Ansgarius

Di dalam kamarnya Endruw nampak masih saja terbuai dalam alam mimpinya. Dengkurannya sangat keras mengalahkan alarm hp yang ia setel di jam enam. Dia adalah salah satu dari sekian banyak cowok yang susah bangun di pagi hari.
Sementara itu di dapur Ibu Endruw tengah asyik menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dia dibantu pembantu yang sudah lama ikut keluarga itu.
“Bi, Angga sudah bangun?” tanya Ibu Endruw kepada pembantunya.
“Waduh tidak tahu, Bu. Coba saya lihat dulu,” kata Bibi yang kemudian keluar dari dapur menuju kamar Endruw dan melihat Endruw yang posisinya sekarang sudah jauh dari kasur. Ini anak memang kalau tidur suka melancong kemana-mana.
“Waduh, ni anak jam segini masih belum bangun. Tidak sekolah apa, ya?” gumam Bibi.
Kemudian Pembantu Endruw ini mulai menggoyang-goyang tubuh anak majikannya, “Angga, bangun. Sekolah apa tidak?”



Endruw yang mempunyai badan gede dan kulit setebal badak tentu tak mempan bila dibangunkan dengan cara seperti itu. Dia cuma menggeliat, merubah posisi tidurnya. Sang Bibi berhubung sudah lama ikut keluarga ini tahu persis bagaimana membangunkan Endruw. Dia mengambil batu bata dan memukulkannya ke kepala Endruw.. hehehe bercanda, masak seekstrim itu, nggak mungkin banget, ya. Yang benar Bibi itu mengambil segelas air, mula-mula dia memercikan sedikit demi sedikit, berhubung tidak mempan juga dia langsung mengguyur anak majikannya dengan segelas air.


“Hwa..hwa. tolong aku tenggelam.. tolong..” kata Endruw begitu terbangun. Setelah dia sadar dia melihat pembantunya membawa gelas sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Ah, bibi ini apa-apaan, sih! Lagi enak-enak surfing jadi tenggelam, deh,” kata Endruw protes.

“Kamu itu sekolah, nggak? Lihat sekarang sudah jam berapa?”

Endruw yang masih malas mulai melihat jam dinding di kamarnya yang menunjuk pukul tujuh kurang dua puluh menit. Sontak dia kaget dan mengambil baju seragamnya. “Aduh, Bi. Kenapa nggak dibangunin dari tadi, sih?”

“Lho, kok nyalahin Bibi? Bibi sudah berusaha sekuat tenaga bangunin kamu. Kamunya aja yang tidur kaya kebo,” protes pembantunya.

Hubungan keluarga ini dengan pembantunya memang cukup erat. Mereka sama sekali tak merendahkan pembantu-pembantu mereka. Malah keluarga ini menganggap bahwa pembantu adalah saudara. Maka jangan heran bila melihat hubungan pembantu dan majikan di rumah ini seperti tak ada.

Endruw sudah tak lagi menanggapi pembantunya. Dia dengan terburu-buru menuju kamar mandi dan hanya menyiram tubuhnya seadanya. Tidak sampai sepuluh menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan merapikan rambutnya dengan gel menatanya lancip-lancip, yang kata orang model spike. Sebenarnya rambut model seperti ini cukup menyusahkan. Contohnya ketika dia di bus ada ada anak kecil yang membawa balon, ketika balon itu meletus sontak anak itu dan orang-orang di bus menuduh dia pelakunya, dan yang lebih parah lagi ibu-ibu hamil langsung membentak dia: “Huss..huss.. Sana jauh-jauh! Jangan dekat-dekat nanti kandungan saya meletus!” Nah repot, kan? Tapi yang namanya Endruw tentu cuek-cuek aja. Dan dia berambut seperti ini bukan hanya karena tren, lho. Jangan salah dia ini benar-benar punker. Dia fans berat Ramones, Sex Pistols,
Rancid, Lars and the bastard, dll.

Dia kemudian memasukkan buku-buku ke tas sekolahnya yang kecil dan bersiap berangkat ke sekolahnya. Dengan cepat dia mengambil sepotong roti dan langsung melahapnya sambil memakai sepatu. Ibunya yang melihat anak keduanya yang sedang terburu-buru ini hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu nggak makan dulu, Ngga?” tanya ibunya.

“Nggak sempat, Bu,” kata Endruw langsung ngacir.

Walaupun punker dia ini tetap anak yang baik hati dan tidak sombong, hehe.. walaupun kadang brutal. Endruw yang melihat temannya naik motor segera memanggilnya, “Mas Ambar!”

Sang pengemudi yang mendengar namanya dipanggil berhenti dan menoleh pada Endruw.

“Kamu, Ngga. Mau bonceng?” Nama Endruw atau kependekan gENDRUWo memang hanya terkenal dalam lingkup teman-teman sekolahnya saja.

