicara di saat yang tepat dan membuat lawan bicaranya semakin nyaman dengannya, bahkan sampai membuka rahasia. Itulah kelebihan Antra. Tapi dibalik semua itu dia mempunyai kelemahan, dia memang dengan mudah membuat orang lain nyaman, tapi dia sendiri tidak mempunyai tempat yang nyaman, kecuali dirinya sendiri, untuk membuka rahasia. Itulah kenapa banyak temannya, bahkan semuanya, tidak mengetahui siapa Antra sebenarnya.

Di dalam restoran Antra mulai memesan makanan seperti yang biasa dia pesan di hari-hari sebelumnya, dan itu tidak pernah membuatnya bosan. Setelah puas menikmati makanan itu Antra pergi ke suatu tempat dimana dia bisa menikmati suasana malam, suatu tempat yang bisa membangkitkan kenangan lama yang indah tapi menyakitkan. Mobilnya melaju dengan pelan, baginya tak ada gunanya tergesa-gesa. Sesampainya di taman itu dia duduk, dan matanya mulai mengembara ke berbagi sudut taman itu berharap akan menemukan sesuatu yang dia cari. “Semua ini sia-sia,” pikirnya, “aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Lagipula pertemuan itu hanya kebetulan saja.”

Di taman itu dia hanya duduk, udara dingin yang menusuk tak dapat mengganggunya. Di taman itu, lima tahun yang lalu, Antra bertemu dengan seorang wanita cantik berwajah sendu, tapi wajahnya yang sendu itu membuatnya terlihat makin cantik.

“Maaf, bolehkah saya duduk di sini?”

Antra yang sedang melamun terkejut dan tanpa berkata apa-apa dia menyilakan wanita itu duduk. Wanita itu mempunyai wajah sendu yang sama dengan wanita yang ditemuinya lima tahun yang lalu, hanya memang dia tidak secantik wanita yang ditemuinya lima tahun lalu, tapi Antra tahu wanita ini mempunyai daya pikat lain yang membuat setiap pria bisa bertekuk lutut kepadanya. Seperti biasa Antra tak berani membuka suatu pembicaraan, dia hanya menunggu wanita itu yang memulainya. Antra takut bila ia mengajak wanita itu bicara dia hanya akan mengusik perenungan wanita itu. Antra menunggu wanita itu cukup dengan perenungannya dan memulai berbicara dengannya, Antra yakin akan hal itu. Dia sudah sering mengalami hal seperti ini, termasuk dengan wanita lima tahun yang lalu.

Setelah cukup lama diam, akhirnya wanita itu berpaling kepadanya dan mulai mengajaknya bicara, ”udara malam ini dingin, ya?”

Dan kini Antra memainkan perannya. “Ya, begitulah.”

“Manusia memang aneh, tidak pernah puas akan sesuatu, dan selalu mengeluhkan sesuatu. Setiap panas menyengat, mereka mengeluh. Saat dingin pun sama.”

“Itu memang sifat dasar manusia yang tak terbantahkan. Tapi saya yakin manusia yang mampu berpikir jernih akan menganggap panas, dingin, atau hujan sama saja. Semua ada manfaatnya, tidak bagi diri sendiri tapi bagi orang lain.”

“Ya, anda benar. Tapi jarang ada orang seperti itu, anda termasuk orang yang langka bila anda berpikir seperti itu.”

“Ya, bila anda mengatakan itu saya serasa menjadi orang tua yang sudah mengalami banyak pengalaman tentang kehidupan.”

Wanita berwajah sendu itu tersenyum kecil, “Setiap orang yang melihat anda tak akan pernah menganggap anda tua.”

“Ya, karena saya memang masih muda,” balas Antra dengan sedikit tersenyum.

“Nama saya Rina,” wanita itu mengenalkan dirinya.

“Antra,” jawabnya sembari mengulurkan tangannya.

“Sedang apa anda di sini? Apakah istri anda tidak mencari anda?” tanya wanita itu.

“Saya suka ke tempat ini, menikmati malam gelap ditemani sang bulan. Lagipula saya belum mempunyai istri, entah kenapa saya lebih suka hidup sendiri.”

“Yah memang lebih baik hidup sendiri daripada hidup berkeluarga tetapi sama sekali tidak bisa memahami satu sama lain,” kata wanita itu, saat mengatakan hal itu wajahnya terlihat sedih.

“Maaf kalau saya berlaku lancang, apakah ada yang mengganggu pikiran anda?”

“Tak apa, memang setiap orang yang melihat saya pasti akan berpikiran sama seperti anda,” kata wanita itu. “Mungkin saya bisa bercerita kepada anda, saya tahu anda adalah orang baik. Saya tak tahu harus bercerita kepada siapa, saya bukan orang yang mempunyai banyak teman. Setelah saya melihat anda saya tahu anda adalah orang yang tepat untuk mengeluarkan semua hal yang sudah saya alami. Dan saya akan tenang mengakhiri semua ini. Saya harap anda tidak keberatan.”

“Silakan, saya sama sekali tidak keberatan. Yah, tidak baik bagi seseorang memendam sesuatu selamanya. Saya akan membantu semampu saya,” kata Antra yang lupa bahwa dia sendiri adalah seseorang yang selalu memendam semuanya sendirian.

“Anda memang orang baik. Dan entah kenapa saya merasa nyaman duduk di sini dan berbicara dengan anda, padahal saya bukan orang yang mudah bergaul dan berbicara panjang lebar dengan seseorang apalagi orang yang baru saya kenal.”
Antra hanya mengangguk, mengerti.

“Saya seorang single parent, suami saya meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan saya dan anak semata wayang kami yang masih berusia lima tahun. Sepeninggal suami saya, saya bekerja untuk menghidupi keluarga saya. Saya terlalu mencintai suami saya, banyak pria yang melamar saya tapi semua saya tolak. Cukup anak saya yang menjadi kebahagiaan saya, hati saya serasa sudah beku untuk menerima pria lain menggantikan suami saya. Tapi kelihatannya saya memang harus mengalami takdir yang sangat buruk, satu minggu yang lalu anak saya meninggal karena penyakit, dan kini saya tak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Semua yang membuat saya bahagia dan menikmati kehidupan sudah tidak ada. Mungkin saya hanya bisa menyusul mereka dan berbahagia bersama mereka di alam sana. Saya merasa hidup saya di dunia ini sudah tak ada berguna.” Wanita itu terdiam setelah menceritakan hal yang mengganjal hatinya. Seakan setelah mengatakan ini dia sudah siap mengakhiri hidupnya.

Antra diam sebentar, hal ini sama dengan apa yang dialaminya lima tahun yang lalu, pertemuannya dengan wanita cantik berwajah sendu yang merasa hidupnya sudah tak berarti karena dia menjadi korban kebejatan beberapa pemuda yang memperkosanya bergiliran. Antra sendiri tak tahu apakah wanita lima tahun lalu itu masih hidup atau tidak. Antra sudah berusaha sebaik mungkin waktu itu, dan keputusan akhir tetap barada di tangan wanita itu sendiri. Dan kini dia menghadapi wanita cantik berwajah sendu lain dengan problema yang berbeda. Memang dalam kehidupan manusia, terdapat berbagai macam masalah.

