Ansgarius

Di dalam kamarnya Endruw nampak masih saja terbuai dalam alam mimpinya. Dengkurannya sangat keras mengalahkan alarm hp yang ia setel di jam enam. Dia adalah salah satu dari sekian banyak cowok yang susah bangun di pagi hari.
Sementara itu di dapur Ibu Endruw tengah asyik menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dia dibantu pembantu yang sudah lama ikut keluarga itu.
“Bi, Angga sudah bangun?” tanya Ibu Endruw kepada pembantunya.
“Waduh tidak tahu, Bu. Coba saya lihat dulu,” kata Bibi yang kemudian keluar dari dapur menuju kamar Endruw dan melihat Endruw yang posisinya sekarang sudah jauh dari kasur. Ini anak memang kalau tidur suka melancong kemana-mana.
“Waduh, ni anak jam segini masih belum bangun. Tidak sekolah apa, ya?” gumam Bibi.
Kemudian Pembantu Endruw ini mulai menggoyang-goyang tubuh anak majikannya, “Angga, bangun. Sekolah apa tidak?”



Endruw yang mempunyai badan gede dan kulit setebal badak tentu tak mempan bila dibangunkan dengan cara seperti itu. Dia cuma menggeliat, merubah posisi tidurnya. Sang Bibi berhubung sudah lama ikut keluarga ini tahu persis bagaimana membangunkan Endruw. Dia mengambil batu bata dan memukulkannya ke kepala Endruw.. hehehe bercanda, masak seekstrim itu, nggak mungkin banget, ya. Yang benar Bibi itu mengambil segelas air, mula-mula dia memercikan sedikit demi sedikit, berhubung tidak mempan juga dia langsung mengguyur anak majikannya dengan segelas air.


“Hwa..hwa. tolong aku tenggelam.. tolong..” kata Endruw begitu terbangun. Setelah dia sadar dia melihat pembantunya membawa gelas sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Ah, bibi ini apa-apaan, sih! Lagi enak-enak surfing jadi tenggelam, deh,” kata Endruw protes.

“Kamu itu sekolah, nggak? Lihat sekarang sudah jam berapa?”

Endruw yang masih malas mulai melihat jam dinding di kamarnya yang menunjuk pukul tujuh kurang dua puluh menit. Sontak dia kaget dan mengambil baju seragamnya. “Aduh, Bi. Kenapa nggak dibangunin dari tadi, sih?”

“Lho, kok nyalahin Bibi? Bibi sudah berusaha sekuat tenaga bangunin kamu. Kamunya aja yang tidur kaya kebo,” protes pembantunya.

Hubungan keluarga ini dengan pembantunya memang cukup erat. Mereka sama sekali tak merendahkan pembantu-pembantu mereka. Malah keluarga ini menganggap bahwa pembantu adalah saudara. Maka jangan heran bila melihat hubungan pembantu dan majikan di rumah ini seperti tak ada.

Endruw sudah tak lagi menanggapi pembantunya. Dia dengan terburu-buru menuju kamar mandi dan hanya menyiram tubuhnya seadanya. Tidak sampai sepuluh menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan merapikan rambutnya dengan gel menatanya lancip-lancip, yang kata orang model spike. Sebenarnya rambut model seperti ini cukup menyusahkan. Contohnya ketika dia di bus ada ada anak kecil yang membawa balon, ketika balon itu meletus sontak anak itu dan orang-orang di bus menuduh dia pelakunya, dan yang lebih parah lagi ibu-ibu hamil langsung membentak dia: “Huss..huss.. Sana jauh-jauh! Jangan dekat-dekat nanti kandungan saya meletus!” Nah repot, kan? Tapi yang namanya Endruw tentu cuek-cuek aja. Dan dia berambut seperti ini bukan hanya karena tren, lho. Jangan salah dia ini benar-benar punker. Dia fans berat Ramones, Sex Pistols,
Rancid, Lars and the bastard, dll.

Dia kemudian memasukkan buku-buku ke tas sekolahnya yang kecil dan bersiap berangkat ke sekolahnya. Dengan cepat dia mengambil sepotong roti dan langsung melahapnya sambil memakai sepatu. Ibunya yang melihat anak keduanya yang sedang terburu-buru ini hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu nggak makan dulu, Ngga?” tanya ibunya.

“Nggak sempat, Bu,” kata Endruw langsung ngacir.

Walaupun punker dia ini tetap anak yang baik hati dan tidak sombong, hehe.. walaupun kadang brutal. Endruw yang melihat temannya naik motor segera memanggilnya, “Mas Ambar!”

Sang pengemudi yang mendengar namanya dipanggil berhenti dan menoleh pada Endruw.

“Kamu, Ngga. Mau bonceng?” Nama Endruw atau kependekan gENDRUWo memang hanya terkenal dalam lingkup teman-teman sekolahnya saja.

“Iya, mas. Sampai halte bus dekat stasiun saja,”

“Ayo, naik!”

Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, maklum jalanan ramai karena banyak anak sekolah dan orang-orang yang bekerja berlalu lalang di jalan itu. Setelah sampai di halte dan menemukan bus yang akan membawanya ke sekolah, Endruw masih harus menghadapi cobaan, yang tak lain dan tak bukan adalah berdesak-desakan engan penumpang lain. Bila ada yang cantik tentu tak masalah, malah akan menyenangkan hatinya. Tapi yang berdesakan dengannya adalah ibu-ibu yang mau ke pasar, anak sekolah yang seperti dirinya, bapak-bapak, pokoknya sama sekali jauh dari kesan nyaman, deh!