“Iya, mas. Sampai halte bus dekat stasiun saja,”

“Ayo, naik!”

Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, maklum jalanan ramai karena banyak anak sekolah dan orang-orang yang bekerja berlalu lalang di jalan itu. Setelah sampai di halte dan menemukan bus yang akan membawanya ke sekolah, Endruw masih harus menghadapi cobaan, yang tak lain dan tak bukan adalah berdesak-desakan engan penumpang lain. Bila ada yang cantik tentu tak masalah, malah akan menyenangkan hatinya. Tapi yang berdesakan dengannya adalah ibu-ibu yang mau ke pasar, anak sekolah yang seperti dirinya, bapak-bapak, pokoknya sama sekali jauh dari kesan nyaman, deh!

Endruw yang kesal dengan situasi ini mulai berpikir, seandainya dia punya motor sendiri tentulah keadaannya tak seperti ini. Endruw mulai melamun, dia membayangkan angina yang menyambar-nyambar pipinya ketika dia mengendarai motornya, membayangkan dia menggoda cewek yang satu sekolah dengannya dan mengajaknya membonceng motornya. Oh, keadaan ini pasti menyenangkan. Begitu sudah sadar dari lamunannya dia kaget karena sekolahnya sudah terlewat, dengan berteriak dia menyuruh pak sopir berhenti. Beruntunglah sekolahnya tak terlalu terlewat jauh.

Suasana SMAN GI (Sekolah Menengah Anak Gila) tampak sepi, tentulah sepi karena para siswa sudah duduk manis di bangku masing-masing dan mendapatkan pelajaran dari pahlawan tanpa tanda jasa. Endruw dengan mengendap-endap, melihat-lihat, dan mengamati situasi, apakah gerbang yang akan dilaluinya aman dari guru yang selalu ditempatkan untuk berjaga di gerbang untuk menghukum anak-anak yang terlambat.

“Kelihatannya aman, nih,” gumam Endruw. “Enaknya langsung ke kantin aja.”

Endruw memang beruntung guru yang jaga sudah tidak ada. Mungkin karena sudah terlalu siang jadi sang guru mengangap sudah tidak ada siswa yang masuk. Tapi sayang sekali pilihannya untuk menuju ke kantin adalah kesalahan. Sang guru ternyata berada di kantin untuk sarapan. Endruw dengan santainya menuju kantin, tapi kemudian matanya melihat guru sedang asyik menikmati makanan dari Ibu kantin. Dengan terburu-buru dia segera berbalik arah, tapi sayang mata sang guru seperti mata elang yang melihat calon mangsanya. Dengan logat Jawa yang kental dia memanggil Endruw, “Bocah, ke sini! Kamu, jam segini baru datang. Kamu niat sekolah, ora?”

“Aduh maaf, Pak. Tadi macet,” Endruw mencoba membela diri.

“Macet, piye? Ndak ada Solo kok macet.”

“Maksudnya bus yang saya tumpangi macet, Pak.”

“Bus kan ndak cuma satu, to? Kamu kan masih bisa naik bus lain.”

“Nah, itu masalahnya, Pak! Ketika saya naik bus yang lain ternyata saya salah jurusan, Pak. Jadinya saya telat, deh.”

“Kamu itu kalau ngapusi pintar sekali, ya! Sudah ikut bapak ke ruang BP dulu!”

Endruw akhirnya pasrah dan ikut ke ruang BP mencatat buku keterlambatan yang sudah banyak terisi namanya dan menjalankan hukuman, menyapu halaman dekat gerbang masuk sekolah.
***

Saat istirahat Endruw termenung saja di kantin. Tampak tak bersemangat. Teman-temannya yang melihatnya heran, biasanya cowok ini merupakan salah satu cowok yang aktif.

“Kenapa tuh si Endruw?” tanya Antra kepada Aldi yang duduk di sebelahnya.
Antra kemudian menengok ke arah Endruw yang duduk manis sendirian.

“Nggak tahu. Ada gusuran kali. Maklum sekarang banyak makhluk halus diusir dan dimasukkan botol. Dia mungkin sudah mendapat surat penggusuran jadi bingung mau tinggal dimana lagi,” jawab Aldi ngaco.

“Ah, kamu bisanya ngomong nggak jelas. Udah ke sana aja, yuk.”
Antra dan Aldi pun mendatangi temannya yang sedang cemberut.

“Kenapa kamu, Ndruw? Kok kelihatannya gelap banget,” tanya Antra.

“Iya, kena pemadaman bergilir, ya? Kasihan banget,” sahut Aldi.

Endruw mendesah panjang sebelum menjawab pertanyaan temannya, “Begini, pren. Aku susah kalau ke sekolah naik bus terus. Setiap hari desak-desakan, kalau bangun telat lebih repot lagi.”