“Anda cantik dan masih muda,” kata Antra dengan lembut, “saya tahu cinta anda yang dalam kepada suami dan anak anda adalah suatu bukti kesetiaan anda yang luar biasa. Mungkin anda berpikir bahwa kehidupan anda sekarang tidak ada gunanya, saya tak akan mengatakan apakah suami dan anak anda senang apabila anda mengakhiri hidup anda sekarang. Tidak, saya tak mengatakan demikian. Saya hanya akan mencoba mengajak anda berpikir ke depan, jauh ke depan. Lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan lima puluh tahun mendatang. Saya adalah orang yang mempercayai takdir, seperti pertemuan kita sekarang, bagi saya ini merupakan takdir. Tapi saya tidak percaya bahwa orang bunuh diri adalah takdir, bunuh diri adalah keinginan orang itu sendiri, yang bagi saya malah merusak lingkaran takdir. Pernahkah anda berpikir lima tahun yang akan datang anda sebenarnya bisa menyelamatkan nyawa seorang anak kecil yang akan tenggelam di pantai, tapi karena anda sudah mengakhiri hidup anda sekarang, rencana besar yang sudah disusun oleh Yang Maha Kuasa untuk setiap pemeran dalam panggung yang besar ini berantakan. Mungkin anak itu tidak akan bisa terselamatkan, karena aktor yang seharusnya menolongnya tidak ada. Karena setiap pertemuan antar manusia adalah takdir yang sudah dirancang dengan begitu indah dan sempurna. Bunuh diri hanya akan membuat skenario yang sudah disusun berantakan.”

Setelah mengatakan itu Antra diam, membiarkan wanita itu berpikir. Antra tak bisa memaksa wanita itu untuk tidak melakukan hal konyol itu. Paksaan hanya akan menimbulkan kesan yang tidak mengenakkan. Dia lebih menyukai pendekatan yang lembut, membiarkan wanita itu berpikir ke depan.

“Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak. Tapi terima kasih anda sudah meluangkan waktu anda bagi saya.” Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya, berpamitan dengan Antra.

“Apakah anda tidak ingin mengetahui apa yang akan terjadi pada hidup anda esok? Saya selalu ingin mengetahuinya,” kata Antra sembari menyambut uluran tangan wanita itu dengan tersenyum.

Wanita itu tersenyum dan pergi meninggalkan Antra.

“Ah, satu lagi drama kehidupan manusia,” gumam Antra.

Ketika Antra bersiap meninggalkan taman itu terdengar suara wanita yang memanggilnya. Antra menoleh, dia melihat seorang wanita berlari ke arahnya dan langsung menjabat tangannya. Dari belakang wanita itu terlihat sosok pemuda tampan yang tersenyum sopan kepadanya dan Antra membalas senyuman itu.

“Ternyata anda masih senang menikmati malam ini, beruntung saya bisa bertemu anda lagi. Anda tentu masih ingat dengan saya, bukan?” tanya wanita itu.

“Tentu, saya tidak akan pernah melupakan setiap orang yang pernah saya temui,” balas Antra. “Bagaimana kabarmu sekarang, Gita?”

“Baik. Oh, kenalkan Andre tunangan saya, minggu depan kami akan menikah. Saya akan sangat bahagia bila anda mau hadir ke pesta pernikahan kami.”

“Tentu saya pasti datang, ini kartu nama saya,” kata Antra dengan memberikan kartu namanya.

“Saya pasti mengirimkan undangan pernikahan kami. Awas kalau tidak datang!” ancamnya dengan senyum menggoda. “Baiklah kami permisi dulu.”

Antra mengangguk. Samar-samar dia masih mendengar pria itu bertanya kepada wanita itu: “Siapa dia?”

“Malaikat penyelamat.”

Antra tersenyum dan meninggalkan taman itu.

Selengkapnya...

Ansgarius

Dapat aaward lagi padahal akhir-akhir ini jarang online tapi masih ada yang berbaik hati memberikan saya award untuk itu saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih bagi yang sudah memberikan award kepada saya.. Dan inilah awardnya


award yang saya dapat dari sastra radio:
award2



Award yang saya dapat dari rum@h_go3n:

award1

award yang saya dapat dari Sang cerpenis bercerita:

Photobucket

Photobucket

Sekali lagi terima kasih.. Saya tidak bisa berkata-kata lagi...

Selengkapnya...

Ansgarius

Photobucket


Darmono duduk di kursi rotannya. Dia kini hanya tinggal menunggu sang malaikat maut datang menjemputnya. sudah cukup lama dia tinggal di dunia ini. Dan dia sudah terlalu bosan. Istrinya sudah lama mendahuluinya apalagi teman-teman seperjuangannya, anaknya pun kini sudah menjadi Jendral besar di Angkatan Darat. Anaknya selalu mengajaknya untuk ikut tinggal bersamanya tapi Darmono menolak. Dia ingin tinggal di gubuk ini dan nantinya mati di gubuk ini pula. Gubuk ini penuh dengan kenangan, mulai dari menjadi markas gerilyawan, hidupnya yang penuh cinta bersama istrinya, hingga kelahiran anak satu-satunya. Dia tak mau meninggalkan atau merombak gubuk ini.


Gubuknya pun sama sekali tak teraliri aliran listrik. Dia tetap ingin mempertahankan gubuk ini seperti apa adanya, memang gubuk ini pernah ia tinggalkan sewaktu dia sudah mendapat kehidupan yang lebih layak. Tapi dia tak mau mengusik gubuk ini sedikit pun. Istri dan anaknya yang ingin menjual atau membuatnya lebih baik dia bentak-bentak.

“Tak tahukah kalian gubuk itu adalah sejarah! Gubuk itu adalah markas gerilyawan yang menjadi tumbal kemerdekaan, di gubuk itu semua kenangan tersimpan! Aku menikah denganmu dan merajut rumah tangga di gubuk itu. Kamu, Ri! Kamu lahir di sana. Tak pernah sedikit pun aku mau merombak apalagi menjual gubuk kenangan itu. Lebih baik menjual rumah ini dari pada gubuk itu. Suatu saat aku ingin menempati gubuk itu lagi dan mati di sana. Sama seperti rekan seperjuanganku yang dulu gugur dengan kebanggaan di gubuk itu.”

Dan bila Darmono sudah mengamuk seperti itu tak ada yang berani menentangnya. Sifatnya yang keras itu masih tersimpan dalam tubuhnya yang kini telah renta. Semenjak saat itu tak ada lagi yang berani membicarakan gubuk itu. Gubuk itu diserahkan kepada seseorang untuk merawatnya, tanpa boleh ada yang berubah. Bila ada yang berubah maka penjaga itu akan merasakan kemarahan sang veteran perang kemerdekaan.

Orang pasti akan mencibir bila melihat gubuk itu. Tapi para tetangga yang tahu benar siapa pemilik gubuk itu tak berani mencibir, bahkan para tetangga itu hormat dengan Darmono. Di usianya yang sudah sangat lanjut Darmono masih ikut meronda walaupun hanya sebentar. Orang-orang di sekitarnya sangat suka cerita tentang perjuangan yang terjadi di wilayah mereka itu. Darmono pun tak bersifat sombong, walaupun anaknya Jendral dia tak pernah menggunakan nama anaknya untuk membuatnya dihormati. Apalah artinya kehormatan? Dia pun menolak piagam yang diberikan atasnya oleh pemerintah. Dia melakukan perjuangan bukan untuk piagam atau uang tunjangan. Dia masih mampu membiayai hidupnya sendiri, dia berjuang untuk harga diri bangsa yang sudah lama diinjak-injak. Sama seperti rekan seperjuangannya yang mati dan tergeletak begitu saja tapi bangga dan bahagia, karena mereka mati dalam pangkuan Ibu Pertiwi. Dia akan merekomendasikan teman seperjuangannya yang lebih membutuhkan uang itu.
Darmono berdiri, dia berjalan keluar menuju teras gubuknya. Lembayun senja menghiasi langit, menentramkan hati siapa saja yang melihatnya. Darmono kemudian duduk di lincak bambu. Lincak bambu itu bukanlah lincak bambu yang dulu, karena lincak bambu yang dulu sudah keropos dan memang perlu diganti, tapi Darmono tetap menggantinya dengan lincak bambu yang dibuat sangat mirip. Di lincak bambu itu seorang sahabatnya meninggal. Sampai sekarang dia masih ingat kata-kata terakhir sahabatnya. ‘Lanjutkan perjuangan!’