Endruw yang kesal dengan situasi ini mulai berpikir, seandainya dia punya motor sendiri tentulah keadaannya tak seperti ini. Endruw mulai melamun, dia membayangkan angina yang menyambar-nyambar pipinya ketika dia mengendarai motornya, membayangkan dia menggoda cewek yang satu sekolah dengannya dan mengajaknya membonceng motornya. Oh, keadaan ini pasti menyenangkan. Begitu sudah sadar dari lamunannya dia kaget karena sekolahnya sudah terlewat, dengan berteriak dia menyuruh pak sopir berhenti. Beruntunglah sekolahnya tak terlalu terlewat jauh.

Suasana SMAN GI (Sekolah Menengah Anak Gila) tampak sepi, tentulah sepi karena para siswa sudah duduk manis di bangku masing-masing dan mendapatkan pelajaran dari pahlawan tanpa tanda jasa. Endruw dengan mengendap-endap, melihat-lihat, dan mengamati situasi, apakah gerbang yang akan dilaluinya aman dari guru yang selalu ditempatkan untuk berjaga di gerbang untuk menghukum anak-anak yang terlambat.

“Kelihatannya aman, nih,” gumam Endruw. “Enaknya langsung ke kantin aja.”

Endruw memang beruntung guru yang jaga sudah tidak ada. Mungkin karena sudah terlalu siang jadi sang guru mengangap sudah tidak ada siswa yang masuk. Tapi sayang sekali pilihannya untuk menuju ke kantin adalah kesalahan. Sang guru ternyata berada di kantin untuk sarapan. Endruw dengan santainya menuju kantin, tapi kemudian matanya melihat guru sedang asyik menikmati makanan dari Ibu kantin. Dengan terburu-buru dia segera berbalik arah, tapi sayang mata sang guru seperti mata elang yang melihat calon mangsanya. Dengan logat Jawa yang kental dia memanggil Endruw, “Bocah, ke sini! Kamu, jam segini baru datang. Kamu niat sekolah, ora?”

“Aduh maaf, Pak. Tadi macet,” Endruw mencoba membela diri.

“Macet, piye? Ndak ada Solo kok macet.”

“Maksudnya bus yang saya tumpangi macet, Pak.”

“Bus kan ndak cuma satu, to? Kamu kan masih bisa naik bus lain.”

“Nah, itu masalahnya, Pak! Ketika saya naik bus yang lain ternyata saya salah jurusan, Pak. Jadinya saya telat, deh.”

“Kamu itu kalau ngapusi pintar sekali, ya! Sudah ikut bapak ke ruang BP dulu!”

Endruw akhirnya pasrah dan ikut ke ruang BP mencatat buku keterlambatan yang sudah banyak terisi namanya dan menjalankan hukuman, menyapu halaman dekat gerbang masuk sekolah.
***

Saat istirahat Endruw termenung saja di kantin. Tampak tak bersemangat. Teman-temannya yang melihatnya heran, biasanya cowok ini merupakan salah satu cowok yang aktif.

“Kenapa tuh si Endruw?” tanya Antra kepada Aldi yang duduk di sebelahnya.
Antra kemudian menengok ke arah Endruw yang duduk manis sendirian.

“Nggak tahu. Ada gusuran kali. Maklum sekarang banyak makhluk halus diusir dan dimasukkan botol. Dia mungkin sudah mendapat surat penggusuran jadi bingung mau tinggal dimana lagi,” jawab Aldi ngaco.

“Ah, kamu bisanya ngomong nggak jelas. Udah ke sana aja, yuk.”
Antra dan Aldi pun mendatangi temannya yang sedang cemberut.

“Kenapa kamu, Ndruw? Kok kelihatannya gelap banget,” tanya Antra.

“Iya, kena pemadaman bergilir, ya? Kasihan banget,” sahut Aldi.

Endruw mendesah panjang sebelum menjawab pertanyaan temannya, “Begini, pren. Aku susah kalau ke sekolah naik bus terus. Setiap hari desak-desakan, kalau bangun telat lebih repot lagi.”

“Wah, kamu salah, pren. Kamu nggak tahu nikmatnya desak-desakan. Apalagi kalau ada cewek… beee…” sahut Aldi semangat.

“Ya, boro-boro ada cewek. Adanya cuma nenek-nenek peyot,” kata Endruw lemas.

“Oh iya, aku lupa rumahmu sudah bukan Indonesia lagi. hehe… Di sana juga tidak ada cewek manis lagi,” Antra ikut menimpali.

Endruw sama sekali tak berniat menanggapi gurauan kedua temannya. Dia kemudian segera menuju kelasnya. Antra dan Aldi bengong melihat sikap temannya yang aneh.

Seusai sekolah pun Endruw tidak nongkrong bersama teman-temannya, dia langsung pulang ke rumah. Dia sudah mempersiapkan mental untuk meminta ijin diperbolehkan untuk membawa motor ke sekolah.

Sampai di rumah dia segera menemui ibunya.
“Bu, besok motornya saya bawa ke sekolah, ya?” Endruw langsung to the point.

“Memang kenapa?”

“Ya, saya kalau naik bus telat terus.”

“Kan kalau telat kamu sendiri yang salah. Kok nyalahin bus?”

“Tapi kan kalau naik motor kan lebih cepat. Tidak perlu berdesak-desakan. Boleh ya, bu?” Antra merajuk.