“Wah, kamu salah, pren. Kamu nggak tahu nikmatnya desak-desakan. Apalagi kalau ada cewek… beee…” sahut Aldi semangat.

“Ya, boro-boro ada cewek. Adanya cuma nenek-nenek peyot,” kata Endruw lemas.

“Oh iya, aku lupa rumahmu sudah bukan Indonesia lagi. hehe… Di sana juga tidak ada cewek manis lagi,” Antra ikut menimpali.

Endruw sama sekali tak berniat menanggapi gurauan kedua temannya. Dia kemudian segera menuju kelasnya. Antra dan Aldi bengong melihat sikap temannya yang aneh.

Seusai sekolah pun Endruw tidak nongkrong bersama teman-temannya, dia langsung pulang ke rumah. Dia sudah mempersiapkan mental untuk meminta ijin diperbolehkan untuk membawa motor ke sekolah.

Sampai di rumah dia segera menemui ibunya.
“Bu, besok motornya saya bawa ke sekolah, ya?” Endruw langsung to the point.

“Memang kenapa?”

“Ya, saya kalau naik bus telat terus.”

“Kan kalau telat kamu sendiri yang salah. Kok nyalahin bus?”

“Tapi kan kalau naik motor kan lebih cepat. Tidak perlu berdesak-desakan. Boleh ya, bu?” Antra merajuk.

Sang Ibu yang melihat anaknya tampak kasihan dan akhirnya dengan tersenyum penuh perhatian dia berkata kepada anaknya, “ya, sudah besok kamu bawa saja motornya.”

“Makasih, Ibu memang paling baik,” kata Endruw yang langsung memeluk Ibunya yang kaget dan hampir jatuh.

Keesokan harinya dengan menyanyikan lagu ‘Time Bomb’nya Rancid Endruw memacu sepeda motornya ke sekolah. Begitu sampai di sekolah, teman-teman sekelasnya heran. Sang raja telat akhirnya bisa masuk sebelum bel masuk berbunyi dan ini merupakan rekor.

“Tumben kamu nggak terlambat? Wah harus banyakin doa, nih” kata Aldi.

“Sekali-kali disiplin. Emangnya kenapa banyakin doa segala?” tanya Endruw heran.

“Dunia mau kiamat. Gara-gara kamu udah nggak terlambat lagi. Ini bahaya, harus diperhatikan seksama. Teman, demi manusia lain lebih baik besok kamu terlambat lagi,” kata Aldi sembari menepuk-nepuk pundak Endruw.

“Sialan!”

Endruw bahagia hari ini. Dia sengaja menyembunyikan pada teman-temannya kalau hari ini dia membawa sepeda motor sendiri, hal itu dilakukannya karena khusus satu hari ini dia ingin menikmati motornya sendirian tanpa ada yang membonceng. Oleh karena itu ketika pulang dia ikut teman-temannya berjalan ke luar sekolah, ngobrol-ngobrol dan nongkrong di bengkel tambal ban, yang juga merupakan markas mereka, yang letaknya dekat dengan sekolah mereka, dengan santai. Ketika teman-temannya memutuskan untuk pulang dan naik bus, Endruw pun dengan ringannya naik bus gara-gara percakapan mereka yang menarik. Saat teman-temannya sudah turun dan hanya tinggal Endruw sendiri dia merasa ada yang salah tapi tidak tahu apa itu. Memang dasar pelupa dia tetap tenang dan masih bersiul-siul kecil saat bus sudah hampir sampai daerahnya. Endruw kemudian mendengar percakapan dua orang yang duduk di sebelah tempatnya berdiri membicarakan sesuatu.

“Katanya kamu beli motor baru?” kata salah seorang diantara mereka.

“Iya, tapi belum bisa dipakai belum ada Nopolnya,” sahut yang seorang lagi.

Endruw yang mendengar percakapan itu tiba-tiba ingatannya kembali ke pagi tadi ketika dia berangkat sekolah dengan membawa motor yang sudah diimpikannya, saat sadar Endruw lalu berteriak yang membuat terkejut para penumpang bus, plus kernet, bahkan sang sopir mengehentikan mendadak mobilnya saking kerasnya suara Endruw. Endruw berteriak, “MOTORKU KETINGGALAAAN!!!”

4 Responses
  1. hmmmm...teringat memori masa lampau yang gokil...


  2. aq jadi ingat sama motorku ...
    kalo kamu ketinggalan ...
    kalo aq motornya udah ilang ...
    hiks hiks ..


  3. masteg Says:

    ha ha ha.... ini lucu deh ceritanya.
    idenya simple dan hal seperti itu sering dialami orang banyak, tapi tetep aja cerita ini bikin ngakak....

    maju terus bro... salam sukses selalu :)


  4. terima ksaih atas koment2nya...
    @bayu ikut berduka.. semoga motornya dibalikin sama sang pencuri hehe..