Darmono menunggu teman-temannya datang dan berbincang-bincang mengenai masa lalu. Ya, di gubuk itu para veteran perang berkumpul. Sejak Darmono menempati gubuk itu dia memanggil teman-temannya yang juga diberi umur panjang sama seperti dirinya. Satu per satu datanglah rekan-rekannya ke gubuk itu. Darmono berdiri dan menyalami mereka yang datang.

“Aneh ya, To! Kok bisa kita hidup sampai sekarang, apa saat ini kita menghadapi karma?” tanya Darmono kepada Karto.

“Hus, Dar, kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Gusti memberi kita umur panjang harusnya disyukuri kok malah dianggap sebagai karma,” jawab Karto.

“Iya, Dar. Harusnya kita mensyukuri hidup. Lagipula, Dar, bukannya juga sudah hidup enak. Kok seperti orang yang susah,” sahut Tomo.

“Kadang aku seperti merasa seperti kena karma. Aku harus melihat bangsa yang dulu di perjuangkan oleh teman-teman kita kini seolah kembali ke masa lalu. Apakah keadaan seperti ini to yang dulu kita harapkan?” tanya Darmono lagi.

“Kadang aku juga merasa seperti itu. Dulu bangsa kita dijajah jelas dan kasat mata oleh Belanda, Jepang. Tapi kini kelihatannya penjajahan itu tetap ada tapi seperti hantu, tidak nampak. Dulu Bung Karno, Bung Hatta, dr. Sutomo, dan cendikiawan lain berjuang karena melihat sesamanya, orang-orang bumiputera kelas rendah, yang dipaksa menjadi budak di negeri mereka sendiri. Mereka berjuang mengangkat harkat dan martabat bumiputera, kalau dipikir-pikir dulu bisa saja para cendikiawan itu berpikir, ‘biarlah saja apa urusan kita, yang penting hidup kita makmur.’ Tapi itu tak terjadi. Mereka ikhlas membela bangsa. Dan kini kulihat semangat itu sudah tak ada, banyak yang tek peduli lagi dengan sesama anak-anak ibu pertiwi.”

“Yah, itu benar, Mo. Kita pun sekarang tetap menjadi bangsa budak, hanya sekarang istilahnya ganti,” sahut Karto. “Dan saat ini harga diri kita diinjak-injak pun kita diam saja.”

“Yah, aku masih ingat dulu pernah ada kapal Amerika melewati perairan kita, dan dengan tegas Bung Karno mengusir dengan mengancam akan menghancurkan kapal itu bila tak keluar dari perairan kita. Akhirnya kapal Amerika itu pun pergi begitu saja. Aku dulu berpikir apakah kapal kita saat itu mampu? Haha.. ” tawa renyah keluar dari mantan pejuang itu.

“Tidak masalah mampu apa tidak yang penting kita kan menjaga wibawa. Lha wong, wilayah kita kok ada kapal perang masuk begitu saja. Kalaupun waktu itu kita perang lagi dan kalah tak masalah yang penting kan harga diri bangsa bisa kita pertahankan. Kita kan bukan bangsa pengecut.”

“Yah, itu dulu,” sahut Karto.

“Apakah sia-sia darah dan jasad teman-teman kita yang sudah menyatu dengan tanah ini?” tanya Darmono lagi.

“Tidak, Dar. Aku tak pernah berpikiran seperti itu lagi. Tapi dulu aku pernah berpikiran sama sepertimu. Apakah perjuanganku dan semua rekan sia-sia? Tapi setelah melihat tawa anak-anak sekolah dan gemuk-gemuknya mereka sekarang aku tak merasa perjuangan kita sia-sia. Bangsa ini masih memerlukan waktu untuk berkembang dan menyadari apa arti kemerdekaan sesungguhnya. Biarlah nantinya perjuangan kita dilupakan, karena bukankah kita memang masa lalu? Tapi setidaknya aku dapat melihat anak-anak itu tersenyum bahagia, aku sudah puas. Merekalah yang dulu kita perjuangkan.”

Kata-kata Tomo itu pun dibenarkan oleh mereka bertiga. Mungkin masa mereka memang sudah berakhir, tongkat estafet itu sudah diserahkan pada pelari selanjutnya. Kini mereka hanya bisa melihat bagaimana pelari-pelari setelah mereka berjuang. Apakah mereka akan teringgal atau menjadi yang terdepan, para pejuang itu hanya bisa memberi semangat dari belakang. Sadar tugasnya sudah selesai, hanya petuah yang bisa mereka berikan.

Gelap malam mulai datang, para pejuang itu kembali lagi ke gubuk-gubuk mereka. Apabila dulu mereka berharap bermimpi tentang kemerdekaan bila mereka tidur, kini mereka berharap bermimpi bangsa ini tetap berdaulat, jaya, dan menjadi bangsa yang mempunyai harga diri.

NB: fto ini saya lupa ambil dari mana bila saya tidak mencantumkan alamat link yang sudah pernah mengupload foto ini saya mohon maaf.

Selengkapnya...

Ansgarius

Ardaya sebetulnya sama sekali tak ada niat untuk pergi, dia hanya menuruti kemana kakinya melangkah, menjauh dari kejaran orang-orang yang mencarinya. Dia adalah kambing hitam. Setiap ada sesuatu yang menggegerkan kampungnya dia lah yang pertama kali dicari. Ardaya yang sejak kecil dibuang oleh orang tuanya, selalu dianggap sebagai penjahat. Segala macam perkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan korupsi yang terjadi di kampungnya harus ada yang disalahkan, dan Ardaya orangnya. Ardaya tak tahu sejak kapan dia menjadi kambing hitam. Mungkin sejak bayi, atau bahkan ketika masih janin, dia sudah mendapat cap sebagai kambing hitam. Mungkin karena itu juga orang tuanya membuangnya, mereka menganggap Ardaya adalah aib bagi keluarga orang tuanya.


Ardaya terus berjalan berharap menemukan tempat yang terbaik baginya, suatu tempat yang tak pernah menyalahkan dia atas apa yang tak pernah dia lakukan. Ardaya tak tahu sudah sejauh mana ia meninggalkan kampung halamannya, sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan kampung halamannya, karena bagaimanapun juga di tempat itu dia tumbuh besar, walaupun dia tak tahu apakah di tempat itu pula dia lahir. Jalanan yang dilalui Ardaya semakin terjal, batu dan kerikil sudah siap menghancurkan kaki Ardaya bila dia tidak hati-hati. Tapi Ardaya tidak peduli, dia kini tak lagi merasakan sakit. Rasa sakit itu sudah sering dia terima. Pukulan, tendangan, hantaman kayu dan besi, lemparan batu, dan sulutan rokok adalah makanannya sehari-hari.

Ardaya menangis, air matanya bercampur dengan keringat membasahi pipinya yang kurus dan kebiru-biruan. “Nenek,” gumamnya sambil menyeka air matanya.

Hanya satu orang yang dekat dengan Ardaya selama hidupnya, seseorang yang merawat dia sejak kecil, seorang nenek tua yang hidup sebatang kara sejak lama, bahkan penduduk kampungnya tidak tahu asal-usul nenek yang merawatnya itu. Tapi dia mendengar bahwa Nenek itu datang sejak tangis Ardaya yang masih bayi memecah keheningan malam di kampungnya, saat penduduk kampung ingin membuang bayi yang mengganggu ketenangan mereka, nenek itulah yang mengajukan diri membawanya. Nenek itu pulalah yang menanmannya Ardaya, yang berarti hati, nurani.

“Ngger, tahukah kamu kenapa nenek menamakanmu Ardaya?” tanya neneknya kala itu, dan Ardaya hanya menggelengkan kepala.