Sang Ibu yang melihat anaknya tampak kasihan dan akhirnya dengan tersenyum penuh perhatian dia berkata kepada anaknya, “ya, sudah besok kamu bawa saja motornya.”

“Makasih, Ibu memang paling baik,” kata Endruw yang langsung memeluk Ibunya yang kaget dan hampir jatuh.

Keesokan harinya dengan menyanyikan lagu ‘Time Bomb’nya Rancid Endruw memacu sepeda motornya ke sekolah. Begitu sampai di sekolah, teman-teman sekelasnya heran. Sang raja telat akhirnya bisa masuk sebelum bel masuk berbunyi dan ini merupakan rekor.

“Tumben kamu nggak terlambat? Wah harus banyakin doa, nih” kata Aldi.

“Sekali-kali disiplin. Emangnya kenapa banyakin doa segala?” tanya Endruw heran.

“Dunia mau kiamat. Gara-gara kamu udah nggak terlambat lagi. Ini bahaya, harus diperhatikan seksama. Teman, demi manusia lain lebih baik besok kamu terlambat lagi,” kata Aldi sembari menepuk-nepuk pundak Endruw.

“Sialan!”

Endruw bahagia hari ini. Dia sengaja menyembunyikan pada teman-temannya kalau hari ini dia membawa sepeda motor sendiri, hal itu dilakukannya karena khusus satu hari ini dia ingin menikmati motornya sendirian tanpa ada yang membonceng. Oleh karena itu ketika pulang dia ikut teman-temannya berjalan ke luar sekolah, ngobrol-ngobrol dan nongkrong di bengkel tambal ban, yang juga merupakan markas mereka, yang letaknya dekat dengan sekolah mereka, dengan santai. Ketika teman-temannya memutuskan untuk pulang dan naik bus, Endruw pun dengan ringannya naik bus gara-gara percakapan mereka yang menarik. Saat teman-temannya sudah turun dan hanya tinggal Endruw sendiri dia merasa ada yang salah tapi tidak tahu apa itu. Memang dasar pelupa dia tetap tenang dan masih bersiul-siul kecil saat bus sudah hampir sampai daerahnya. Endruw kemudian mendengar percakapan dua orang yang duduk di sebelah tempatnya berdiri membicarakan sesuatu.

“Katanya kamu beli motor baru?” kata salah seorang diantara mereka.

“Iya, tapi belum bisa dipakai belum ada Nopolnya,” sahut yang seorang lagi.

Endruw yang mendengar percakapan itu tiba-tiba ingatannya kembali ke pagi tadi ketika dia berangkat sekolah dengan membawa motor yang sudah diimpikannya, saat sadar Endruw lalu berteriak yang membuat terkejut para penumpang bus, plus kernet, bahkan sang sopir mengehentikan mendadak mobilnya saking kerasnya suara Endruw. Endruw berteriak, “MOTORKU KETINGGALAAAN!!!”

Selengkapnya...

Ansgarius

Di sebuah rumah yang cukup besar, tampak beberapa orang dengan serius membicarakan sesuatu, mereka berjumlah lima orang dan hanya satu orang yang duduk di sofa bermotif kulit harimau. Empat orang lainnya berbadan besar dan tegap menghadapnya dengan berdiri.
“Kalian sudah tahu tugas kalian?” kata orang yang duduk sambil meneguk minuman.
“Sudah, Bos. Percayakan saja pada kami. Dia akan lama di rumah sakit,” kata salah seorang yang berdiri.
“Ingat jangan sampai membunuhnya, dunia jadi tidak menarik kalau dia tidak ada. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, karena mempermalukanku kemarin,” kata orang yang duduk dengan senyum licik.
“Lalu kapan kami bisa mulai?”
“Terserah kalian, bagiku yang penting pekerjaan kalian berjalan dengan baik. Tak usah tergesa-gesa.”
“Baiklah, kalau begitu kami permisi.”
Pria yang duduk di sofa hanya melambaikan tangannya menandakan dia menyuruh mereka berempat pergi.
“Rasakan Antra, kali ini apa yang akan kau lakukan,” kata orang itu sambil tersenyum licik.




****

Antra memandangi dirinya sendiri di cermin, dia menggunakan jel dan menyisir rambutnya rapi ke belakang. Dia kemudian menepuk-nepuk ringan lengan jas hitam yang dipakainya. Setelah dirasa cukup Antra keluar dari rumahnya menuju mobilnya yang berada di luar apartemennya.
Antra sudah bersiap-siap mengendarai mobilnya ketika empat orang yang berbadan tegap mendatanginya.
“Maaf saya tak punya urusan dengan kalian kali ini, lain kali saja.”
“Memangnya siapa kamu! Hei, dengar bocah, kamu itu mangsa, dan kami adalah pemburu jadi kamu tak berhak memerintah kami pergi.”
“Ya, memang susah bernegosiasi dengan kalian. Orang yang bisa diajak bernegosiasi hanyalah orang yang punya otak, dan saya rasa kalian tak punya bagian itu.”
“Dasar bocah! Anak-anak! Beri pelajaran bocah kurang ajar ini.”
“Hei, jangan terburu-buru. Di sini banyak orang, kalian bisa langsung masuk penjara jika ada yang melapor, dan perlu kalian tahu hubunganku dengan tetangga-tetangga cukup baik, kalau mereka tahu aku dipukuli di tengah jalan, mereka akan segera melapor polisi dan dapat dipastikan kalian akan masuk penjara. Aku yakin Soll tak akan terlalu ambil pusing dengan kalian masuk penjara, dia bisa dengan mudah cari pengganti.”
Sesaat mereka berempat sedikit ragu-ragu.
“Dia hanya menggertak! Jangan takut! Habisi saja bocah sialan ini!” kata seseorang yang berbadan kekar dan mengenakan kacamata hitam, rupanya dialah yang menjadi pimpinan mereka berempat. Antra jadi tahu siapa yang lebih baik dihancurkan lebih dahulu. Prinsip lama, hancurkan sang jendral maka tentara itu akan kocar-kacir.
Sesaat sebelum mereka berempat menyerang Antra, Antra sudah mendekati sang jendral mereka. Dengan tenang dia memelintir tangan orang itu ke belakang, kemudian menendang kaki orang itu sampai orang itu berlutut dan merintih kesakitan. Antra melihat ketiga orang lainnya terkejut dan bersiap menyerangnya.
“Eit, kalian mau tangan bos kalian patah?” kata Antra begitu melihat ke tiga orang itu bersiap menyerangnya. “Hentikan mereka kalau tanganmu tak mau kupatahkan,” katanya lagi pada pria berbadan kekar yang masih merintih kesakitan itu.
“Akh..” orang yang dipelintir tangannya itu berteriak semakin kencang. “Baik…baik… kalian berhenti.. Akh..”
Ketiga orang akhirnya tidak jadi menyerang Antra. Dan melihat hal itu Antra tersenyum puas.
“Sudah kukatakan aku tak mau bermain-main dengan kalian. Katakan pada Soll lain kali saja kalau balas dendam. Saat ini aku sedang ada pekerjaan. Dan kalau kirim orang pilih yang sedikit pintar,” kata Antra yang kemudian melepaskan pria kekar yang masih memegangi tangannya yang sakit.
Antra kemudian berjalan masuk ke dalam mobil dengan tersenyum puas. Seolah dengan berbuat hal itu dia sudah mengerjai temannya lagi. Hubungan Soll dan Antra memang aneh. Mereka adalah teman sejak masa kecil yang selalu bersaing dengan tidak sehat. Selalu saja ada cara untuk menang walaupun cara-cara itu adalah cara yang licik. Hubungan yang seperti tetap berlanjut sampai sekarang walaupun mereka berbeda bidang pekerjaan. Antra memilih menjadi seorang negosiator karena hal itu lebih menarik hatinya dan sesuai dengan kemampuannya yang pandai sekali bermain dengan kata-kata. Sejak masa SMP hingga kuliah dia dijuluki sebagai Don Juan karena kemampuannya itu. Hal inilah yang juga membuat Soll temannya kesal karena selalu kalah dalam kompetisi mengencani wanita.
Sedangkan Soll adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia mempunyai beberapa perusahaan yang bonafide hingga membuatnya menjadi salah satu dari sepuluh orang terkaya di Mortpory, sebuah negeri kecil tapi terkenal cukup maju dan kaya.
Mereka berdua selalu berselisih dalam hal yang sepele, tapi yang mengagumkan adalah persahabatan mereka abadi. Mereka, apalagi Soll, sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam bercanda, seperti kali ini Soll mengirim tukang pukul untuk membalas perbuatan Antra yang kerap kali membuat Soll marah. Tapi mereka juga punya aturan, bila teman mereka dalam kesulitan mereka tak segan membantu. Atau seperti pada saat ini dimana Antra mendapat tugas maka Soll akan menarik diri untuk tidak bermain-main dulu dengan temannya. Bahkan mereka juga tak segan saling bertukar cerita tentang masalah yang mereka hadapi. Mereka sudah lama bermain dengan cara seperti ini hanya untuk bercanda, hal yang tak wajar dilakukan oleh orang lain. Tapi hal inilah yang mendidik mereka untuk bersifat profesinal walaupun kadang menggunakan cara yang licik.
Handphone Antra berbunyi saat dia menyusuri jalan di Hall City. Dia memasangkan earphonenya dan mendengar suara Soll.
“Kawan, pekerjaan apa kali ini? Kau curang saat aku mau membalasmu kau pura-pura ada pekerjaan.”
“Tidak, kawan. Kau tahu aku selalu fair tentang masalah ini. Aku baru saja mendapat pekerjaan dari salah seorang pejabat. Biasa, masalah anak yang kabur karena tak betah dengan kekangan orang tua,” kata Antra yang pandangannya masih tetap fokus di depan.
“Bagus kalau begitu. Pastinya pekerjaan ini mudah bagimu, bukan? Dan cepat selesai tentunya?”
“Yah, mungkin. Tapi bila kulihat dari watak gadis ini kelihatannya akan sulit.”
“Ah, gadis? Muda? Cantik? Pastinya begitu, kan?” kata suara di telepon itu tampak senang. “Aku sedang lowong, tak banyak pekerjaan. Biarkan aku menemanimu, okay?”
“Ah, maaf kali ini tak bisa, kawan. Kau tahu kelihatannya gadis ini tak cocok dengan kita berdua.”
“Jangan egois, kawan! Kau mau bermain-main sendiran?”
“Tidak, kawan. Tapi melihat dari raut mukanya saja aku bisa tahu dia gadis yang tak mudah ditaklukan.”
“Apakah kira-kira sama seperti Jenny?” Jenny adalah salah satu gadis yang tak bisa dikencani oleh kedua orang itu sewaktu SMA.
“Yah, kukira sama seperti itulah.”
“Ah, kalau begitu silakan saja berburu sendiri, kawan! Semoga berhasil.”
“Yup!”
Kemudian handphone itu dimatikan. Setelah cukup lama berjalan akhirnya mobil Antra berhenti di suatu café yang tak terlalu ramai. Dark Café. Di dalam café itu tampak gelap seperti suasana malam walaupun hari masih siang. Café itu tak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang sedang duduk di depan bartender dan sebagian lagi bermain di meja bilyard. Antra berjalan di sebuah meja yang sudah terisi oleh seorang pria yang bermuka kalem, yang sama sekali tak cocok dengan suasana di ruangan itu. Antra kemudian duduk di depan pria itu.
“Bagaimana?” tanyanya pada pria itu.
“Gadis itu saat ini ada di losmen kecil di Yorke Vill. Nama losmennya, White Cow. Di kamar 23,” jawab pria itu yang ternyata adalah salah seorang informan.
“Keadaannya?”
“Gadis itu sama sekali tak terlihat seperti gadis yang bermasalah. Orang-orang di sekitanrnya mengatakan dia gadis yang cukup ceria dan sering sekali membantu orang-orang di sana yang rata-rata peternak. Seetelah mendengar penuturan mereka, aku rasa hal ini akan cukup berat bagimu. Gadis itu pergi karena merasa lebih senang hidup di luar seperti itu daripada di rumahnya sendiri.”
Antra mendesah dan berkata: “Yah, aku tahu itu. Memang susah membujuk orang yang sudah menemukan dunia yang cocok dengan dirinya untuk memintanya kembali ke dunia yang selama ini dianggapnya hanya sebagai fatamorgana.”
“Tapi kali ini kau meminta bayaran yang sangat besar, bukan? Klienmu kali ini bukan orang biasa.”
“Tentu, ini bagianmu,” kata Antra yang meyodorkan amplop yang gemuk.
Pria itu mengintip amplopnya dan tersenyum senang.
“Yah, dengan begini, kau gagal pun sudah bukan lagi urusanku,” kata pria itu.
Pria itu kemudian berdiri dan hendak pergi, sebelum itu dia sempat berkata: “Kapan saja aku siap membantu.”
Antra hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Dia meneguk dengan cepat minuman yang ada di depannya. Kemudian setelah meletakkan beberapa lembar uang dia pergi meninggalkan café itu sambil melambaikan tangan kepada bartender yang membalas lambaian tangannya.
Antra segera menuju ke Yorke Ville yang letaknya sekitar dua jam perjalanan dari Hull City. Laju mobilnya dia percepat karena dia tak ingin mebuang-buang waktunya untuk urusan sepele seperti ini. Sebenarnya dia menginginkan tantangan yang besar ketika membuka usaha biro jasa ini. Tapi yang di dapatnya hanya persoalan-persoalan kecil dan tak ada tantangan, walaupun bayaran yang didapatnya sangat besaar dia masih kurang puas.