“Ardaya itu hati, nurani. Lihatlah kehidupan ini bukan dengan matamu saja, tapi juga dengan hatimu. Berpikirlah bukan hanya dengan otak saja, tapi pertimbangkanlah juga apa yang dikatakan nuranimu. Setiap apa yang kau lakukan haruslah kau pertimbangkan apa yang dikatakan hatimu, nuranimu. Ngger, nenek tahu kau akan mengalami cobaan hidup yang teramat berat, namun bila kau masih mendengarkan apa yang dikatakan nuranimu kelak kau akan mendapatkan rumah yang indah.” Nasihat neneknya itu sampai kini masih dia pegang teguh.


Ardaya akhirnya sampai pada suatu kampung yang terdapat banyak pepohonan dan air yang jernih mengalir di salah satu sudut kampung itu. Ardaya memutuskan singgah di kampung itu, berharap para pengejarnya tak tahu dia berada di kampung ini, selain itu dia juga berharap bisa tinggal selamanya di kampung ini dan tak lagi menjadi kambing hitam.

Ardaya duduk dibawah pohon yang besar dan rindang. Rasa lelah yang sudah tak tertahankan membuat dia tertidur di bawah pohon yang besar dan rindang itu. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu kembali dengan neneknya, dalam mimpinya neneknya tersenyum kepadanya. Ardaya terbangun, kenapa nenek setelah bertemu tidak mengatakan apa-apa? Walaupun itu hanya mimpi Ardaya menginginkan lebih dari itu, dia ingin usapan lembut di kepalanya, yang diiringi dengan kidung yang bisa membuatnya melupakan semua penderitaan yang telah dia derita sepanjang hari. Tapi Ardaya mampu kembali dalam dunianya, dia sadar nenek yang dia kasihi dan mengasihinya sudah meninggal, dan kini dia harus berjuang sendiri.

Ardaya bangun dan mendatangi sekumpulan orang yang sedang menghitung mangga yang mereka petik hari itu.

“Bisakah tuan-tuan memberikan saya pekerjaan? Saya adalah perantau dan saya membutuhkan pekerjaan, berapapun upahnya saya terima.”

Kumpulan orang-orang itu memandangnya dengan penuh curiga, dan bagi Ardaya pandangan itu tidak mengganggunya, pandangan mata seperti itu selalu dia terima kemanapun dia pergi.

Akhirnya orang-orang itu memberikan pekerjaan kepada Ardaya. Ardaya setiap hari memanjat pohon dan memetik buah yang ada di kampung itu. Setiap malam dia tidur di bawah pohon, dan mengambil minum dari sungai yang jernih itu. Semua orang di kampung itu tak begitu peduli pada Ardaya, tapi Ardaya menganggap bahwa dengan memberikan pekerjaan padanya dia sudah merasa dihargai.

Keindahan langit yang bertabur bintang, dan bulan sabit tak bisa membuat Ardaya tertidur, dia selalu berpikir apakah neneknya berada di langit yang indah itu? Memandangnya dan selalu memperhatikan setiap langkah yang dia jalani dalam kehidupan. Apakah sekarang nenek sudah menjadi salah satu bintang di langit itu? Ketika Ardaya masih mengagumi langit itu dia dikejutkan oleh beberapa orang yang mengambil hasil panen dan memasukkannya ke dalam truk. Ardaya mendatangi mereka dan bertanya, “apa yang kalian lakukan? Apakah kalian akan mengirimkan itu sekarang?”

“Sudah kau diam saja Ardaya! Lebih baik kau membantu kami memasukkan buah ini ke truk di sana, nanti kau dapat bagian,” kata salah seorang diantara mereka.

“Tidak, aku tidak mau,” ucap Ardaya.

Kalau begitu kau diam saja tak usah banyak omong!”

Ardaya masih diam di tempat itu, kemudian dia berkata lagi, ”Kalian tak takut dosa? Apa yang kalian lakukan ini sama saja dengan mencuri.”

Salah satu orang itu yang berwajah penuh jambang meletakkan karungnya dan mendekati Ardaya, Ardaya tak bergerak. “Mencuri? Mencuri, katamu? Bah, aku warga daerah sini, aku ikut memetik buah itu, aku juga bekerja keras untuk itu, dan sekarang aku ambil apa yang menjadi upahku. Apa aku salah?”

Ardaya diam sebentar. “Tapi bukankah semua warga di kampung ini juga bekerja sama seperti kalian, dan sesuai kesepakatan bahwa hasil dari panen akan digunakan untuk membangun kampung ini, juga persediaan bahan makanan kampung ini? Tapi yang kalian lakukan semata-mata hanya untuk kepentingan kalian sendiri.”

Orang-orang itu saling berbisik dan akhirnya berkata, “kau bukan orang dari kampung sini, kau tak usah ikut campur. Urusi saja dirimu sendiri!”

Kemudian orang-orang itu pergi dengan tetap membawa semua hasil panen, dan Ardaya tak bisa berbuat apa-apa, dia ingin mencegahnya tapi seluruh badannya seakan membeku oleh udara yang dingin malam ini.

Keesokan paginya terjadi kehebohan di kampung itu, mereka bertanya-tanya siapa yang telah mengambil hasil panen mereka. Dugaan demi dugaan terjadi, ada yang mengatakan bahwa seseorang kemarin malam mendengar suara truk yang berhenti di gerbang kampung mereka, ada pula yang mengatakan mereka mendengar seseorang berkelahi di dekat gudang penyimpanan. Kampung yang biasanya tenang itu kini ramai, Ardaya yang mengetahui persis hal itu tak berani berkata apa-apa. Dia tak ingin orang-orang itu kecewa bila mengetahui yang mencuri hasil panen mereka adalah kepala desa mereka yang selama ini memimpin mereka, Ardaya juga tahu bahwa dia hanya akan menjadi bahan cemoohan dan hujatan bila kata-katanya tidak terbukti.

Ardaya tak tahu harus berbuat apa, tapi kemudian dia teringat nasihat neneknya tentang arti dari namanya. Ardaya akhirnya menjelaskan kepada warga kampung itu perihal kejadian malam tadi, banyak warga merasa terkejut dan tak percaya. Kemudian mereka mendatangi rumah pimpinan mereka dan meminta penjelasan pimpinan mereka itu. Kepala desa itu marah besar atas pernyataan Ardaya, kemudian dia berkata, “saudara-saudara, coba kalian perhatikan dengan seksama. Saya sudah menjadi kepala desa selama empat tahun, dan selama ini kita tak pernah kehilangan apapun. Tapi seorang pemuda yang entah darimana, masuk kampung ini dan kita kehilangan hasil panen kita. Dan pemuda itu menyalahkan saya yang telah menjadi pemimpin bertahun-tahun, wajarkah itu?”

Para warga diam. Sebenarnya warga sudah tahu semua kebusukan kepala desa selama ini, korupsi pembangunan jembatan, pengadaan alat pemetik buah yang ternyata tidak perlu, dan juga pelecehan terhadap anak gadis di kampung itu, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena takut kepada tukang pukul kepala desa itu. Saat sekarang pun tukang pukul kepala desa itu sudah bersiap menjaga tuannya. Para warga pun harus mencari pelampiasan yang lain, harus ada seseorang yang dikorbankan dan Ardaya lah orangnya. Kepala desa itu pun sama harus ada yang dikorbankan untuk menutupi skandalnya dari media, dia bisa membungkam warga tapi terlalu susah membungkam media. Karena itulah dia butuh kambing hitam untuk kasus ini.

“Pemuda itu berkata sebaliknya, akulah yang memergokinya mengambil hasil panen. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku diancamnya,” kata kepala desa itu sambil tersenyum licik.

Para warga yang tahu bahwa sang kepala desa tak mungkin bisa diancam oleh siapa pun menjadi bingung untuk memutuskan. “Hajar!” tiba-tiba saja salah seorang yang berbadan kekar langsung berteriak membakar amarah para warga yang sebenarnya ditujukan kepada kepala desa itu, tapi karena mereka tak bisa menyentuh kepala desa itu mereka melampiaskannya pada orang lain.