Selengkapnya...

Ansgarius

Antra sedang duduk di ruang kantornya, tempatnya menerima klien. Dia sedang asyik berkutat dengan komputer ketika seseorang mengetuk pintu kantornya.
“Masuk,” katanya singkat mempersilakan seseorang yang berada di luar pintu itu untuk masuk.
Ketika pintu dibuka tampaklah seorang wanita separuh baya, yang tak dapat diragukan lagi seorang yang cukup terhormat dan kaya. Hal itu dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Tapi kenapa wanita ini mendatangi kantornya dia masih belum tahu pasti. Antra tahu persis siapa wanita ini. Wanita itu dengan sedikit ragu-ragu duduk di bangku yang sudah disediakan. Antra memandang sebentar monitornya dan segera mengalihkan perhatian sepenuhnya ke wanita itu.
“Apa keperluan anda, Nyonya? Tak biasanya seorang wanita datang kemari jika tak ada keperluan yang rahasia dan mendesak. Apakah ini berhubungan dengan putri anda?”
Wanita itu sedikit terkejut dengan pernyataan Antra.
“Bagaimana anda bisa tahu kalau saya datang kemari karena mencari anak saya yang lari dari rumah?”
“Bukankah sebelumnya saya sudah bilang pada anda, jarang ada seorang wanita datang kemari kecuali urusan yang dirahasiakan, dan mendesak sehingga tak perlu pesuruh untuk datang kemari. Bagi seorang wanita kalau tidak anak, suami atau selingkuhan yang perlu mereka bicarakan dengan saya. Kecemasan di wajah anda bukan kecemasan wajah seorang istri yang memikirkan suami atau selingkuhan, tapi lebih kepada kecemasan yang tulus kepada sang buah hati. Saya sudah cukup berpengalaman untuk tahu hal ini.”