Ardaya yang tahu hal ini pasti akan terjadi hanya diam saja di tempatnya. Dia sudah lelah berlari, dia kini pasrah. Dalam pandangannya kini neneknya datang dan memberikan sebuah kunci kepadanya, “Anakku kepadamu sudah kusiapkan sebuah rumah di sebuah desa yang keindahannya tak akan pernah ditemukan sembarang manusia.”

Ardaya berjalan menuju sebuah gerbang besar yang berkilau cahaya emas yang menyialukan. Gerbang itu terkunci ketika Ardaya berniat membukanya, kemudian dia ingat kunci pemberian neneknya. Dengan kunci yang diberikan neneknya dia membuka gerbang itu, dan dia melihat sebuah desa yang indah dimana cahaya berkilau-kilauan dimana. Setiap rumah berlapis emas, pohon yang mempunyai buah yang masak, air jernih mengalir mengitari desa itu, dan yang lebih mengejutkannya lagi setiap rumah itu tidak berpintu, seolah membiarkan siapa saja masuk ke rumah mereka tanpa takut mereka akan kehilangan harta benda mereka. Akhirnya dia melihat neneknya datang menyambutnya, “selamat datang anakku, Ardaya. Mari kutunjukkan rumah bagimu.”

Sementara itu head line surat kabar mengabarkan berita tentang meninggalnya pencuri hasil panen buah-buahan di kampung X karena dihakimi massa. Tapi komplotan pencuri itu diduga sudah kabur dan menjual hasil panen itu sehingga susah di lacak. Dikabarkan pula bahwa memang pencuri itu adalah warga desa Y yang pergi dari desanya karena diburu atas serangkaian kejahatan yang dilakukannya seperti pembunuhan, perampokan, perkosaan, dan lain-lain. Tapi yang menjadi keanehan adalah pencuri itu mati dalam keadaan tersenyum bahagia.

Selengkapnya...

Ansgarius

Hari itu semua media, baik cetak ataupun elektronik, ribut. Mereka akan mendapat berita besar, skandal yang besar. Maklum, akhir-akhir ini media tidak mendapat sesuatu lagi yang menarik, kasus skandal perselingkuhan anggota dewan, korupsi, ramalan hari kiamat atau artis yang kawin cerai, sudah tak lagi menjadi suatu bahan pembicaraan yang menarik, karena sering terjadi. Masyarakat sudah mulai jenuh dengan hal-hal seperti itu, oleh karena itu ketika skandal ini terkuak, media mulai mulai berbondong-bondong mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, mengungkit-ungkit masa lampau dan juga mitos yang ada.


Berita ini mulai tersebar ketika ada salah satu blog yang menarik perhatian masyarakat. Judul blog itu, ‘Pengakuan Rahwana’. Traffic yang ada di blog itu sungguh mengagumkan, sehingga menarik perhatian media untuk mengulasnya. Comment-comment yang tertulis pun beragam. Ada yang, ‘Eh yang kamu omongin ini beneran?’, ‘Wah ternyata begitu ya!’, ‘kamu ngibul ya?’, pokoknya ada bermacam-macam komentar yang menanggapi blog itu.



Blog itu berisi tentang pengakuan Rahwana yang selama ini diam saja mengenai pemberitaan dirinya. Rahwana, raja dengan sepuluh wajah dan juga seorang pecundang yang menculik istri seorang raja tampan, itulah yang selama ini ada dalam benak masyarakat. Rahwana adalah biang onar yang perlu dibasmi! Begitulah yang diberitakan selama ini mengenai dirinya, oleh karena itulah sekarang Rahwana ingin menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya kepada setiap manusia yang sudah tertipu oleh berita konyol itu. Rahwana merasa punya hak yang sama seperti para selebrritis atau pembesar lainnya yang perlu klarifikasi bila ada sesuatu pemberitaan yang keliru tentang mereka. Inti dari blog itu adalah Rahwana menolak semua tudingan bahwa dirinya menculik Sinta, sedangkan Rama dan Hanoman sebenarnya adalah aggressor yang ingin menguasai kerajaannya. Rama yang terkenal parlente itu telah memutar balikkan fakta, dan karena keparlenteannya dia mudah dipercaya oleh semua orang yang mendengar ceritanya. Cerita yang dia ceritakan dengan melankolis, cerita yang dia ceritakan dengan berpura-pura sebagai malaikat padahal sebenarnya iblis.


Banyaknya comment yang masuk membuatnya menuliskan sesuatu di blognya bahwa dia akan mengadakan jumpa pers untuk klarifikasi semua yang tertulis di blognya. Hari, waktu dan tempat sudah di tentukan, semua media televisi akan menyiarkannya, dan pemerintah menetapkan hari konferensi pers Rahwana itu sebagai libur nasional. Pemerintah berpendapat bahwa hari itu adalah momen yang penting untuk pelurusan sejarah yang sudah morat-marit di negeri ini. Pemerintah juga berharap bahwa nantinya tokoh-tokoh kunci yang mengetahui tentang sejarah juga akan berbuat hal yang sama. Ini adalah sepenggal kata-kata presiden saat diwawancarai seorang reporter televisi.


“Presiden, bagaimana pendapat anda tentang fenomena ini?” tanya seorang reporter yang sedang membawakan acara siaran langsung satu jam bersama Presiden, dengan tema ‘Rahwana, sejarah yang terungkap!’.

“Begini, pertama-tama kita tidak boleh langsung mempercayai si Rahwana ini. kita dengarkan dulu bukti-bukti yang nanti dia paparkan, baru kita akan menelaah lagi, apakah yang dikatakan itu benar atau tidak. Soalnya ini adalah masalah yang sangat rumit, ini adalah sejarah bangsa. Kalau kita percaya begitu saja tanpa bukti yang memadai bisa-bisa Rahwana ini hanya berniat membelokkan sejarah kita yang sudah benar selama ini.”

“Lalu apabila yang dikatakan Rahwana ini masuk akal dan bukti-bukti juga kuat, bagaimana, Pak?”

“Ya mau bagaimana lagi? Kita harus ubah sejarah, dalang kita beritahu supaya menyajikan lakon yang benar dan buku sejarah kita tarik, diganti semua,” kata Presiden mantap.

“Tapi kalau bukti kurang kuat?”

“Kita hukum seberat-beratnya si Rahwana ini! Kita bisa mengatakan kalau Rahwana mencoba mengguncang stabiltas nasional dan kemanan negeri ini! Membuat negeri ini gempar dan kacau! Kita akan hukum Rahwana bila ternyata dia hanya membual saja. Hukum mati kalau perlu!” kata Presiden tegas.

“Lalu kalau dari kacamata Presiden sendiri, apakah Rahwana ini membual atau ini kenyataan?”

“Saya tidak bisa bilang apakah Rahwana membual atau dia mengatakan kenyataan. Saya harus tetap berpikir jernih tentang masalah ini, saya tetap akan mendengarkan pernyataan Rahwana ini dulu, lalu mengumpulkan para ahli, kemudian baru saya akan memutuskan.”

“Bijak sekali. Terakhir Presiden, pendapat anda tentang fenomena sejarah bangsa kita ini bagaimana? Apakah mungkin yang lain-lain bisa mengatakan fakta-fakta sejarah seperti yang dilakukan Rahwana ini? Seperti para Kurawa misalnya.”

“Oh, bisa. Bangsa ini sekarang adalah bangsa demokratis, kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Kita juga harus mulai melihat dari sisi yang lain. Contohnya seperti ini, kita melihat orang membunuh, tapi kita tak tahu kalau orang itu membunuh karena nyawanya terancam, sang pembunuh sebenarnya calon korban. Tapi karena kita hanya melihat sekilas maka kita hanya bisa mengatakan orang itu membunuh. Nah kurang lebih seperti itulah. Oleh karena itu, bagi para pelaku sejarah kalian bisa mengatakan sekarang, hal yang sudah lama terpendam, sekarang bangsa kita sekarang adalah bangsa yang demokratis. Tapi tentu dengan bukti yang kuat. Tidak boleh asal ngomong,” kata Presiden mengakhiri wawancara.

***

Hari yang dinantikan tiba. Tempat yang akan disajikan sudah siap. Semua televisi meyangkan secara live untuk acara klarifikasi. Masyarakat yang berada di luar, yang tidak mendapatkan akses masuk, disediakan layar lebar layaknya menonton sepak bola. Wartawan sibuk dengan persiapan yang ada dan dengan selalu melihat jam, tak sabar menunggu berita besar ini. Akhirnya yang ditunggu tiba dengan pengawalan lengkap, bahkan polisi menerjukan tim khusus untuk melindungi Rahwana, berjaga-jaga bila ada yang berniat melenyapkan saksi kunci yang selama ini bungkam. Saat keluar dari mobil cahaya-cahaya blitz dari foto pengejar berita cetak mulai bertebaran, dan reporter yang membawa microphone dan recorder berjejal-jejal ingin mendapat berita pertama. Sayang, mereka dicegah oleh para penjaga Rahwana. “Nanti saja di dalam penjelasan lebih lanjut,” kata salah seorang komandan penjaga itu.


Rahwana duduk di tempat yang disediakan untuknya. Dia sudah bersiap mengklarifikasi sejarah yang ada. Suasana yang tadinya gaduh kini sunyi, tak ada lagi cahaya blitz, semua tegang menanti si muka sepuluh ini berbicara.


”Saudara selamat siang,” ucap Rahwana pertama kalinya.

“Selamat siang,” jawab para wartawan kompak.

“Terima kasih bersedia datang dalam konferensi pers ini. Seperti yang sudah saya katakana dalam blog saya, saya akan membuka takbir yang selama ini tersimpan. Saya akan mengatakan sejarah yang sudah diselewengkan.” Rahwana diam sebentar dan meneguk air yang berada di depannya. “Ramabadra atau Ramawijaya putra Prabu Dasarata dari negeri Ayodya sebenarnya adalah penjahat perang kelas kakap. Pada awalnya dia membunuh Ramabargawa satria gagah dan tampan, satria yang telah membunuh Arjuna Sasrabahu. Ramabadra telah membunuh dengan licik Ramabargawa sehingga Ramabargawa gugur tanpa perlawanan sama sekali, Ramabargawa sebenarnya hanya ingin Ramabdra menarik gendewanya, tapi gendewa itu itu malah dipatahkan Ramabadra. Ramabargawa yang pucat melihat senjatanya patah langsung dipanah tepat di lehernya oleh Ramabadra, itu fakta yang pertama.”

“Oooo..” kemudian ributlah tempat itu, seakan tak percaya.

“Kemudian, kenapa Rama dan Lesmana pergi ke hutan dan menyerahkan kursi raja kepada Barata? Sebenarnya dengan menyerahkan kursi raja kepada Barata Rama ingin melakukan ekspansi terlebih dahulu ke kerajaan-kerajaan lain. Termasuk kerajaanku Alengka. Tanpa ijin mereka melanggar batas teritori kerajaanku, adikku Sarpakenaka, yang sedang berpatroli saat itu, yang dengan baik-baik berubah wujud menjadi putri manusia yang elok supaya tak mengagetkan mereka, hendak mereka perkosa. Beruntunglah adikku dapat melarikan diri, tapi sayang hidungnya terpelintir. Tentulah kedua suami adikku tak mau tinggal diam! Saat mereka terbang hendak meminta pertanggung jawaban Rama dan Lesmana, panah-panah sudah beterbangan dan membunuh kedua iparku, Karadusana dan Trimurda, serta prajuritku yang lain, bahkan belum sempat mereka bicara kepada kedua putra Kerajaan Ayodya itu.”

“Ooo…” lagi-lagi para wartawan itu ribut, dan ada yang tetap sibuk mencatat.

“Selain itu Rama juga akan mendapatkan kekuasaan dari kerajaan kera, dia membantu Sugriwa menggulingkan Subali. Perlu kalian ketahui bahwa sebenarnya Kerajaa Alengka adalah kerajaan yang terindah, oleh karena itulah Rama ingin memilikinya. Dan Sinta, istrinya yang cantik itu sengaja diumpankan kepadaku, dia tahu dari dulu aku jatuh cinta pada titisan Dewi Sri, Sinta adalah titisan Dewi Sri. Sinta sendiri yang datang kepadaku dan dia minta suaka dariku. Tentu saja aku turuti. Dia mengaku selalu mendapat perlakuan kasar dari suaminya Rama, aku terharu mendengar cerita Sinta. Tak kusangka, paras setampan Rama ternyata mempunyai hati yang busuk. Kalian tahu sendiri Sinta tak pernah kusetubuhi dia berada dalam satu rumah dengan Trijata. Memang aku pernah melamarnya, tapi Sinta menolak. Tentulah aku berlapang dada, aku menerima keputusannya. Kalian tentu tahu kalau Rama menguji Sinta, apakah dia berselingkuh denganku? Rama takut Sinta yang diumpankan kepadaku akan berselungkuh denganku, buktinya? Dia lolos ujian, karena aku memang tak pernah berselingkuh dengannya. Bila aku mau, sebenarnya aku bisa memperkosa Sinta, tapi itu tak kulakukan.”

“Oooo..” gumam para wartawan.

”Rama kini punya alasan menggempur Alengka. Dia segera menghubungi Sugriwa meminta bala bantuan, Sugriwa yang baru saja mendapatkan tahta dengan bantuan Rama tentu saja mau membantu. Dia kerahkan seluruh pasukan keranya menyerbu kerajaanku. Rama yang tidak bisa membujuk Kumbakarna adikku untuk membelot mengalihkan sasarannya ke Wibisana. Adikku ini dibujuk bahwa nantinya dia akan mendapatkan kekuasaan di Alengka, dan adik bungsuku yang berparas elok ini pun menyetujui usulan ini. Untuk cerita selanjutnya kalian tahu sendiri, kerajaanku hancur dan aku mati. Jasadku dibakar bersama adikku Kumbakarna. Setelah beribu-ribu tahun aku bangkit lagi dan mengatakan kebenaran ini.”

Kemudian para wartawan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Rahwana. Dan pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan mantap oleh Rahwana, tetapi saat akan Rahwana diminta mengajukan suatu bukti, Rahwana terdiam, tak lama kemudian dia berkata: “Ada! Bukti itu ada. Bukti adalah surat yang ditulis oleh Sinta kepadaku untuk meminta suaka seperti yang telah aku ceritakan tadi. Bukti itu telah aku simpan di tempat yang aman dan akan tetap terjaga. Aku ingat, surat itu aku simpan karena itu adalah tulisan tangan Sinta wanita yang aku cintai. Besok di tempat ini aku akan menyampaikan surat itu.”


Setelah itu Rahwana pergi dikawal kembali oleh para polisi. Dia berjanji akan memberikan bukti itu esok. Para wartawan cetak mulai sibuk merangkai kata-kata yang akan menjadi headline surat kabar mereka.esok, sedangkan media-media televisi berlomba merangkai berita, sejarah yang sudah ada, dan dialog-dialog bersama para ahli untuk memperoleh perhatian para pemirsa, sembari menunggu bukti yang akan diberikan oleh Rahwana esok hari.