Wanita itu terlihat tak terlalu tertarik mendengarkan penjelasan Antra, kemudian dia membuka tas, mengambil foto, kertas dan kartu nama kemudian menyerahkannya kepada Antra.
“Itu kartu nama, foto anak saya dan surat yang ia tinggalkan di meja rias kamarnya . Dia pergi dari rumah sejak dua hari yang lalu. Suami saya tak ambil pusing dengan masalah ini, dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. ‘Jangan terlalu dipikirkan dia pasti nanti pulang sendiri, namanya juga anak muda,’ itulah yang selalu dikatakan suami saya. Selama dua hari ini saya sudah mencari anak itu kemana-mana, sudah saya hubungi saudara dan teman-temannya tetap tak ada yang tahu. Akhirnya saya tahu kantor ini dari seorang teman, yang katanya anda cukup bisa diandalkan.”
Antra tersenyum kecil mendengar kata ‘cukup bisa diandalkan’, baginya kata-kata itu kurang memuaskan hatinya, dan ia tahu wanita yang di depannya ini tak akan peduli dengan itu.
“Lima puluh juta.”
Wanita itu sedikit heran dengan perkataan Antra.
“Maksud anda?”
“Lima puluh juta, itu harga yang saya tawarkan kepada anda untuk mencari anak anda yang hilang dan mau kembali ke rumah anda,” kata Antra dengan tetap tenang. Baginya proses tawar menawar harga juga merupakan negosiasi, dan dia tak mau gagal pada proses awal dan sederhana ini.
“Apakah harus semahal itu?”
“Ah, ini saya masih pasang harga promosi untuk anda, Nyonya. Saya tahu pasti, ini tak akan mahal bagi anda. Anda sudah pernah menggunakan jasa detektif dan itu tidak terlalu banyak berguna, bukan? Karena putri anda tetap tak mau pulang atau sudah pulang tapi pergi lagi.”
“Ya, saya pernah menggunakan biro detektif, dan seperti yang anda katakan dia pulang karena dipaksa kemudian pergi lagi. Karena itulah saya merasa memerlukan jasa anda. Baiklah, berapapun biaya yang anda minta asalkan anak saya betah di rumah, saya akan bayar.”
“Tapi putri anda betah di rumah atau tidak itu juga tergantung dengan orang tuanya apakah mau menuruti permintaan putrinya atau tidak,” kata Antra masih dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat.
“Maksud anda?”
“Ini adalah proses negosiasi. Dan untuk kasus ini satu sisi pasti mengharapkan keuntungan juga. Win-win solution, anda pasti tahu istilah itu, bukan? Bukan pihak orang tua saja yang untung tapi juga pihak anak. Jadi, apa yang nantinya diusulkan oleh anak anda harus anda turuti.”
Wanita itu masih agak ragu, sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju.
“Baiklah selanjutnya serahkan pada saya, saya pasti berusaha membawa anak anda pada anda.”
Wanita mengangguk dan segera keluar dari kantor Antra. Setelah wanita itu keluar Antra memandangi foto yang diberikan padanya. Seorang gadis yang cantik dengan rambut panjang dan bibir tipis yang indah. Hanya dengan melihat wajahnya saja Antra tahu kalau gadis yang di dalam foto ini adalah tipe gadis pemberontak dan cerdas, dan dengan jujur mengakui tipe seperti inilah yang sangat dijauhi olehnya. Tipe manusia yang mempunyai sifat yang sama dengannya.
“Bakal repot, nih,” kata Antra sambil menggaruk-garuk kepalanya, setelah itu dia mengambil handphone dan menghubungi beberapa nomor informannya.
Selengkapnya...

Ansgarius

Hari minggu adalah hari untuk berhibernasi bagi siapa saja apalagi bagi anak sekolah, tapi lain dengan pemuda yang satu ini. Pemuda dengan rambut kriting dan tampang seram ini tampak terburu-buru. Suara rantai dari sepeda motornya terdengar jelas creek..creek…creek.. sang pemuda sama sekali tak peduli. Dan kita tunggu sebentar lagi akan ada kejadian yang sudah pasti kita duga, mari kita sama-sama hitung mundur 3…2…1 dan….

“Anjriiiit! Pake lepas nih rantai sialan. Nggak tahu apa lagi terburu-buru. Wah motor sialan nggak bisa diajak kompromi!” umpat Endruw sambil mengutak-atik rantai sepeda motornya. Jangan salah sangka, lho, Endruw bukan nama aslinya, itu nama panggilan dari teman-temannya, jangan anggap juga namanya keren kalau tahu kepanjangannya. Jauh dari keren deh, malah serem! Mau tahu? Endruw tuh singkatan dari gENDRUWo, nggak keren kan? Hihihi…

Malang benar nasib sepeda motor Endruw. Seandainya motor itu bisa bicara pasti dia sudah membalas dengan makian yang lebih mantap..”Jangan salahin saya, bung! Kamu sendiri nggak pernah merawatku dengan baik!” Sayang motor itu nggak bisa ngomong dan pasrah menerima umpatan majikannya.



Setelah selesai memasang kembali rantainya, Endruw kembali menggeber Fu**in motorcyclenya, menuju rumah Aldi.

Sesampainya di rumah Aldi, Endruw mengetuk pintu. Tak lama kemudian Mamanya Aldi keluar.

“Oh, nak Angga (nama asli Endruw). Aldinya masih tidur, sebentar saya bangunin dulu,” kata Mama Aldi.

“Nih anak sableng apa ya? Janjian jam delapan, sekarang masih molor!” umpat Endruw dalam hati. Saat itu jarum pendek jam dinding di rumah Aldi menunjuk pukul sembilan lebih dan jarum panjang menunjuk pukul sepuluh. Siapa yang sableng nih?
Mama Aldi masuk kamar anaknya dan mencoba membangunkan anak tercintanya.

“Al..Al.. bangun dicariin Angga, tuh!” kata Mama Aldi sambil menggoyang-goyang tubuh anaknya.

“Hmm…” Aldi tak bergeming.

“Al.. Bangun, dicariin Angga,” kata Mamanya lagi.

“Angga siapa?” kata Aldi.

“Itu Angga,”

“Mama ngibul, ah!” wah nih anak parah, masak mamanya sendiri dikatain ngibul, bisa-bisa jadi Malin Kundang dia.