Tibalah hari yang ditunggu-tunggu masyarakat seluruh negeri itu, Rahwana akan menyerahkan bukti nyata tentang pembelokan sejarah yang mencengangkan. Masyarakat yang selama ini percaya bahwa Rama adalah sosok pahlawan ternyata adalah sosok penjahat perang, sedangkan Rahwana yang semula dianggap penjahat, penculik, pemerkosa ternyata seorang pahlawan yang membela tanah airnya dari sang aggressor. Setelah lewat dari jam yang telah dijanjikan Rahwana belum datang, berjam-jam para wartawan menunggu tapi tokoh utama tidak datang juga. Berhari-hari, berminggu-minggu telah lewat dan Rahwana tidak pernah menampakan dirinya lagi. Blognya pun tak update lagi. Para pencari berita mulai berspekulasi apakah Rahwana hanya berbohong tentang bukti itu? Sehingga dia melarikan diri saat dia disuruh memperlihatkan bukti dia mengatakan padahal tak pernah ada. Dia takut ketahuan apabila dia berniat memalsukan surat Sinta, karena sekarang banyak ahli yang bisa mendeteksi tulisan tangan seseorang. Spekulasi lain mengatakan bahwa Rahwana sudah mati, dia sengaja dilenyapkan untuk menutupi kebenaran yang ada, dan tentu saja bukti yang dikatakan Rahwana itupun lenyap bersama Rahwana.


Presiden yang ditanya oleh para wartawan mengatakan bahwa Rahwana adalah pembohong, karena dia hanya bicara tanpa menunjukkan bukti yang ada. Spekulasi tentang pembunuhan Rahwana ditolak oleh presiden, presiden mengatakan bahwa polisi tidak mengantar Rahwana di tempat tinggalnya selama ini. Rahwana meminta polisi menurunkannya di jalan kemudian dia menyamar supaya tidak ketahuan orang banyak. Sehingga polisi pun tak tahu tempat tinggal Rahwana. Presiden berdalih lagi bahwa Rahwana itu sakti mandraguna, polisi tentunya tak akan mampu membunuhnya.
Setelah berbulan-bulan menjadi headline berita akhirnya berita tentang Rahwana hilang ditelan angin. Masyarakat bosan dengan cerita yang sama, cerita yang sebenarnya masih menjadi misteri. Masyarakat kembali menyukai berita tentang kasus skandal wanita anggota dewan, korupsi, dan berita kawin cerai selebritis. Akhirnya sejarah negeri ini tetap saja kabur, para wartawan pun enggan mengorek-orek lagi masa lampau, dan masyarakat juga tak ada yang peduli lagi.



Selengkapnya...

Ansgarius

Wah senengnya ada yang kasih award ke blog saya yang masih baru ini.. Award ini saya dapat dari Bayu The Maniac. Thanks banget pokoknya deh.. Saya jadi semangat nge-Blog…

therachmat.blogspot.com
therachmat.blogspot.com



Script gambar award bisa diambil disini ...
Award ini gue kasih kepada :
1. http://ini-bisnis-koe.blogspot.com
2. http://buitenzblog.blogspot.com
3. http://coretange.blogspot.com
4. http://curahan-pena.blogspot.com
5. http://cerpenochan.blogspot.com
6. http://just-fatamorgana.blogspot.com

Karena sama seperti sang pembuat award yang membuat repot saya maka saya juga pengen buat yang nerima award ini repot, saya kasih PR ...
Nih dia PR nya ..
1. Posting award ini di blog kamu dan buat link dari siapa kamu menerima award ini.
2. Berikan award ini kepada teman-teman kamu. Kasih ke manusia aja. Jangan ke hewan atau tumbuhan. Catet tuh.
3. Jangan lupa koment ke sini sob dan bilang kalo saya itu orangnya baik banget mau bagi-bagi award. Hehe…
Selengkapnya...

Ansgarius

Langit hari ini benar-benar tak bersahabat, gelap tertutup awan hitam bercampur dengan kilat yang menyambar-nyambar disertai suara menggelegar bak meriam perang. Air yang turun dengan deras dan hawa dingin yang menusuk melengkapi suasana suram ini. Aku tak dapat merubah keinginan langit, seandainya aku bisa, aku akan membuat sore ini secerah mungkin. Melukisnya dengan warna merah yang indah dan burung-burung yang terbang bergerombol pulang ke sarangnya. Bila aku mampu aku akan membuat sore ini menjadi sempurna, karena hari ini aku akan bertemu dengan seseorang yang berharga bagiku. Seorang wanita yang sudah lama tak kutemui.

Sepeda motorku melaju menyusuri jalanan yang basah oleh hujan, menerabas tiang-tiang langit yang seolah berusaha menghalangiku. Tapi aku tak peduli, biarpun langit tak mengijinkan aku akan tetap menemuinya.

Di tempat itu, tempat kenangan itu, aku akan menemuinya. Saat aku masuki tempat itu kulihat dia sudah ada di sana, duduk di tempat yang dulu sering kami gunakan untuk berbagi cerita. Cerita yang sebenarnya lebih sering keluar dari bibirnya yang tipis dan merah. Bibir yang menggoda setiap kaum adam untuk melumatnya.


Tempat ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, tak banyak berubah. Hanya mungkin cat yang sekarang berubah menjadi lebih terang dibanding dulu. Warung makan yang tak terlalu mewah tapi bersih, luas dan rapi yang berada tepat di samping SMA kami dulu. Apakah bibi warung ini masih ingat denganku? Mungkin ingat, mungkin tidak, tapi itu bukan hal yang penting bagiku. Bagiku yang penting sekarang adalah menemui wanitaku yang sudah lama kurindukan.

Aku tersenyum kepadanya saat aku duduk di depannya, dia membalas senyumanku. Senyum yang sama seperti dulu, tapi entah kenapa ada yang hilang dari senyum itu.

“Maaf, sudah lama?” kataku membuka pembicaraan.

“Baru, maaf aku memanggilmu secara mendadak.”

“Tak apa. Aku malah senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucapan ini jujur dari hatiku, tanpa maksud berbasa-basi.

“Kau masih saja baik, Antra,” katanya sembari tersenyum, senyum yang hampa.

“Dan kau masih saja cantik, Kirana,” godaku.

Kirana memang masih terlihat cantik, rambut panjangnya yang indah masih terpelihara dengan baik, hanya dibalik wajah cantiknya sekarang tersimpan kesedihan.

“Aku mau minta tolong, Antra. Dan aku tidak tahu siapa lagi yang harus kumintai tolong selain kamu.”

“Minta tolong apa?” tanyaku heran.

“Maaf, aku tak bisa menceritakan padamu sekarang,” ucapnya sembari menundukan wajah.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Kirana? Kata ibumu kau pergi dari rumah tanpa kabar sejak dua tahun yang lalu. Lalu kau tinggal dimana sekarang? Apakah kau sekarang sudah menikah?” Entah kenapa pertanyaan yang selama ini meraung-raung di otakku kini terlontar begitu saja dari mulutku tanpa bisa terkontrol.

Kulihat Kirana tersenyum, senyuman yang sama. “Tidak Antra aku belum menikah.”

“Lalu kenapa kau pergi dari rumahmu bagitu saja? Orang tuamu cemas, Kirana. Pulanglah.”

“Aku tak bisa, Antra. Aku tak mampu menghadapi orang tuaku. Aku ingin menanggung beban ini sendiri.”

“Beban? Beban apa, Kirana?” Segala pikiran buruk memenuhi otakku tapi aku tak mampu mengucapkannya. Kepalaku terasa pening dan bibirku beku. Dingin yang merasuk semakin menusuk sampai ke otakku.

“Tidak, Kirana. Kau tak boleh menanggung beban itu sendirian. Aku..aku bisa mendampingimu. Aku mencintaimu, sejak dulu aku mencintaimu. Pulanglah bersamaku.” Aku tak percaya aku bisa mengucapkan kata-kata keramat itu. Sejak dulu aku tak pernah bisa mengucapkan kata-kata itu, tapi kata-kata itu kini terlontar begitu saja dari mulutku.