Akhirnya Mamanya mengibarkan bendera putih alias menyerah, kemudian Mama Aldi menyuruh Endruw masuk dan membangunkan sendiri temannya itu.
Endruw segera masuk kamar Aldi, melihat temannya yang masih lelap itu dia segera mengambil bantal dan membekap muka Aldi. Terang Aldi gelapapan.

“Apa-apaan sih?” umpat Aldi yang masih megap-megap.

“Apa-apaan…apa-apaan! Udah jam berapa, nih?” kata Endruw sambil menunjuk-nunjuk pergelangan tangannya yang tak ada jamnya.

“Mana kutahu, di kamarku nggak ada jam,” kata Aldi santai, merasa tak bersalah.

“Dah hampir jam sepuluh, tolol!”

“Hah! Kamu juga salah! Kenapa baru datang jam segini?” ujar Aldi yang memang berbakat ngeles.

“Udah nggak usah cerewet. Sana buruan mandi!”

“Ya, bentar,”

Aldi kemudian mengambil pakaian dan menuju kamar mandi. Selesai mandi mereka berdua minta ijin dan segera cabut, menuju tempat yang sudah disepakati rekan-rekan lainnya.
Aldi yang membonceng Endruw berkata pada temannya: “Ndruw, nih motor aman nggak? Kok kelihatannya parah gini?”

“Cerewet! Yang penting bisa jalan,” kata Endruw yang masih fokus dengan jalan di depannya. Sementara di belakang mulut Aldi komat-kamit membaca doa supaya selamat sampai tujuan.

Akhirnya doa Aldi terkabul, mereka berdua tiba dengan selamat di tempat yang sudah disepakati, di sana Roni sudah menunggu.

“Gimana sih, Bro! Nggak bisa lebih lama lagi?” kata Roni, yang berbadan besar dan berkulit gelap.

“Sori, Ron. Aldi nih, tadi dijemput masih molor,” kata Endruw dengan tampang tak berdosa.

“Wah, nggak bisa begitu, dong! Kamu sendiri datang ke rumahku jam berapa?” sahut Aldi membela diri.

“Ah, sudah! Sini kunci motornya kupinjam bentar, sekalian STNK.”

“Anak-anak belum datang?” tanya Endruw sembari menyerahkan kunci dan STNK.

“Bentar lagi mungkin,”

“Nah, anak-anak yang lain aja belum datang,” kata Aldi lagi. Dia memang nggak mau disalahkan.

“Anak-anak janjiannya kan jam sebelas, tolol! Kalian langsung masuk aja, main-main dulu,” kata Roni sembari mempersilakan mereka masuk. “Kayak biasa aja, ambil sendiri.”

Mereka memang biasa bermain band di rumah Roni yang kebetulan mempunyai peralatan band komplit. Terang aja komplit, dia buka usaha studio musik, sih!

“Aku cabut dulu, dah ditungguin lama.”

Roni segera menggeber motor Endruw menuju rumah ceweknya.

***

Rika, cewek baru Roni, sedang menunggu di depan rumahnya dengan muka mendongkol. Maklum, janjian sedari jam sembilan tadi, sampai jam sebelas lebih dikit kekasih tercintanya belum datang juga. Saat akan memasuki rumahnya tiba-tiba ada suara motor masuk ke halaman rumahnya. Saat menoleh dia melihat pangerannya datang, tapi pangeran itu tidak datang dengan kuda putih yang gagah dan indah tapi dengan motor model baru tapi kelihatan butut dan jauh dari kesan indah.

“Kamu gimana, sih! Sekarang sudah jam berapa coba?” maki Rika.

“Aduh, maaf, sayang. Yang punya motor tadi datangnya terlambat. Maaf ya, sayang,” rengek Roni sembari berlutut, memohon ampunan.

Melihat pengorbanan kekasihnya yang sampai rela meminjam motor butut entah dari museum mana, hanya untuk mengantarnya membeli buku membuatnya terharu dan melupakan kemarahannya.

“Baiklah, kali ini kumaafkan! Awas kalau terulang lagi!” ancam Rika.

“Terima kasih, sayang,” ucap Roni sembari berkaca-kaca terharu. Duh sampai segitunya, hehe…

Akhirnya mereka berdua memacu sepeda motor Endruw dengan hati berbunga-bunga. Kadang Roni sedikit menggoda pacarnya dan mereka berdua tertawa-tawa. Ah, memang nikmat bila dua anak manusia sedang dimabuk asmara.. tapi akankah kegembiraan ini akan berlangsung lama? Kita lihat saja nanti. Sekarang kita fokus dulu kepada anak-anak yang sedang berjingkrak-jingkrak ria di studio musik Roni. Di sana kini sudah berkumpul lima orang pemuda. Siapa saja mereka? Mari kita lihat lebih dekat. Selain Endruw dan Aldi ada tiga orang pendatang baru, yang pertama orangnya kecil agak gemuk dan berambut agak panjang, maklum anak SMA jadi nggak boleh terlalu panjang, nama si kecil ini Antra. Yang kedua adalah Anton, pemuda jangkung berkaca mata yang sedang memegang gitar, nama akrabnya London, kenapa London? Karena pernah suatu ketika dia memakai pakaian yang niatnya sih gaul tapi malah teman-temannya menganggapnya mirip Gay London. Selain itu, dia juga digosipkan pemilik AIG, tapi bukan AIG sponsor MU itu lho, tapi Anton Indo Gay hihihi.. lanjut, ada satu makhluk lagi yang perlu kita bahas, Fani, dia adalah salah satu teman yang sering dikunjungi rumahnya. Karena apa? Karena di komputernya tersimpan “gituan” yang bujubuneng… seabrek deh!

Suara cempreng Fani, plus betotan bass amburadul dari Antra, plus genjrengan gitar kacau dari Anton London dan Aldi, plus lagi gebukan drum yang liar dari Endruw membuat BYOB dari SOAD yang seharusnya nge-rock abis berubah menjadi nge-roll perut yang mendengarkan musik mereka. Tapi mereka tak peduli, mereka hanya ingin berhead-bang ria. Setelah puas akhirnya mereka berhenti sejenak, keringat mengucur membasahi sekujur tubuh mereka. Mereka berlima duduk-duduk di dalam studio itu dan minum untuk menghilangkan dahaga yang melanda.

“Eh, Ndruw. Motor kamu mana?” tanya Antra sambil mengelap keringat di dahinya.

“Dipinjam Roni, katanya buat nganter Rika beli buku,” jawab Endruw.

“Heh, serius? Roni gila juga mau pinjam motormu. Resikonya gede lho! Apalagi buat pacaran, wah nggak habis pikir,” sahut Anton London.

“Nggak tahu tuh, anak! Yang bisa dipinjam juga cuma motorku, motor kalian kan nggak bisa tadi.”

“Iya juga, sih. Emang tadi Roni jalan jam berapa?” tanya Antra lagi.

“Janjian sih jam sembilan tapi..”

“Kamu datangnya jam sebelas?” sahut Antra cepat.

“Hehehe..”

“Sudahlah paling juga cuma rantai lepas,” kata Endruw yang seolah tak mau ambil pusing.

“Yah kalau cuma lepas! Kalau mogok, terus bengkel jauh, dah gitu mendung gini, hujan turun deras. Dan aku yakin di jok kamu nggak ada jas hujan. Kalau hal ini sampai terjadi, wah, aku nggak bisa bayangin,” kata Aldi. “Tapi buat kamu kelihatannya ada manfaatnya, Ndruw.”

“Apa?” tanya Endruw penasaran.

“Motor kamu akhirnya ada yang menservis haha..”

Akhirnya tawa meledak di ruangan studio itu. Mereka bisa membicarakan nasib Roni sesuka hati, tapi bagaimana dengan nasib Roni sesungguhnya? Mari kita lihat. Roni baru menempuh setengah perjalanan menuju toko buku, tampak masih asyik bermesraan dengan kekasihnya tanpa menyadari bencana yang akan menimpa mereka.
“Lambat banget sih jalannya, Say? Nggak bisa lebih cepat? Keburu hujan, nih!” kata Rika.

“Oh, bisa, kok. Kukira kamu mau menikmati perjalanan kita berdua ini, Sayang,” jawab Roni yang sebenarnya takut untuk menggeber motor Endruw karena rem depan blong, rem belakang terlalu dalam. Dan Roni tahu Endruw kebanyakan lebih sering pakai sistem engine break. Tapi masak dia juga mau pakai cara yang sama dengan teman sablengnya itu.

“Ya, sudah cepat dikit, dong,” kata Rika dengan nada sedikit memerintah.

Akhirnya Roni membulatkan tekad untuk mempercepat laju motornya. Sementara hujan mulai turun sedikit demi sedikit.

“Ok!”

Saat bersiap menaikkan kecepatan tiba-tiba…. belp..belp..belp… motor itu sama sekali tak bertenaga dan mogok dengan sukses.

“Kenapa lagi?” tanya Rika setelah turun dari motor.

“Nggak tahu nih, mungkin bensinnya habis,” jawab Roni yang kemudian membuka jok sepeda motor dan melihat tangki bensin yang ternyata masih penuh.

“Masih penuh gitu!” kata Rika yang sudah mulai jengkel.

“Mmm. Mungkin busi,” kata Roni yang sudah mulai panik dan berkeringat dingin. Dia mencari pembuka busi di jok itu dan hasilnya nihil. Dia tambah panik ketika melihat juga tidak ada jas hujan di sana, padahal hujan sudah mulai turun.

“Jas hujannya nggak ada juga!” sahut Rika yang juga melihat kejanggalan itu. “Ya sudah aku pulang saja naik taksi! Beli bukunya batal!”

“Tapi say…”

“Tapi apa? Pinjam motor sih sah-sah aja, tapi lihat juga motornya dong!” kata Rika yang mulai mencari-cari taksi.

“Tapi..”

“Tapi apa lagi?”

“Tapi uangku kelihatannya nggak cukup buat servis nih motor nanti,” kata Roni memelas.

Rika memandang sebal pada cowoknya, tapi akhirnya dia luluh juga dengan pandangan mata Roni yang seperti Sinchan kalau memelas.

“Nih,” kata Rika memberi selembar seratus ribu. “Tapi besok balikin!”

Akhirnya Roni hanya melihat kekasihnya pergi meninggalkannya dengan taksi pilihan hatinya, hujan pun turun dengan deras mengguyur seluruh tubuhnya yang semakin menambah derita yang dialaminya. Saat melihat motor di depannya Roni hanya bisa berteriak:
“MOTOR SIALAAAAAN!!!!!!”


Nb: cerita ini adalah modifikasi dari cerita yang didasarkan dari pengakuan R yang dengan apes meminjam fu**in motorcyclenya Ap aka S dari negara gawok untuk pacaran, yang akhirnya si R dengan rela harus berjalan-jalan ria sambil menuntun sepeda motor S.

Selengkapnya...