Kirana tersenyum melihatku, kali ini senyum itu sama seperti senyumnya dulu. Senyum yang membuatnya menjadi seperti bidadari. “Maaf, Antra, aku tak bisa.”
Kami diam sebentar sebelum akhirnya dia melanjutkan kata-katanya lagi, “Aku menyukaimu, Antra, tapi aku tak pantas untukmu. Aku bukan Kirana yang dulu lagi. Aku sudah cela.”

“Tidak, Kirana. Kau tidak bercela sedikitpun bagiku. Bagiku kau masih Kirana yang dulu.”

“Kau baik, Antra. Dan pria sebaik kau pantas mendapat wanita yang lebih baik dariku.”
“Tapi aku tak mau wanita lain.”

“Terima kasih atas perhatianmu, Antra,” sahutnya, “aku tahu kau jujur mengatakan itu, tapi sekarang aku hanya mau kau menolongku. Dan berjanjilah kau tak akan menolak permintaanku padamu.”

“Tapi…”

“Antra.”

Aku diam, mataku memandang lekat mata Kirana yang indah. Mata itu akhirnya meluluhkan hatiku, “baiklah. Aku berjanji.” Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari mulutku.

Lagi-lagi senyuman itu tersungging dari bibir Kirana. Senyuman bidadari yang membuatku jatuh cinta kepadanya. “Aku tahu kau selalu menepati janjimu.”

Percakapan kami tak berlangsung lama. Setelah itu kami berpisah, dia tak mau kuantar pulang. Dia memberikan kecupan salam perpisahan di pipiku dan berjalan menjauh. Dan aku hanya mampu memandangnya berjalan dalam rintikan hujan yang masih saja turun.

**************

Sudah dua bulan sejak saat itu, kupikir Kirana hanya memberi ujian padaku. apakah aku tetap menerima dan membantunya walaupun aku tahu kejadian yang telah menimpanya. Tapi untuk apa dia melakukan itu? Aku masih terbayang-bayang wajahnya dan kenangan lama kami waktu masih duduk di bangku SMA. Tiba-tiba bel pintu membuyarkan semua lamunanku, dengan langkah gontai aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ketika aku membuka pintu tampak seorang wanita tua membawa seorang bayi dan tas bayi.

“Apakah tuan Antra Samudra tinggal di sini?” tanya wanita itu, dan otakku mulai berpikir, apakah aku mengenal wanita ini? Seingatku tidak.

“Ya, saya sendiri. Maaf anda siapa dan ada keperluan apa?”

“Saya disuruh mengantar bayi ini kepada anda,” kata wanita itu.

Tanpa berpikir apa-apa aku menerima bayi itu dan tasnya, sepertinya hatiku yang mengerakkanku menerima bayi ini. Entah kenapa.

“Dan ini suratnya,” kata wanita itu sembari menyerahkan surat itu kepadaku. Kubaca surat itu. Kepada Antra yang baik. Dari Kirana Candrasasi.

“Dimana wanita ini?” kataku.

“Dia berpesan supaya saya tak memberitahukan kepada tuan, dia bilang harap tuan mengerti.”

Kemudian aku memberi wanita itu tip yang cukup besar. Setelah dia pergi aku mulai masuk menidurkan bayi itu di tempat tidurku. Kupandang wajah tak berdosa bayi itu yang masih tertidur lelap. Dengan sedikit berdebar aku membuka surat yang dikirimkan Kirana untukku. Tulisannya tidak berubah sama sekali.

Antra yang baik, aku tahu kau akan heran kenapa ada seseorang mengirim bayi ini kepadamu. Bayi ini adalah anakku, anak hasil hubunganku dengan pria itu. Mungkin aku harus menceritakan kepadamu, aku mengenal seorang pria dua tahun lalu dan terbuai semua keindahan yang dia miliki, yang membuatku melakukan tindakan bodoh tanpa berpikir panjang. Mungkin, bila dulu kau dan aku tak berpisah aku tak akan seperti ini.

Antra yang baik, aku menagih janjimu dan aku tahu kau akan menepati janjimu, kau memang orang yang tak pernah ingkar janji, karena itulah aku tak khawatir memintamu merawat anakku. Antra yang baik rawatlah anakku seperti anakmu sendiri, aku tahu hal ini pasti akan merepotkanmu, tapi aku tahu kau sudah terbiasa dengan anak kecil. Apakah kau masih sering berkunjung ke panti asuhan? Tentulah kau masih. Aku tahu kau begitu menyukai anak kecil, aku masih ingat ketika kau mengajakku ke panti asuhan kau mengatakan bahwa anak-anak kecil itu seperti Adam dan Hawa yang masih murni dan tak mempunyai dosa. Mereka begitu polos dan menyenangkan, karena alasan itulah aku memintamu mengasuh anakku. Bukan keinginannku untuk membuangnya, aku sendiri tak tega harus berpisah dengannya, bagaimanapun juga dia adalah darah dagingku. Tapi aku harus pergi jauh, tak bisa kupingkiri hati ini sakit. Aku munafik bila aku mengatakan aku tak apa. Aku hanya ingin pergi jauh meninggalkan tempat ini, menghilangkan semua kesedihan dan aku tak bisa membawa anakku tercinta bersamaku.

Antra yang baik. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk merawat anak ini. Aku yakin anak ini akan menjadi anak yang baik bila kau rawat. Semoga dia tidak menjadi pria dewasa yang suka mempermainkan hati wanita seperti ayahnya, tapi seperti kau yang selalu tahu perasaan wanita dan menghormati wanita.
Antra, bila anak ini sudah dewasa jangan mengatakan apapun tentang orang tua kandungnya, karanglah cerita tentang orangtuanya. Aku tak mau dia nantinya akan menanggung malu atas dosa yang telah diperbuat orang tuanya, yang tak ada sangkut pautnya dengan anak ini.

Sekali lagi maafkan aku Antra, aku tak bisa hidup bersamamu. Aku tak pantas untuk orang sebaik kau, aku kotor dan kau bersih. Antra yang baik, aku mohon dengan sangat rawatlah anak ini, anggaplah anakmu sendiri. Dan bila nanti kau menikah katakanlah pada istrimu bahwa anak ini adalah anak angkat, anak dari saudaramu yang meninggal atau tak mampu membiayai hidup anak ini.

Satu pesanku Antra yang baik, carilah pendamping hidup dan kau akan merasa lebih baik. Aku yakin wanita di luar menunngu pria sepertimu yang mempunyai kesetiaan dan rasa menyayangi yang mereka idam-idamkan. Menikahlah.

Dari lubuk hatiku yang terdalam aku berterima kasih padamu Antra. Aku tak tahu harus dengan apa aku membalas kebaikanmu. Semoga Tuhan Yang Maha Tahu memberimu pahala yang berlimpah di surga. Selamat tinggal Antra, jaga dirimu baik-baik.


Salam sayang,


Kirana Candrasasi

Kirana, aku selalu menepati janjiku. Aku akan merawat anakmu seperti anakku sendiri. Tapi aku tak bisa tak menceritakanmu pada anak ini, suatu saat akan kuceritakan betapa cantik ibunya, betapa baik, dan betapa tegarnya dia. Dan mungkin aku sulit menerima nasihatmu untuk menikah, aku akan mencurahkan seluruh hidupku untuk anak ini. Anak dari seseorang yang aku cintai, yang telah memenuhi setiap ruang di hatiku, yang membuat aku tak bisa mencintai wanita lain. Kirana bila itu keputusanmu, aku akan menghargainya. Dan kuharap kau tak berbuat bodoh yang kedua kalinya. Semoga kau hanya pergi untuk menenangkan dan menata kembali hatimu yang hancur. Dan saat kita bertemu kembali, kau akan bangga melihat betapa hebatnya putramu dan putramu pun akan bangga melihat betapa cantik dan baik ibunya. Kami akan selalu menunggumu, Kirana. Menunggu kau benar-benar pulih. Semoga kau tak berbuat hal bodoh.


Surakarta, 29 Mei 2009

Selengkapnya...